OH MY WIFE

OH MY WIFE
69



Hari demi hari terus berlalu, tak terasa kini tinggal menghitung hari sampai acara pesta pernikahan Al dengan Dinar di gelar.


Disaat itu pula Dinar mencoba untuk membuang semua pikiran negatifnya dengan menyibukkan diri bersama penghuni rumah lainnya.


namun nampaknya Dinar masih memberikan jarak kepada sang suami, terbukti ketika beberapa kali Al mencoba untuk merayunya tetapi Dinar mencoba untuk mencari cari alasan agar sang suami tidak menyentuh dirinya.


Dosa memang jika ia menolak keinginan sang suami, namun saat ini hatinya masih merasa belum siap dan sanggup untuk menerima kenyataan jika sang suami masih memikirkan tunangannya dulu. ia ingin memastikan sekali lagi tentang perasaan sang suami yang sebenarnya terhadap dirinya.


Kini waktu sudah menunjukkan pukul 20.00 wib, namun Al tak kunjung pulang ke rumah. hal itu membuat Dinar terlihat sangat gelisah. padahal biasanya sang suami pulang pukul 16.00 wib, tapi kini sampai malam sang suami tak kunjung pulang, bahkan tak mengabarinya sama sekali.


Dinar kembali meraih ponselnya yang ia letakkan di atas nakas kemudian mencoba untuk menghubungi sang suami, tapi lahgi lagi hanya suara operator di seberang sana yang menjawabnya.


Dinar mendengus kesal, ia sebenarnya khawatir, mengingat Al yang tak biasanya pulang malam, dan bahkan tak mengabari apapun, tapi juga merasa jengkel dan kesal, ia pikir Al sedang bersenang senang di luar sementara dirinya harus terkurung di rumah besar itu


"kemana sih mas Al, tumben nggak ngabarin apapun! "


"ini lagi, kenapa setiap di telepon selalu saja mbak mbak operator yang ngejawab"


Dinar nampak mondar mandir di balkon kamarnya, kemudian ia teringat jika tadi Azzam, sang adik ipar sudah pulang, gegas Dinar keluar kamar kemudian mencari keberadaan Azzam yang ia lihat terakhir kali berada di ruang tengah.


"kenapa aku nggak tanya Azzam saja, siapa tahu dia mengetahui keberadaan mas Al" dengan semangat 45 Dinar berjalan menuruni anak tangga menyusul Azzam di ruang tengah.


sesampainya di ruang tengah dilihatnya ternyata sang adik ipar tengah memainkan ponselnya, Dinar mendekat kemudian duduk di sofa seberang Azzam duduk.


"eh kakak ipar, tumben belum tidur, nungguin kak Al ya? " tanya Azzam yang mengetahui jika kakak iparnya ikut duduk bersamanya.


"kamu tahu nggak mas Al kemana, dari tadi aku hubungi dia, tapi nggak di jawab jawab, nggak biasanya loh dia pulang terlambat, apalagi mommy sudah berpesan kalau mas Al dilarang lembur atau pulang malam, tapi hari ini kenapa sampai malam dia belum pulang ya? " tanya Dinar kepada adik iparnya.


"aku juga kurang tahu sih kak, soalnya tadi aku di kantor opa, jadi nggak ketemu kak Al. coba tunggu aja sebentar lagi, barangkali memang ada hal mendesak jadi dia pulang telat dan nggak sempet ngabarin. kalau udah ngantuk tinggal tidur aja nggak apa apa, kak Al juga pasti maklumin kok" jawabnya


"enggak, aku nggak ngantuk, malah kalau kayak gini mata aku tambah melek karena kepikiran" seru Dinar


"ish, kakak ipar mulai menunjukkan rasa perhatiannya sama kak Al nih yee" goda Azzam. sebab yang ia lihat hubungan kakaknya dengan kakak iparnya terlihat flat dan monoton karena mereka tidak memperlihatkan kemesraan nya atau mungkin memang mereka tidak pernah bermesraan.


"aku cuma khawatir terjadi sesuatu sama kakak kamu Zam, kan nggak biasa nya dia pulang telat" kini Dinar tak lagi menyebut Azzam dengan panggilan 'mas' meskipun usia Dinar jauh lebih muda dari Azzam. tentu hal itu sesuai keinginan Azzam sendiri dan yang lainnya dan Dinar hanya menurut saja.


