
Sepeninggalan Luna, Aldrich dan Dinar pun memutuskan untuk pulang, selain karena masih lelah juga karena keluarga besarnya tengah berkumpul dirumah utama.
"sayang, kamu inget nggak nama lelaki yang di sebutkan sama Luna tadi? " keduanya berjalan pelan keluar ruangan sembari bercerita. Aldrich nampak tak asing dengan nama orang yang di ceritakan oleh Luna.
"emm, siapa tadi, kalau nggak salah sih namanya Abian Ardianto, kenapa mas? " Dinar merasa aneh terhadap sang suami yang tiba tiba menjadi penasaran akan masalalu Luna, padahal tadi setelah Luna pergi meninggalkan keduanya, Aldrich tak mengatakan apapun padanya.
"Abian... Abian Ardianto, sepertinya namanya nggak asing deh" gumam Aldrich
"mas kenal? "
"entahlah. tapi mas juga punya rekan bisnis yang bernama Abian, ah iya, dia juga yang dulu sempat tabrakan sama kamu waktu di lampu merah, tapi apa iya Abian yang di maksud Luna adalah Abian rekan bisnis mas? "
"bisa jadi mas, kan tadi katanya mbak Luna, si Abian ini tahu kalau mas anaknya daddy"
Aldrich mengangguk, meski ia sedikit ragu, akan tetapi perkataan sang istri ada benarnya juga, namun ia tak ingin berburuk sangka sebab selama ia dan Abian menjalin hubungan bisnis, Abian tak pernah macam - macam dengannya.
tiba di luar restoran mereka melihat ada keramaian di pinggir jalan, membuat Dinar menjadi penasaran dan akhirnya mendekat bersama dengan sang suami.
"ada apa ini pak? " tanya Aldrich kepada bapak bapak yang juga berada disana. sementara Dinar menyibak kerumunan sebab ia juga penasaran dengan apa yang terjadi disana.
"ada kecelakaan mas, sepasang ibu dan anak" jawabnya yang membuat Aldrich langsung mematung, ibu dan anak, jangan sampai itu Luna dan putranya.
"mas, itu, itu disana... mbak Luna sama Leo mas... " tunjuk Dinar mendekat ke arah sang suami "mbak Luna kecelakaan"
deg
jantung Aldrich terasa di hantam batu besar, meski rasa cinta nya pada Luna telah tergantikan oleh sang istri, namun sebagai seorang teman yang dulu pernah membersamainya tentu kabar itu membuat Aldrich bertambah shock.
"mas... " panggil Dinar.
tak berselang lama kemudian mobil ambulans pun tiba dan langsung menggotong tu buh Luna dan juga Leo. Aldrich yang sempat terdiam pun kini mulai merespon sang istri yang terlihat begitu sangat khawatir.
"maaf sayang... " ucap Aldrich
"mas punya nomor keluarga nya mbak Luna? kalau punya lebih baik mas kabari mereka tentang keadaan mbak Luna saat ini"
Dinar terlihat begitu sangat panik, bahkan wanita itu tak terlihat egois sedikitpun dan bahkan memilih untuk meminta sang suami menghubungi mantan calon mertuanya.
Aldrich segera menghubungi nomor tante Tia dan juga om Irfan, namun panggilan darinya belum juga di angkat sehingga Aldrich memilih untuk menghubunginya nanti setelah mereka sampai di rumah sakit.
ya, setelah mencoba menghubungi kedua orang tua Luna tetapi gagal, Dinar meminta untuk di antar ke rumah sakit, selain karena khawatir, ia juga kasihan jika Luna dan Abian sendirian disana tanpa ada keluarga yang menemani mereka.
"mas coba telfon lagi deh siapa tahu sekarang bisa" ucap Dinar ketika mereka berdua telah sampai di parkiran rumah sakit
Aldrich mencoba menghubungi kembali, dan saat ini panggilannya telah tersambung.
"halo Al ada apa? maaf tadi om lagi di jalan sama tante dan nggak tahu kalau kamu telpon" sapa di seberang sana ketika panggilannya di terima.
