
setelah menunggu beberapa saat akhirnya Dani pun datang, dengan segera Al menyiapkan pesanan Dinar yang memang sejak tadi mengeluh jika dirinya lapar.
"silahkan dinikmati" ucap Al sembari menyajikan lalapan ayam goreng beserta nasinya
"terima kasih mas Al" ucap Dinar kemudian dengan cepat ia menyambar makannya.
setelah menyajikan pesanannya, Al di buat kaget karena sang adik, Azzam, datang ke warung tendanya. keduanya sama sama terkejut ketika tak sengaja kedua mata mereka bertabrakan. dengan saling menunjuk seolah olah mengatakan 'kamu disini?' keduanya terpaku sejenak.
dengan cepat Al menguasai diri kemudian menghampiri sang adik " sedang apa disini? " tanya Al ketika berada di depan Azzam dengan suara lirih
"cari makan lah kak, cari apa lagi, tadi tuh disuruh mommy beli pesanan Zura, katanya Zura pengen makan bebek goreng, ya sudah aku kesini, pesen 6 bungkus ya kak" jawab Azzam tak kalah lirih.
"ya sudah kakak siapin dulu kamu tunggu disini" ucap Al memberi perintah kemudian segera berlalu ke belakang. Azzam pun mengangguk kemudian memilih tempat duduk berseberangan dengan Dinar.
Di saat tengah menikmati makanannya, Dinar mendapati ponselnya berdering, dilihatnya disana ternyata sang ibu tengah menelepon, dengan segera ia menggeser layarnya untuk menerima panggilan teleponnya.
"assalamualaikum bu, " salam Dinar mengawali percakapannya.
"waalaikumusaallam nak, kamu gimana kabarnya nak? " tanya sang ibu.
"sehat bu, alhamdulillah.. tumben ibu telpon jam segini, biasanya kan habis maghrib baru telepon? " tanya Dinar
"ibu hanya mau ngabarin kamu kalau bapak tadi berencana kesana untuk ketemu sama kamu dan nak Al, tetapi belum sampai terminal bapak kecelakaan nak, tadi motornya di serempet sama truk....."
belum selesai ibunya berbicara, Dinar langsung memotongnya
"bapak gimana keadaannya sekarang bu. ya ampun kenapa pula bapak pengen kesini, kan dua minggu yang lalu ibu juga baru kesini kan, Dinar juga bilang kalau nanti bakalan pulang selepas gajian" cerocos Dinar menyela perkataan ibunya.
"kebiasaan kalau orang tua ngomong belum selesai main di potong saja, bapak baru saja pulang dari klinik ini nak, sekarang sudah di rumah. tadi kakinya luka karena tertimpa motor, tapi untungnya nggak sampai patah"
"kamu kalau sudah bisa pulang, pulang lah sebentar nak, ajak nak Al sekalian biar bapak bisa kenal juga sama pacarmu itu, kasihan juga bapak kamu tadi kepingin ketemu kamu sama nak Al, tapi belum juga sampai sana sudah dapat musibah saja" sambung Rahayu
"baiklah bu, nanti Dinar usahain cepat pulang, Dinar juga nggak tenang kalau belum lihat langsung bagaimana keadaan bapak" ucap Dinar.
"ya sudah ibu hanya ingin mengabari saja nak, kamu jangan terlalu memikirkan bapak, bapak baik baik saja kok, ibu hanya ingin kasih kabar saja, soalnya tadi bapak antusias sekali ketika hendak mengunjungi kamu dan nak Al, mungkin bapak pengen lihat calon mantunya nak, jadi ibu harap nanti kalau kamu pulang kamu ajak nak Al ya" ucap sang ibu.
"ba.. baiklah bu, Dinar usahain ya... " jawab Dinar terbata bata.
"ya sudah kamu hati hati disana nak, ibu tutup dulu teleponnya, Assalamualaikum "
huufftt
'bagaimana ini... ' gumam dinar lirih
Dinar kemudian beranjak, ia bahkan tak menghabiskan makanannya karena nafsu makannya sudah menghilang, ia memilih untuk mencuci tangannya kemudian berjalan menuju dapur, dimana Al dan Dani berada.
"mas Al" panggil dinar kepada Al yang tengah membuat minuman
"ada apa? " tanya Al menghampiri Dinar, sebab Al melihat gelagat aneh dari Dinar
"mas, bantuin Dinar sekali lagi bisa nggak? " tanya Dinar memelas
"bantuin apa? " tanya Al
"pura pura jadi pacarnya Dinar lagi" jawab Dinar
"apa? nggak salah dengar aku, memang nya ibu kamu akan datang lagi? " tanya Al terkejut
"enggak mas, bukan ibu tapi bapak. tapi akhirnya nggak jadi kesini karena bapak tadi terkena musibah, padahal kata ibu bapak kesini pengen ketemu sama mas Al" cicit Dinar, entah mengapa kali ini ia merasa segan terhadap Al, ia pun tak yakin jika Al akan bersedia ikut dirinya ke kampung untuk menemui orang tua nya.
melihat raut cemas dari Dinar, Al pun menjadi tidak tega, kemudian Al menyugar rambutnya kebelakang, ia menoleh ke arah Dani karena mau bagaimana pun disana Al masih memiliki tanggung jawab
"nggak apa apa mas, kalau mas Al mau ikut mbak Dinar pulang ke kampung, kasihan juga bapaknya mbak Dinar, nanti Dani minta bantu temen Dani aja buat bantuin jualan" seolah tahu dengan kebimbangan Al, Dani pun mengizinkan tanpa diminta secara lisan.
"makasih Dan" ucap Al
"baiklah aku akan ikut kamu pulang, kapan kita berangkat? " tanya Al menoleh ke arah Dinar
"minggu depan mas, karena Dinar masih harus izin cuti dulu ke pabrik jadi tidak bisa mendadak" jawab Dinar. Al pun mengangguk setuju
"nanti biar aku saja yang mencarikan kamu teman Dan, nanti aku yang akan memberikan dia upah, jadi kamu nggak perlu pusing mikirin penggantiku, cukup lakukan seperti biasanya saja" ucap Al
"baiklah kalau begitu, Aku nurut saja mas Al" ucap Dani menimpali.
hari itu Dinar tak henti hentinya mengucapkan terima kasih kepada Al sebab bersedia untuk ikut pulang ke kampung halamannya, ia bahkan memperlakukan Al layaknya seorang bawahan kepada atasannya, mulai dari Al yang hendak meraih lap meja, dengan cepat Dinar mengambilkannya, Al yang sedang menggoreng ayam, dengan cepat Dinar memberikan piringnya dan masih banyak lagi yang Dinar lakukan untuk Al. Padahal Al sudah melarang Dinar melakukan hal tersebut, tetapi Dinar seolah tak perduli perkataan Al dan dia tetap membantu Al hingga larut malam.