
Mengabaikan rasa terkejutnya, Dinar segera meraih tu buh sang suami kemudian memapahnya masuk ke dalam kamar, tentu dengan bantuan Azzam, sebab ia yakin jika dirinya tak akan kuat jika harus memapah sang suami sendirian.
Dengan perlahan lahan Dinar menjatuhkan sang suami di atas kasur kemudian mulai melepaskan sepatu serta dasi yang masih melekat di tu buh sang suami. setelah berhasil menidurkan Al di ranjang, Azzam pun pamit untuk kembali ke kamarnya.
"sudah selesai kakak ipar, aku ke kamar dulu ya, kalau ada apa apa panggil aku" pamit Azzam.
ketika hendak berbalik, Dinar tiba tiba memengang lengan Azzam, ia memberikan tatapan penuh tanya, kemudian menariknya keluar dari kamar.
"Zam, jujur sama aku, sebenarnya ada apa dengan mas Al, karena nggak biasanya loh dia mabuk kayak gini? " tanya Dinar, kini keduanya sudah berada di luar kamar
"emm.. aku juga kurang tahu sih kak, soalnya tadi asistennya kak Al nggak bilang apa apa"
"asistennya mas Al, Soni bukan? " tanya Dinar.
"iya si Soni kak, dia nggak bilang apa apa, hanya nganterin kak Al pulang terus pamit pulang, udah gitu doang"
"ya sudah kalau begitu makasih ya Zam, sekarang pergilah aku akan menemani mas Al di dalam" ucap Dinar kemudian segera masuk ke dalam kamar. Dinar sengaja tak bertanya terlalu dalam agar adik iparnya itu tidak curiga dengan keadaan rumah tangganya yang sedikit ada masalah.
Dinar mere bahkan tu buhnya di samping sang suami yang sudah tertidur lelap. ia menatap lekat wajah sang suami, tampan. itulah kata pertama yang menggambarkan sosok Al di mata Dinar. namun, kini dirinya merasa begitu jauh dengan sang suami karena dalam hati Al masih ada wanita lain, dan untuk kesekian kalinya Dinar mendapati kejutan dari sang suami, kejutan yang mmebuat hatinya kembali teriris, Al tiba di rumah dalam keadaan mabuk berat. Dinar yakin jika hal ini pasti ada hubungannya dengan tunangan Al yang dulu.
Keesokan paginya Dinar mulai menyiapkan perlengkapan kerja sang suami, mulai dari memilihkan setelan kerjanya hingga menyiapkan sarapan pagi untuknya.
Di dalam kamar Al perlahan mulai membuka mata, ia merasa saat ini kepalanya terasa begitu sangat sakit dan pusing, ia mencoba mengingat ingat kejadian kemarin, tapi bukannya teringat ia justru bertambah pusing.
"isshh... sebenarnya apa yang terjadi pada ku? " gumam Al
Al kemudian duduk dari tidurnya, mencoba kembali mengingat kejadian sebelumnya "tunggu tunggu, bukankah aku kemarin meminta Soni buat nganterin ke club ya. astaga, bagaimana ini, Dinar pasti kecewa melihat aku pulang dalam keadaan mabuk, ia pasti akan marah setelah ini. aku harus cari dia dan coba merayu nya agar tidak marah! "
Al langsung beranjak dari kasurnya kemudian keluar dari kamar, tujuannya saat ini yaitu dapur, karena setiap pagi sang istri selalu membuatkan sarapan untuk dirinya dan penghuni rumah lainnya bersama mommy Citra dan art nya jadi ia yakin jika Dinar berada disana.
dengan cepat Al berlari menuju lift kemudian menekan tombol menuju lantai satu, setelah sampai di lantai satu ia segera mencari keberadaan sang istri, namun disana hanya terlihat para Art yang tengah sibuk menata makanan di atas meja. sementara istri serta mommy nya tidak ada disana.
"bibi tahu istri ku dimana? " tanya. Al kepada salah satu Art nya.
