
Dinar duduk termenung di teras rumahnya, sudah hampir satu minggu dirinya berada di rumah kedua orang tuanya, bukannya tenang Dinar justru merasakan kehampaan di dalam hatinya, hari hari ia lalui hanya hanya dengan makan, tidur dan melamun, ia jadi bingung sendiri dengan keputusannya, seolah tengah menyesali keputusan untuk menenangkan diri di rumah orang tuanya.
berberapa kali sang suami datang untuk sekedar melihat keadaannya, namun dasarnya Dinar masih enggan untuk bertemu, akhirnya membuat Aldrich hanya berkunjung sebentar dan mengurungkan niatnya untuk menjelaskan kepada sang istri.
"siang siang kok ngelamun sih, pasti kangen sama suami kamu kan? " tanya sang ibu yang tiba tiba datang,
"siapa yang ngelamun sih bu, orang Dinar lagi ngelihatin bunga bunganya ibu kok" bohong Dinar
bu Rahayu duduk di kursi sebelah Dinar, ia mengelus kepala sang anak dengan penuh kasih sayang "ibu tahu kalau selama di rumah kamu sering kali melamun, kamu tak pernah seperti ini sebelum menikah dulu, saran ibu, lebih baik kamu pulang ke rumah mertua mu, selesaikan masalah mu dengan suami kamu nak, agar hubungan kalian kembali harmonis. cobalah dengan penjelasan suami kamu"
"Dinar terlalu egois ya bu? "
"ibu rasa kamu hanya tak ingin memperbesar masalah yang ada, kamu hanya ingin menjauh sebentar agar tidak ada ledakan di dalam rumah tangga mu karena kesalahpahaman yang terjadi.
tapi nak, ibu rasa sudah cukup kamu menenangkan diri, lebih baik kamu segera menyelesaikan masalah kamu dengan suami kamu.
terakhir kali nak Al datang, ia menjelaskan semuanya sama ibu, dan kini ibu mengerti yang sebenarnya terjadi, tapi ibu tak ingin mengatakan apa yang suami mu katakan pada ibu dan bapak, karena ibu tak ingin kamu berpikir jika ibu membela suami kamu. jadi lebih baik sekarang kamu kembali dan selesai kan semuanya dengan kepala dingin, ibu yakin kemarin hanya salah paham"
"apa tidak apa apa bu, aku masih belum yakin"
"tidak apa apa, nanti bapak sama ibu yang akan menemani kamu kembali ke kota"
"baiklah bu, besok Dinar akan kembali ke rumah mommy, Dinar juga tidak ingin masalah ini berlarut-larut"
"baiklah, nanti ibu bilang sama bapak supaya besok ngantar kamu ke kota"
"makasih ya bu, ibu tetap sabar menghadapi tingkah Dinar, padahal Dinar sudah menikah tapi masih saja merepotkan ibu" Dinar beranjak kemudian berjongkok di depan sang ibu, ia mengulurkan tangannya kemudian memeluk sang ibu dengan erat.
"kamu anak ibu, jelas ibu akan selalu ada untuk kamu nak" ucapnya sembari mengurai pelukannya
senyum terbit di antara keduanya, akhirnya Dinar mempunyai niat baik untuk kembali ke rumah mertuanya dan juga memperbaiki hubungan nya dengan sang suami.
***
Siang ini Luna mengajak sang putra, Leo. untuk berjalan jalan ke Mall setelah beberapa hari ini ia menyibukkan diri di toko bunganya dan jarang sekali pulang ke rumah orang tuanya.
sang putra begitu terlihat sangat bahagia, ia berlarian kesana kemari dengan tawa riang, Luna mengulas senyumnya ketika melihat putranya sangat bahagia, namun detik berikutnya senyum senangnya itupun perlahan surut ketika mengingat siapa ayah dari putranya itu.
'sedari kecil kamu tak pernah mengenal sosok ayah, egoiskah mama, jika mama tidak ingin mempertemukan kamu dengan papa kamu sayang' gumam nya dalam hati.
tak ingin berlarut dalam kesedihan, Luna mengajak Leo menuju ke tempat bermain agar Leo dapat dengan leluasa bermain tanpa mengganggu pengunjung yang lainnya.
lelah menemani Leo bermain, Luna berniat untuk mendudukkan dirinya pada kursi yang telah tersedia disana, namun ia urungkan niatnya ketika ia tak sengaja melihat wanita paruh baya yang nampak kebingungan.
Luna lantas meminta Leo untuk menyudahi bermainnya kemudian menghampiri wanita paruh baya itu.
"Leo sayang, sudah yuk mainnya, kita makan siang dulu"
pria kecil itupun lantas menghampiri sang mama tanpa adanya penolakan.
"mama... "
"kita makan siang dulu yuk" Ajak Luna sembari menggendong Leo, jika tak di gendong, maka Leo akan kembali berlarian disana.
