
"Luna... " teriak Aldrich begitu ia sampai di depan gerbang rumah Luna.
setelah hampir kehilangan jejak, akhirnya Aldrich berhasil menyusul Luna, sebab mobil yang di kendarai Luna mengarah ke arah rumah lamanya.
Luna dan kedua orang tuanya yang hendak masuk pun urung karena mendengar suara teriakan dari luar gerbang, ketiganya menoleh ke belakang, disana telah berdiri Aldrich dengan berpegangan dengan pagar rumahnya bersama dengan security yang hendak mengusir Aldrich.
Luna terpaku, tak menyangka jika hari itu tiba, dimana ia akan ketahuan oleh Al dan bertemu langsung dengan pria itu.
Luna menutup bibirnya, tubuhnya bergetar hingga buliran bening keluar dari pelupuk matanya.
"dia datang ma, pa... " lirih Luna.
sama hal nya dengan Luna, mama Tia dan papa Irfan pun juga ikut kaget akan kehadiran Aldrich yang tiba tiba berada di depan pagar rumahnya, pasalnya hari ini adalah hari pernikahan pria itu.
mama Tia menatap sang anak "mungkin sudah wakunya kamu menjelaskan semuanya sama Aldrich nak, mama harap kamu bisa ikhlas menerima takdir kamu. ingat, kamu sekarang sudah ada Leo... " ucap mama Tia.
Luna mengangguk, ia mempertimbangkan ucapan sang mama yang mrmintanya untuk segera menyelesaikan masalahnya itu.
***
Di Hotel
para tamu undangan telah meninggalkan ballrom karena memang acara telah selesai dan kini hanya tersisa Dinar dan keluarga besarnya yang tengah menunggu kabar dari Aldrich yang tiba tiba menghilang.
Dinar duduk termenung di sebuah kursi tak jauh dari tempat duduk keluarga nya. ia mulai gelisah dan mulai tak yakin akan pernikahan yang baru saja ia dan sang suami bina, sebab jika melihat tindakan sang suami tadi, Dinar menyimpulkan bawasanya sang suami masih mengharapkan mantan tunangannya kembali pada dirinya, itulah pikir Dinar.
tak berselang lama kemudian tiba tiba ponsel Azzam berdering, ia segera mengangkat telepon dari orang suruhannya tadi di hadapan keluarganya, tak lupa ia mengeraskan panggilan suaranya.
"bagaimana? " tanya Azzam
ia sebenarnya ingin mencari keberadaan sang kakak, namun mengingat keluarga yang di dalam ballrom belum mengetahui jika sang kakak pergi dengan mengendarai mobil, maka ia urung untuk pergi, ia memasrahkan semua kepada bodyguard daddynya itu.
"tuan Aldrich sekarang berada di sebuah restoran bersama nona Luna, tunangan tuan Aldrich tuan muda. saya akan kirimkan alamatnya ke ponsel anda" jawab bodyguard di seberang sana.
"baiklah tetap awasi mereka" setelah itu Azzam memutuskan panggilan secara sepihak.
ia menatap keluarganya satu persatu, dapat ia lihat jika semua tampak terkejut terlebih sang mommy, ia nyaris pingsan ketika mendengar bahwa Luna, calon menantu nya di masalalu bersama putra pertamanya, itu berarti Luna masih hidup, lalu siapa yang di makamkan dengan nama Luna itu. begitulah sekiranya yang ada di pikiran mommy Citra
Dinar sendiri mematung setelah mendengar jawaban dari orang suruhan adik iparnya itu, berarti selama ini keraguannya memang mendasar, tunangan sang suami masih hidup dan kini ia kembali lagi. ia semakin ragu akan balasan cinta dari sang suami kepada dirinya.
Azzam mengangguk "Azzam juga baru tahu beberapa hari ini mom, sepertinya ada yang mereka sembunyikan dari kita sehingga dulu membuat berita bohong seperti itu"
"kamu tidak menyembunyikan sesuatu dari kami kan Zam? " mata mommy Citra menyelidik menatap sang putra dengan tatapan curiga.
"tidak ada mom, bahkan aku bingung apa motif mereka menyembunyikan hal ini, dan setelah tiga tahun lebih kemudian dia muncul lagi"
"sekarang mommy minta kamu selidiki semua masalah ini Azzam, mommy mengandalkan kamu! " serunya tegas.
"baik mom, Azzam akan mencoba mencari tahu semuanya" Azzam juga penasaran dengan tunangan sang kakak yang dulu di kabarkan telah meninggal dunia kini kembali lagi setelah sang kakak mendapatkan pengganti dirinya, ia takut jika kehadirannya akan menggeser posisi Dinar, kakak iparnya mengingat sang kakak begitu sangat mencintai wanita itu.
bu Rahayu mengelus lengan sang putri dengan lembut untuk menyalurkan kekuatan.
ia tak menyangka jika hari bahagia putrinya akan di rusak ulah suaminya sendiri, bahkan mereka merasa Aldrich tengah melempar kotoran ke muka mereka sebab meninggalkan putrinya di atas pelaminan sendirian.
"kamu baik baik saja nak? " lirih bu Rahayu menatap sang putri yang kini matanya sudah berembun
"sakit bu, da da Dinar sakit sekali rasanya" ucap Dinar bergetar hingga tanpa sadar ia memukul pelan da danya yang terasa sangat sesak.
"sudah, jangan kamu sakiti tu buh kamu nak, ibu tidak suka. kita belum mendengar penjelasan dari suami kamu, jadi jangan menelan mentah mentah berita yang ada, hm. "
"bu, aku ingin pulang saja ke rumah sama ibu, aku ingin menenangkan diri dulu" lirih Dinar.
meskipun lirih, semua keluarganya mendengar ucapan dari Dinar, mommy Citra yang sebelumnya masih berada di kursinya mulai bangkit dan menghampiri sang menantu.
"jangan sayang, kamu menantu mommy, pulanglah ke rumah utama" dengan sendu mommy Citra meminta Dinar untuk ikut pulang bersamanya.
"iya Dinar, kita juga belum pasti mendengar penjelasan dari Al. meskipun daddy juga syok mendengar berita ini, tapi alangkah baiknya kita tunggu sampai Al kembali dan menjelaskan tindakannya tadi"
Dinar bangkit kemudian berdiri di hadapan mertuanya "mom, Dinar izin untuk ikut ibu pulang ke rumah dulu boleh kan, hanya sebentar sampai hati Dinar merasa tenang, mommy pasti tahu alasan Dinar ingin pulang ke rumah ibu dulu, keraguan Dinar kini terbukti mom, dan Dinar hanya ingin menenangkan diri dulu"
meskipun sedikit berat akhrinya mommy Citra mengangguk, ia tak ingin sang menantu bertambah stres karena menghadapi sifat suaminya yang masih labil, biarlah dirinya pulang terlebih dahulu, nanti ia akan meminta Al untuk menjemputnya.
"baiklah, kamu boleh ikut mbak Ayu pulang ke rumah, tapi janji jangan lama lama disana ya, kamu harus secepatnya kembali ke kediaman utama" pesannya.
"Dinar usahakan mom, hanya sampai hati Dinar tenang dan kuat menghadapi suami Dinar"
terlihat sekilas jika Dinar hendak menghindari masalah di dalam rumah tangga nya, akan tetapi bukan itu alasan sebenarnya, ia hanya ingin menenangkan diri terlebih dahulu di kampung halamannya agar ia tak gegabah mengambil keputusan dan ia bisa lebih dewasa menyikapi masalah yang datang menerjang rumah tangganya.