"iya nggak apa apa om, Al hanya ingin memberi kabar jika saat ini Luna dan putranya berada di rumah sakit X "
"apa... bagaimana bisa berada di rumah sakit, bukannya dia sedang menemui kamu dan istri mu? "tanya om Irfan di seberang sana
"baik, om dan tante akan segera kesana. terima kasih sudah memberi tahu om"
"iya om, sama sama"
setelah beberapa saat menunggu, pintu UGD pun di buka, Aldrich dan Dinar yang masih duduk menunggu di depan ruangan pun segera bangkit dan menghampiri dokter disana.
"keluarga pasien? " tanya Dokter
"kami temannya dok, keluarganya sebentar lagi akan datang. bagaimana keadaan Luna dan putranya dokter? " tanya Aldrich
"'keadaan ibunya sudah stabil, sementara putranya, akibat pendarahan hebat kini kondisinya masih belum stabil, dan kami harus segera melakukan transfusi darah akan tetapi stok darah di rumah sakit ini sedang kosong tuan, kami sedang mengupayakan untuk mencarikan donor darah untuknya" jelas sang dokter
"kalau boleh tahu apa golongan darahnya dokter? " tanya Dinar
"AB+. dan kebetulan di rumah sakit kami masih kosong sebab golongan darah itu sedikit langka"
"astaga bagaimana ini? " gumam Dinar turut merasa kasihan akan nasib Leo
Dari arah luar, mama dan papa Luna berlari tergopoh gopoh menghampiri Aldrich dan Dinar yang baru saja selesai mengobrol dengan dokter, kini keduanya telah sampai di hadapan Aldrich dan Dinar.
"bagaimana keadaan Luna dan putranya? " tanya tante Tia dengan lirih. ada bekas sembab di matanya yang menandakan aanita itu baru saja menangis.
Aldrich kemudian menjelaskan mengenai kondisi Luna dan putranya, ia juga meminta tante Tia untuk mencarikan donor darah untuk cucunya sebab saat ini yang cucunya butuhkan adalah itu.
setelah mendengarkan penjelasan dari Aldrich, om Irfan pun langsung menghubungi seseorang, meskipun ia tak menangis, namun di lihat dari raut wajahnya jika beliau tengah merasakan kecemasan.
Dinar yang masih disana pun mencoba menenangkan tante Tia yang masih menangis sedari tadi sementara Aldrich memilih untuk pergi ke kantin untuk sekedar membelikan minuman untuk istri serta tante Tia.
"tante yang sabar ya, Dinar yakin Mbak Luna dan Leo akan segera sembuh"
"papa sudah menghubungi dan meminta dia untuk segera datang, siapa tahu golongan darah mereka sama. sekarang mama tenang dan perbanyak ddoa supaya Luna dan Leo segera sadar dan pulih" ucap om Irfan menenangkan sang istri.
tante Tia pun mengangguk, menyeka air matany kemudian menoleh ke arah Dinar "makasih ya sudah mengabari tante dan om, jika kamu ingin pulang sekarang tidak apa apa, biar Luna om dan tante yang menemani" ucapnya
"sama sama tante" ucap Dinar seraya tersenyum.
Aldrich datang dengan membawa beberapa botol air mineral kemudian mengulurkan kearah Dinar, tante Tia dan om Irfan. "minum dulu om, tante. supaya lebih tenang"
"terima kasih nak Al" ucap tante Tia.
tak berselang lama kemudian Abian datang menghampiri keempat orang yang masih menunggu Luna di luar UGD. Nafasnya tersengal sengal dengan raut muka yang teramat cemas
"om, tante, dimana Luna dan Leo? " tanya Abian.
"mereka masih di dalam, lebih baik kamu sekarang ke ruangan dokter sekalian ambil darah jika golongan darah kamu sama seperti Leo, agar nanti Leo segera di tangani" ucap om Irfan.
"baik om" Abian mengangguk sejurus kemudian bergegas menuju ruangan dokter yang telah di tunjuk oleh om Irfan, tanpa ia sadari jika sedari tadi Aldrich dan juga Dinar sama sama terkejut melihat jika Abian yang mereka kenal adalah Abian yang sama seperti yang tadi di ceritakan oleh Luna.