
Pagi ini Dinar mela jukan mo tornya dengan kece patan di atas rata rata. kejadian beberapa saat yang lalu ketika ia bersama dengan Al membekas di dalam hatinya hingga membuat ia memilih duduk termenung di atas motornya sebelum berangkat kerja. namun ketika ia melihat jam yang berada dalam ponselnya, ia terkejut karena waktu yang ia punya untuk berangkat kerja sangat mepet hingga mau tak mau Dinar harus menekan gas nya lebih dalam.
sampailah di sebuah perempatan lampu merah, bukannya mengurangi kecepatan laju motornya, Dinar justru mengegas lebih dalam hingga ia tak melihat jika lampu yang sebelumnya berwarna hijau sudah beralih ke warna merah.
Tak disangka dari arah kanan, tiba tiba datang sebuah mobil berwarna hitam dan langsung mena brak Dinar yang saat itu tengah melaju kencang.
Brak
Ta brakan tak terelakkan lagi, Seketika Dinar langsung terjatuh hingga tertim pa motornya. Pandangannya terasa gelap kemudian ia langsung pingsan.
Sedangkan keadaan mobil yang mena brak Dinar pun ring sek di bagian depan. Supir serta penumpang yang berada di belakang pun syok, kemudian segera keluar untuk melihat keadaan Dinar.
"Astaga, bagaimana bisa dapat musibah sepagi ini" seorang pria dengan pakaian rapi tengah mengatur nafasnya yang memburu sebab ia juga terkejut dengan insiden pagi ini, walaupun keadaannya baik baik saja.
"Maafkan saya pak Abian, tadi motor itu melaju kencang, padahal semestinya lampu di seberang sudah berganti warna" Ucap supir kepada majikannya dengan nada bergetar
"Sudahlah pak, lebih baik kita turun sekarang, saya khawatir dia tak selamat, saya juga tahu kalau pengendara tadi melaju cepat " ucap Abian menenangkan sang supir
Keduanya turun dari mobil kemudian mendekat ke arah Dinar yang tak sadarkan diri, Abian segera mendekat ke arah Dinar kemudian mengecek denyut nadinya. sedangkan beberapa orang tadi tadi mengerumuni Dinar pun salah satu berinisiatif untuk memanggil ambulans
'syukurlah masih ada ' gumam Abian dalam hati.
Tak berselang lama kemudian mobil ambulans datang. Dinar yang masih tergeletak di aspal pun langsung di angkat ke atas brangkar kemudian di masukkan ke dalam mobil ambulans dengan ditemani Abian dan supirnya.
Sedangkan motor Dinar dan mobil Abian telah di amankan pihak polisi dengan di derek.
Karena insiden ta brakan itu, membuat jalanan semakin macet karena harus menunggu beberapa saat kedatangan ambulan dan juga pihak polisi.
10 menit kemudian mobil ambulans telah sampai di rumah sakit swasta terdekat. dengan cepat Dinar di turunkan dari mobil kemudian di larikan ke ruang UGD.
"Maaf tuan, anda di larang masuk, silahkan tunggu di luar dan mengurus administrasi nya" ucap salah satu perawat mencegat Abian yang hendak masuk menemani Dinar.
"Baik sus" Abian langsung berbalik arah kemudian dengan segera mengurus administrasinya. Sedangkan sang supir yang masih syok pun hanya duduk diam di depan ruang UGD.
Abian telah selesai mengurus administrasi Dinar, untung saja Dinar membawa KTP sehingga Abian dengan mudah mengurus administrasi nya.
"Pak Amin ada yang terluka?" Tanya Abian mendekat ke arah supirnya, pasalnya supirnya itu sedari tadi hanya diam saja.
