
Setelah makan siang bersama, Aldrich lantas merapikan berkas berkas yang berserakan di meja kerjanya kemudian menyimpannya di tempan yang aman tak lupa ia juga memayikan komputer dan juga laptopnya yang sedari tadi masih menyala.
"kok di beresin mas, memangnya udah selesai? " tanya Dinar memandang sang suami yang sibuk berkemas.
"sudah sayang, lebih baik kita pulang saja atau kamu mau main kemana gitu? " tanyanya
Dinar lantas berpikir, "ke rumah mommy aja mas, udah hampir semingguan kita nggak kesana, aku kangen masakan mommy"
dari pada di rumah hanya menghabiskan waktu bersama sang suami saja, lebih baik ia mengajak ke rumah mertuanya saja sekalian menengok persiapan mommy Citra untuk pesta pernikahan Azzam dua minggu kedepan.
"baiklah, tunggu sebentar setelah ini aku selesai" Aldrich bergegas merapikan mejanya kemudian menyambar jas nya yang ia gantung pada stand hanger.
selesai, kini Aldrich menghampiri sang istri yang masih menunggu dirinya dengan sabar di sofa.
"ayo... " Aldrich mengulurkan tangannya ke arah sang istri
Dinar berdiri kemudian mengambil barang bawaan nya dan menerima uluran tangan sang suami.
"nanti mampir ke toko kue langganan mommy sebentar ya mas" pinta Dinar ketika keduanya mulai. melangkah keluar.
"iya sayang... "
***
Aldrich dan Dinar telah tiba di kediaman utama setelah aebelumnya sempat mampir ke toko kue untuk membeli kue kesukaan mommy dan daddy.
keduanya langsung masuk ke dalam rumah karena kebetulan pintu utama tidak tertutup sebab bibi tengah membersihkan teras rumah.
"mom, dad... " sapa Aldrich tatkala melihat kedua orang tuanya tengah duduk santai berdua dengan pandangan fokus menatap ponsel.
"loh Al, Din. kalian datang. kok nggak ngabarin dulu sih kalau mau kesini" mommy Citra beranjak dari duduknya kemudian memeluk sang menantu.
"gimana kabar kamu Din, nggak ada keluhan apa apa kan? " tanya mommy Citra
"alhamdulillah Dinar sama debay nya baik mom. dia nggak rewel sama sekali, sekarang juga mas Al udah nggak mual seperti minggu minggu lalu, alhamdulillah semua sehat" jawab Dinar. ia tak lupa menyalimi daddy Marcello.
sementara Aldrich, jangan di tanya dirinya dimana. pria itu sedang memberengut kesal sebab kedua orang tuanya bahkan mengacuhkan kehadiran dirinya dan lebih memilih menantu nya.
"ehemm... " Aldrich mencoba berdehem guna menyadarkan orang tuanya jika dirinya masih ada disana bersama mereka.
mommy, daddy dan Dinar lun langsung menoleb ke arah Aldrich "kenapa mas, keselek? " tanya Dinar.
"tidak! " singkatnya.
"dia sedang cemburu karena di anggurin" bisik mommy Citra kepada sang menantu.
"masak iya mom? "
"iyalah, paling dia merasa nggak di anggep, makanya caper" bisiknya lagi.
mommy Citra menggiring Dinar untuk duduk di sofa.
"ini kue untuk mommy sama daddy, kebetulan tadi pas mau kesini, mampir dulu ke toko langganan mommy" Dinar menyodorkan paperbag untuk mommy Citra.
"eh makasih sayang, tau aja kalau mommy pengen ngemi" mommy Citra lantas menerimanya kemudian memanggil bibi untuk menghidangkan di atas piring.
"bi... bibi.. " panggil nya.
"iya Nya" dari arah dapur salah satu art disana pun menghampiri mommy Citra
"bi tolong ini di bawa ke dapur terus taruh piring ya" mommy Citra menatap ke arah Dinar
"ini kue nya terlalu banyak, kalau mommy pasti nggak bisa ngabisin semuanya, boleh nggak mommy kasih beberapa ke art disini? " tanyanya.
Dinar terkejut mendengar ucapan mertuanya.
"ini kue kan memang buat mommy jadi terserah mommy mau di buat apa"
"ya sudah. makasih ya sayang"
"maaf ya bi, ini tolong taruh piring, dan itu bibi ambil satu box kuenya dan bagi bagiin ke yang lainnya ya" ucap mommy Citra
"baik Nya" akhirnya bibi pun berlalu menuju ke arah dapur untuk kenyiapkan kuenya.
sementara Aldrich kini tengah mengobrol dengan daddy Marcello membahas mengenai persiapan acara pernikahan Azzam.
***
Sore harinya Aldrich pun mengajak Dinar untuk pulang, setelah selesai berpamitan keduanya pun masuk ke dalam mobil.
"nanti sebelum acara Azzam, kita ke dokter kandungan lagi ya, sekalian pengen lihat debay nya juga" ajak Aldrich.
"boleh mas, kebetulan di minggu itu juga jadwalnya periksa"
15 Menit berlalu, keduanya telah sampai di pelataran rumahnya, mbak Wati yang mendengar suara mobil majikannya pulang pun bergegas membukakan pintu.
"tuan, nyonya... " sapanya sembari menundukkan kepalanya
"ini kue buat mbak Wati" ucap Dinar sembari menyerahkan paperbag untuknya.
"wah, terima kasih banyak Nya.. "
"sama sama mbak, ya sudah saya tinggal ke kamar dulu ya"
mbak Wati pun mengangguk setelah itu menutup pintunya kembali karena adzan maghrib telah berkumandang.