"sebentar sayang, kita temui nenek itu dulu yuk" ujarnya kepada sang putra.
Leo yang paham ajakan mamanya pun mengangguk
"permisi, maaf bu, sepertinya anda tengah kebingungan, ada yang bisa saya bantu? " sapanya kepada wanita paruh baya yang ia lihat tadi, masih sama seperti pertama kali Luna lihat, wanita paruh baya itu tampak kebingungan, sesekali menoleh ke kanan ke kiri seolah tengah mencari seseorang.
"begini nak, tadi ibu bersama anak ibu hendak makan siang di salah satu restoran disini, tapi karena tadi ibu buru buru ke toilet ibu tidak sempat memberitahu anak ibu dulu, dan kebetulan juga kami melewati toilet ini jadi ibu langsung masuk saja, dan tadi anak ibu tengah menerima telepon, jadi sepertinya dia tak menyadari jika ibu belok ke toilet, sekarang ibu bingung harus mencari dia dimana, dan pasti anak ibu juga tengah kebingungan mencari ibu" wanita paruh baya itu pun menjelaskan dengan suara bergetar
hal itu cukup membuat Luna sangat takjub karena wanita paruh baya di hadapannya ini seperti seorang anak yang tengah kebingungan mencari ibunya
"benarkah" terlihat binar bahagia dari mata tua itu
Luna mengangguk, "mari bu saya antarkan... "
"nama kamu siapa nak? " tanya wanita paruh baya itu, saat ini mereka tengah menaiki eskalator menuju lantai dua
"ah iya, maaf tadi belum sempat berkenalan, saya Luna bu, dan ini putra saya Leo. kalau ibu, siapa namanya? "
"tidak apa apa, saya justru berterimakasih sama nak Luna, karena sudah berkenan membantu ibu, nama ibu Clara, nak Luna bisa memanggil saya tante Clara "
"putra kamu sangat tampan" lanjutnya
"baik... terima kasih pujiannya tante"
kini ketiga orang itupun telah sampai di lantai dua, Luna hendak mengajak tante Clara menuju salah satu restoran disana, namun langkahnya langsung terhenti manakala Luna melihat Abian tampak berlari ke arahnya.
"ibu... " teriak Abian
"astaga, ibu kemana saja, Bian cari cari ibu tadi, kenapa menghilang? " cerocoh Abian kepada sang ibu tanpa memperdulikan wanita di samping ibunya.
"maafkan ibu ya nak, tadi ibu ke toilet sebentar, ibu lupa memberitahu kamu, lagipula kamu tadi sedang menerima telepon"
"ya ampun, lain kali bilang sama Bian bu biar nanti Bian antar ibu ke toilet, janji jangan di ulang lagi ya"
"iya ibu janji nak, oh iya tadi ibu di bantuin sama nak Luna ini loh, anaknya baik banget, dia tahu kalau ibu kebingungan terus dia ngajakin ibu kesini" ucapnya memperkenalkan Luna pada putranya.
mendengar nama Luna, sesaat tu buh Abian mematung sejenak, sejurus kemudian langsung menoleh ke arah samping sang ibu, Abian keget ketika melihat Luna berada di sebelah sang ibu.
Luna yang sedari tadi terdiam menahan sesak di da danya pun mengulang senyum palsunya, "lain kali ibunya di jaga pak, kalau begitu saya permisi dulu, tante Luna duluan" pamitnya
"tunggu! " Abian langsung menahan Luna dengan memegangi pergelangan tangannya.
"aku mohon, beri aku kesempatan Lun"
"maaf" Luna hendak pergi, namun lagi lagi Abian menahannya.
"sekali ini saja, ikut aku, biar aku jelaskan semuanya, setelah itu terserah kamu, kamu ingin pergi lagi tak masalah"
sementara tante Clara tampak bingung menatap sang putra yang tengah memohon kepada Luna.
ia menduga duga ada sesuatu yang telah terjadi di antara keduanya.
"Bian, apa dia? "
"bu, dia Luna bu, dia wanita itu" lirih Abian memotong perkataan sang ibu
"Astaga, jadi... " tante Clara membekap mu lutnya tak menyangka jika dirinya akan bertemu secara langsung kepada wanita yang dulu sempat di rusak oleh putranya karena dendam masa lalu.
"lepas Bian... " pinta Luna.
"aku akan melepaskan kamu kalau kamu bersedia bicara dengan ku! " Serunya tak ingin di bantah
"baiklah, tapi setelah ini jangan janggu aku lagi" akhirnya Luna menerima ajakan Abian, lagipula jika dirinya menolak, sudah pasti di hari hari berikutnya Abian akan tetap sama seperti ini.
"baik, tapi aku tidak janji" putusnya
"bukan itu.. "
"ayo kita kesana" Abian segera memotong ucapan Luna, ia segera mengajak Luna beserta ibunya ke salah satu restoran mewah yang berada di mall tersebut.