
Hari beranjak sore, Al yang baru saja membuka matanya terkejut mendapati dirinya berada di sebuah ruangan yang sangat kecil dan sederhana, namun tak lama keterkejutan itu akhirnya sirna setelah kembali mengingat hal yang terjadi sebelumnya.
"ya ampun, ku kira aku pindah alam" ucap Al lega
setelah dirasa kesadarannya sudah kembali pulih, ia segera beranjak dari kasur mengambil ponselnya yang ia letakkan di atas nakas, "ternyata aku tidur hampir dua jam, kenapa Dinar tak membangunkan aku ya" gumamnya setelah melihat jam yang ada pada ponselnya. ia pun bergegas keluar kamar untuk mencari keberadaan Dinar yang di rasa dia berada di warungnya.
dan benar saja ketika sampai di balik pintu Al mendengar suara Dinar yang tengah melayani pembeli, Al menjadi bimbang antara menghampiri Dinar atau tidak karena jika dirinya keluar maka orang orang yang ada disana akan melihat dirinya dan pasti akan banyak bertanya, tetapi jika dirinya tetap di dalam rumah dirinya merasa sungkan.
dan pada akhirnya Al memilih untuk mencari aman yaitu tetap berada di dalam rumah, dan akan mengirim pesan kepada Dinar saja.
Al segera memutar balik tubuhnya menuju sofa ruang tamu dan duduk disana, menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal sebab ia bingung harus bagaimana, di fikiran Al waktu itu bapaknya Dinar mengalami luka yang sangat parah sehingga tanpa tendeng aling aling dirinya menyetujui untuk ikut bersama Dinar pulang, namun setelah melihat semuanya dia menjadi tak enak sendiri.
ibarat nasi sudah menjadi bubur, Al yang sudah terlanjur di kampung halaman Dinar mau tak mau akan membaur bersama keluarga Dinar untuk beberapa hari kedepan.
"loh, sudah bangun nak Al" tiba tiba bu Rahayu datang dari luar menyapa Al yang tengah bergelut dengan pikirannya
"iya bu sudah, maaf ya tadi kelamaan tidurnya" jawabnya sungkan
"lah yo nggak apa apa nak Al, kan memang perjalanannya jauh pasti nak Al capek. oh iya tadi ibu sudah masak di dapur, kalau nak Al lapar langsung aja ke dapur ya, nggak usah sungkan dan anggap saja ini rumah nak Al sendiri" Al semakin sungkan kepada wanita seusia mommy nya itu, bagaimana tidak, jika dirinya di sambut sangat baik oleh orang tua Dinar, sementara dirinya disana hanya membawa kebohongan yang di ciptakan Dinar dan dirinya
"iya bu, saya masih kenyang kok, oh iya apa Dinar dari tadi di warung bu? " tanya Al
"iya tadi dia bantu bapak di warung, tapi alhamdulillah nggak sampai malam dagangan bapak sudah habis, itu si Dinar lagi beresin warung kamu kesana saja nggak apa apa, udah sepi juga kok warungnya" jawab bu Rahayu kemudian berjalan ke arah dapur sembari membawa baskom yang ia bawa dari luar tadi.
"assalamualaikum..." salam Al ketika memasuki warung
"waalaikumusaallam, sudah bangun nak Al? " bapak yang sedang membersihkan gelas menghampiri Al
"sudah pak, maaf tadi saya tidak ikut membantu berjualan" ucap Al
"ya nggak apa apa nak Al, bapak maklum karena memang tadi kata Dinar nak Al sempat mabuk, oh ya nak Al duduk disini ya, bapak buatin mie ayam" seru pak Beni meminta Al untuk duduk
"bukannya tadi ibu bilang kalau mie nya sudah habis ya pak? " tanya Al
"tadi bapak sisihin buat kamu sama Dinar, jadi kalau untuk yang beli memang sudah habis tapi kalau buat kamu masih ada, ya sudah kamu duduk disini saja biar bapak buatkan" ucap pak Beni kemudian beranjak menuju gerobak mie nya.
sementara itu Dinar yang sedang merapikan mangkuk dan mengelap gerobak hanya terdiam saja, ia bahkan lupa jika Al ikut bersama nya, tak berselang lama sang bapak menghampirinya kemudian memintanya untuk membuatkan Al mie ayam.
"jangan melamun aja, itu buatin nak Al mie ayam, buat kamu juga sana, kasihan kalau harus nunggu lama" seru bapak menyenggol lengan sang anak
"eh, iya pak.. "jawabnya singkat.
dengan cepat Dinar menyiapkan pesanan bapaknya, kurang lebih 10 menit mie ayam telah siap di atas mangkuk, dua mangkuk mie ayam dan es jeruk telah berada di atas nampan, Dinar segera membawanya pada Al agar segera di makan, sementara sang bapak memilih untuk kembali ke rumah sebab warung sudah selesai di bersihkan.