"nona Dinar sedang pergi ke pasar tuan, baru saja dia berangkat bersama nyonya Citra" jawabnya.
"hahh... kok tumben sepagi ini bi, biasanya mereka pergi setelah selesai sarapan" ucap Al
"oh itu, sebenarnya tadi nona Dinar ingin pergi ke pasar sendiri tapi nyonya melarang sebab beberapa hari kedepan kan pesta pernikahan tuan dan nona, maka dari itu, nyonya menawarkan diri untuk mengantar nona Dinar dan nyonya bilang jika hari ini adalah terakhir kalinya nona Dinar ke pasar sebelum pestanya di gelar, dan hal itu membuat nona Dinar meminta untuk segera berangkat pagi agar ia bisa berlama lama di pasar tuan" jawab nya panjang lebar.
"kebetulan tadi nona Dinar sudah menyiapkan untuk anda, sebentar saya ambilak tuan" bibi kemudian pergi meninggalkan Al yang terlihat gusar.
bagaimana tidak, jika sang istri terlihat menghindari dirinya, meskipun tetap malakukan aktivitas seperti biasanya.
"pasti Dinar sedang menjauhi ku, pasti dia sangat kecewa melihat aku yang menyentuh barang ha ram itu"
sebuah tepukan di pundak menarik Al dari lamunannya, Azzam sudah berdiri di depannya dengan raut wajah bingung menatap dirinya.
"kenapa pagi pagi ngelamun kak? " tanya Azzam
"enggak, bukan apa apa, hanya masih mengantuk saja" bohong Al
"jangan berbohong, kau bahkan tidak pandai melakukan hal itu, ada apa kak, jujur saja. atau ini karena kakak yang tadi malam pulang sambil mabuk ya? " tebak Azzam yang tepat sasaran.
Al sontak melotot, bahkan sang adik mengetahui jika dirinya semalam mabuk.
"tahu dari mana kamu? " tanya Al, ia tak ingat jika semalam yang membawa dirinya masuk ke dalam rumah adalah sang adik.
Azzam mencebik "dih, lupa beneran apa pura pura lupa kak, kakak nggak nyadar kalau aku yang bawa kakak masuk ke dalam rumah setelah Soni nganterin kakak ke sini, untung aku kemarin nungguin kakak karena kakak ipar, coba kalau kakak ketemu mommy dan daddy, bisa di penyet pakai ulekan cabai kak Al sama mommy" sindir Azzam.
"seriusan, kok aku nggak ingat apa apa, dan apa tadi kamu nungguin aku karena kakak ipar, maksud kamu Dinar? memangnya dia kenapa? "
"ya iyalah, siapa lagi kakak ipar ku yang mau nungguin kakak, kak Gilang mah sudah sama kak Bella, jadi nggak mungkin nungguin kak Al"
"kasihan sekali kakak ipar ku itu, dia rela nggak tidur demi nungguin dan khawatirin suaminya karena belum pulang, eh ini si suaminya justru sibuk sama minuman ha ram sampai nggak inget istri di rumah yang lagi nungguin" sindir Azzam kemudian berlalu.
kejadian semalam membuat Azzam sangat malas kepada kakak laki lakinya yang tak dapat mengendalikan dirinya padahal dulu Al lah yang mengajari dirinya untuk tidak menyentuh minuman ha ram itu, tapi justru kini dirinya lah yang meminumnya.
Deg
perkataan Azzam seperti hantaman besar mengenai dadanya hingga mrmbuatnya terasa sesak. Al menatap nanar sang adik yang sudah berlalu menjauh dari pandangannya.
"ternyata aku seburuk itu memperlakukan seorang istri, hingga tak pernah ku sadari jika aku melukai hatinya" lirih Al dalam hati.
sementara bibi yang hendak memberikan air jahe untuk Al pun urung, ia meletakkan cangkir itu di atas meja kemudian meninggalkan nya.