"Tidak ada tuan, saya hanya masih syok saja. Saya takut wanita itu tak selamat, saya takut di penja ra tuan" pak Amin menunduk mere mas jari jemarinya
"Pak Amin tak sepenuhnya bersalah jadi tak perlu secemas itu, yang perlu pak Amin lakukan sekarang adalah mendoakan gadis itu agar dia bisa segera sadar" ucap Abian menenangkan.
Bagi Abian, pak Amin bukan hanya seorang supir melainkan keluarga, sebab dulu ketika ia tak mendapati kasih sayang dari orang tuanya, pak Amin lah yang mengulurkan tangannya kemudian memeluknya dengan penuh kasih sayang.
Kini saatnya Abian bergantian menenangkan pak Amin yang tengah ketakutan karena insiden tadi.
Tak berselang lama kemudian pintu ruang UGD di buka, dokter keluar kemudian menghampiri Abian.
"Bagaimana keadaannya dok, apa sudah siuman?" Tanya Abian
"Baiklah dok, lakukan yang terbaik untuk dia supaya bisa segera sembuh" ucap Abian
"Saya usahakan tuan, kalau begitu saya permisi dulu, setelah observasi selesai pasien bisa di pindahkan di ruang inap" pamit dokter kemudian melangkah pergi.
Setelah mendengar penjelasan dari dokter Abian dan pak Amin pun bernafas lega, setidaknya Dinar dalam kondisi yang stabil meskipun cidera.
"Pak Amin dengar sendiri kan, Dinar sudah stabil meskipun sekarang mengalami cidera, setidaknya dia sekarang tidak kritis, jadi pak Amin tenanglah" ucap Abian.
"Iya tuan, saya sedikit lebih lega setelah mendengar kabar dari dokter. Lalu bagaimana dengan mobil tuan yang rusak" tanya pak Amin, pasalnya mobil tuannya juga ring sek dibagian depannya
"Tak usah di pikirkan, nanti bisa perbaiki lagi. Lebih baik sekarang pak Amin pulang saja dan beristirahat biar saya yang menemani Dinar disini" ucap Abian
"Tidak tuan, saya tidak enak jika membiarkan tuan disini sendirian, saya akan menemani tuan disini" seru pak Amin
Abian mengangguk "baiklah, terima kasih pak Amin."
Abian kembali teringat jika sedari tadi keluarga Dinar belum ada yang di hubungi, ia lantas melihat tas Dinar yang kebetulan tadi ia bawa ketika Dinar masuk ke dalam ruangan UGD. Abian lantas mengambil ponsel Dinar kemudian mencoba menyalakannya, ternyata ponselnya aman dan tidak di kunci. ia segera mencari nomor keluarga Dinar, di bukanya aplikasi pesan kemudian pesan paling atas dari "Al suami ku", Abian segera melihat nomor tersebut kemudian berjalan ke arah resepsionis dan meminta pihak rumah sakit menghubungi orang tersebut.
"mbak saya boleh minta tolong? " tanya Abian ketika sampai di depan resepsionis
"boleh pak, ada yang bisa kami bantu? " tanya resepsionis
"saya minta tolong anda menghubungi nomor ini dan mengabari jika pemilik ponsel ini sedang di rawat di rumah sakit ini karena kecela kaan, bisa? "
"bisa pak, sebentar saya telpon kan dulu" ujarnya kemudian segera menelepon nomor tersebut.
tut tutt
"halo..."
"apa benar ini dengan pak Al? " tanya resepsionis tersebut
"iya benar"
"kami ingin memberitahukan bahwa bu Dinar, baru saja mengalami kece lakaan dan sekarang sedang di rawat di rumah sakit mawar pak"
"apa? " secara spontan Al berteriak karena kaget
"maaf, baiklah saya akan segera kesana, terima kasih informasinya"
tutt tuutt
"sudah selesai pak, pak Al akan segera datang ke rumah sakit" lapor resepsionis kepada Abian.
"terima kasih mbak" ucap Abian kemudian kembali menghampiri pak Amin yang masih menunggu Dinar di depan ruang UGD