"kakak ipar tenang saja, kak Al pasti baik baik saja kok, lebih baik kakak ipar kembali ke kamar biar aku yang menunggu kak Al disini sekalian mencoba mencari tahu dimana kak Al berada" ucap Azzam


"memang boleh begitu? "


"begitu gimana? " Azzam mengernyitkan dahinya heran


"maksudnya, apa boleh gitu aku tidur sementara suami ku belum pulang dari mencari nafkah? " tanya Dinar kembali memperjelas ucapan nya.


"ya boleh lah kak, sudah sana tidur nanti biar aku yang ngehubungin kak Al" tandasnya


setelah kepergian kakak iparnya, Al mengusap wajahnya kasar, ia kembali teringat tadi siang ketika hendak mengunjungi ruangan sang kakak, ia sempat mendengar nama 'Luna' beberapa kali di sebut oleh sang kakak, namun ia tak berani bertanya dan kini ia harus membohongi kakak iparnya mengenai kakaknya.


"apa benar kak Luna masih hidup? " lirih Azzam teringat Al meminta seseorang mencari tahu tentang keluarga Luna saat ini


sementara itu di tempat lain, terdengar suara musik menyala keras. Al sedang duduk di hadapan seorang waiters dengan gelas kecil di tangannya, sesekali terdengar suaranya kembali meracau tidak jelas.


"satu lagi.. " ucap Al menyerah kan gelas kecil itu kepada waiters.


Al sudah terlihat sangat ma buk, akan tetapi dirinya enggan menyudahi minumnya, bahkan dirinya dengan tegas menolak ajakan sang asistennya untuk pulang.


"pak Al sudah, anda sudah sangat mabuk, lebih baik kita pulang sekarang, saya akan mengantar anda pulang" asisten Al, bernama Soni yang kebetulan ikut Al masuk ke dalam club itupun merasa kasihan kepada bosnya yang terlihat sangat berantakan.


ia kemudian memapah Al setelah laki laki itu tak dapat menegakkan tubuhnya dengan benar, tak ada penolakan dari Al, karena dirinya benar benar sudah sangat mabuk, entah hal apa yang membuat seorang Aldrich menjadi seperti ini.


Soni memapah Al keluar dari club kemudian menuntunnya menuju parkiran mobil.


tak menunggu waktu lama, setelah selesai menidurkan bos nya di kursi belakang, Soni segera menyalakan mesin mobilnya kemudian melajukan mobilnya menuju kediaman Al.


kurang dari 30 menit Soni telah sampai di depan gerbang rumah bosnya, satpam yang kebetulan sedang berjaga melihat kedatangan mobil tuan mudanya pun secara langsung membukakan pintu gerbang kemudian mempersilahkan untuk masuk.


Sesampainya di pelataran teras, Soni segera mengeluarkan Al dari sana kemudian memapahnya menuju ke arah pintu, beberapa kali ia menekan Bel hingga muncul lah Azzam dari balik pintu.


"astaga, kenapa dengan kak Al Son? " tanya Azzam terkejut.


"saya juga kurang tahu tuan, tiba tiba tuan Al mengajak saya ke club kemudian beliau minum minum hingga mabuk seperti ini" jawab Soni dengan masih memapah Al.


"ya sudah sini biar aku yang bawa kak Al masuk, kamu pulanglah, bawa saja mobil kak Al untuk pulang, besok baru kamu jemput dia lagi kesini" ucap Azzam sembari meraih tu buh sang kakak yang sudah tak sadarkan diri.


"baik tuan, kalau begitu saya pemit pulang dulu. mari.. " pamit Soni sembari mengangguk.


tanpa basa basi Azzam langsung membawa sang kakak menuju kamarnya di lantai 2 dengan menaiki lift.


tok


tok


tok


"kakak ipar buka.. " teriak Azzam pelan dari luar kamar Dinar.


Dinar yang kebetulan akan tertidur pun mengurungkan niatnya kemudian segera turun dari ranjang dan menghampiri adik ipar yang memanggil dirinya


"ya Zam, ada ap... " ucapan Dinar terputus ketika baru saja membuka pintu, matanya langsung melotot melihat Azzam yang tengah memapah sang suami dalam keadaan mabuk, bahkan bau alko hol sangat menguar menusuk indra penciuman Dinar.