
Dinar keluar kamar, ia menatap sekeliling mencari sang suami namun tak ia temukan, namun ia tak perduli karena ia bisa tebak jika tidak ke kantor pasti sang suami ada di lantai bawah, entah itu bekerja atau sekedar duduk santai.
"mungkin lagi di bawah sama mommy" Dinar lantas menuju meja riasnya kemudian mengaplikasikan skincare nya, setelah dirasa sudah semua, Dinar lantas beranjak pergi, ia ingin menghampiri sang mertua yang tadi juga pamit ingin membersihkan diri terlebih dahulu sebelum membongkar barang belanjaan mereka.
"mommy sudah belum ya, tungguin di dapur aja deh" Dinar tampak celingukan di depan kamarnya mencari sang mertua yang barangkali ada disana, namun ia tak mendapati ada orang disana, akhirnya ia memutuskan untuk langsung ke dapur.
Dinar berjalan pelan menuruni anak tangga, meskipun kakinya telah sembuh, ia juga tak ingin sembrono dengan berjalan cepat yang akan membuat kakinya kembali sakit, sesampainya di lantai dasar, Dinar segera berjalan menuju dapur, ternyata disana sang mertua sudah lebih dulu sampai dan tengah membongkar barang belanjaannya bersama bibi.
"sudah dari tadi disini mom? " tanya Dinar mendekat
"eh Din, enggak, mommy juga baru saja sampai. oh iya, tadi mbak Ayu telpon, katanya sore nanti mbak Ayu dan mas Beni sampai disini" ucapnya memberi tahu.
"loh, yang benar mom, kok ibu nggak ada bilang apa apa ya sama Dinar" Dinar nampak heran sebab ibunya tak menghubungi dirinya, malah menghubungi mertuanya.
"udah, tadi sudah sempet telpon kamu, tapi nggak kamu angkat, akhirnya jadi nelpon mommy"
"ah ya ampun aku lupa mom, hp ku ketinggalan di mobil" Pekik Dinar menepuk keningnya membuat mommy Citra jadi terkekeh.
"ya sudah nanti biar di ambilkan sama bibi"
Dinar lantas mengangguk, ia kemudian membantu sang mertua mengeluarkan barang barangnya, bukan, bukan sayuran atau pergadingan, tetapi hanya jajanan pasar yang ia bongkar, selain itu bibi lah yang membongkarnya kemudian menatanya di lemari es.
"Al nggak ke kantor ya Din? " tanya mommy Citra
"enggak deh kayaknya mom, tadi pas aku masuk kamar, mas Al ada disana lagi ngelamun, pas di tsuruh berangkat kerja, malah jawabnya sudah siangan ini, gitu " jawab Dinar.
"anak itu kebiasaan deh, suka sekali bolos ke kantor! " seru mommy Citra
Citra membantu sang mertua menata jajanan pasar itu di atas piring kemudian membagikan kepada seluruh pegawai di rumah itu.
Setelahnya Dinar menghampiri sang suami yang tengah duduk di kursi taman belakang dengan laptop di langkuannya. Dinar mendekat, keduanya tangannya kini tngah membawa nampan berisikan sepiring kue dan segelaa teh hangat.
"sedang apa? " tanya Dinar basa basi, sekarang ia ingin bersikap biasa saja seperti sebelum ia tahu fakta tentang suaminya yang masih menyimpan sang kekasih di hatinya.
"iya, tadi aku lihat kamu sangat serius, ya udah aku bawain kue yang aku beli tadi di pasar sekalian minumnya. oh iya mas, tadi kata mommy, ibu sama bapak sore nanti akan kesini naik bis, kita jemput mereka ya mas" ajak Dinar.
tadi setelah ponselnya di ambilkan oleh bibi, ia melihat beberapa pesan yang dikirim sang ibu, yang memberi tahunya bahwa nanti siang ibu dan bapak akan pergi ke Jakarta dengan naik bis.
tentu Dinar sangat senang, akhirnya ia dapat kembali bertemu dengan kedua orang tuanya setelah sebulan lebih mereka tak bertemu.
"makasih ya, nanti kira kira jam berapa sayang, kamu ingatkan aku ya, barangkali aku kelupaan" ucap Al
"iya, nanti kalau ibu udah ngabarin, aku kasih tahu kamu lagi mas"
setelah itu keduanya terlibat pembahasan yang mengarah ke pesta pernikahan mereka yang akan di gelar beberapa hari lagi.
"nanti jadi mas, para tetangga yang di undang bakalan di jemput ke kampung? " tanya Dinar.
ia masih tak percaya jika para tetangganya juga turut di undang oleh keluarga sang suami, bukan hanya di undang, mereka juga mendapatkan fasilitas berupa transportasi dan juga penginapan, dan rencana mereka akan menginap di salah satu hotel bintang lima, hotel milik keluarganya.
"iya lah sayang, mommy dan daddy sudah mengatur semuanya, mereka tinggal bawa pakaian ganti setelah itu semuanya telah terjamin" jawab Al
"apa nggak apa apa mas, maksud ku, yang di undang kan banyak, apa nggak butuh biaya banyak buat mereka semua? "
"hal itu tidak menjadi masalah sayang, yang terpenting kalian bisa berkumpul dan tetangga tetangga kamu bisa turut hadir menyaksikan pesta pernikahan kita" jawab Al lembut.
Dinar mengangguk, kemudian tak lagi berbicara.
"kenapa? " tanya Al yang melihat raut muka Dinar yang terlihat tidak ceria
"enggak ada mas, ya sudah mas lanjut aja kerjanya, jangan lupa itu camilannya di makan. aku tinggal dulu nggak apa apa kan, aku mau nyamperin mommy dulu, katanya sebentar lagi kak Bella dateng" pamit Dinar.
"ya sudah pergilah, nanti kalau kak Bella sudah datang, segera panggil aku ya" ucap Al.
"iya mas... " Dinar segera beranjak dari sana kemudian masuk kembali ke dalam rumah.