OH MY WIFE

OH MY WIFE
120



Sesampainya di kediamannya, Aldrich dan Dinar pun memutuskan untuk langsung mandi kemudian di lanjut untuk istirahat karena kebetulan hari juga belum terlalu sore.


"kamu mandi dulu aku buatin kamu su su hangat" Aldrich segera beranjak dari duduknya melangkah keluar kamar, sementara Dinar hanya mengangguk kemudian segera mandi sesuai perintah sang suami.


semenjak mengetahui sang istri hamil, Aldrich semakin overprotective dengan apa saja yang di lakukan sang istri, apalagi dengan keadaannya yang tidak bisa berjauhan dari sang istri membuat dirinya dengan mudah mengawasi setiap kegiatan yang di lakukan istrinya itu.


seperti hari ini, setelah lelah di perjalanan, bukannya istirahat dirinya memilih untuk membuatkan minuman untuk ibu hamilnya itu.


"sudah selesai, ini di minum dulu" Aldrich telah selesai membuat su su hangat dan sedang menunggu sang istri yang masih mandi.


"makasih ya mas" Dinar menghampiri sang suami kemudian menerima gelas yang di berikan padanya.


"habiskan"titahnya. Dinar mengangguk patuh kemudian segera meminumnya.


setelah memastikan sang istri menghabiskan minumannya, kini giliran Aldrich yang akan mandi sebab badannya sudah terasa lengket, sementara Dinar memilih untuk memainkan ponselnya.


***


Hari hari dijalani pasangan baru itu dengan harmonis, Aldrich yang memang masih sering mual dan pusing ketika berjauhan dari sang istri pun memilih membawa sang istri turut serta ke kantor sementara waktu sampai mualnya hilang, dan sementara untuk butik akan di handle oleh bawahannya.


"hari ini aku ikut ke kantor lagi mas? " tanya Dinar, pasalnya sudah dua mingguan ini dirinya setiap hari harus ikut sang suami ke kantor, ia merasa bosan berada disana meskipun semua keinginannya terpenuhi disana.


"kenapa? " tanya Aldrich, keduanya baru saja selesai sarapan pagi dan masih memilih untuk duduk di ruang makan.


"aku pengen ke butik mas, sudah dua minggu aku nggak kesana, kangen sama mereka" jelas Dinar


Aldrich tampak terdiam, ia berpikir jika ia terlalu mengekang sang istri hingga ruang geraknya jadi berkurang. namun kala ia teringat akan mualnya, ia juga bimbang.


"baiklah, untuk hari ini kamu boleh ke butik, tapi hanya sebentar dan nggak perlu bantu bantu disana, setelah itu kamu langsung pulang ya" Aldrich tak ingin egois, pria itu juga ingin memberikan kebebasan untuk sang istri, apalagi saat ini tengah mengandung, hal itu akan mempengaruhi kehamilannya jika istrinya kurang nyaman.


"makasih ya mas. Dinar janji nggak bakal kecapekan dan segera pulang" cup satu kecupan mendarat di pipi kiri sang suami.


"eh... "


"tanda terima kasih" ucap Dinar sembari tersenyum senang.


Keduanya berangkat bersama, dengan Aldrich yang mengendarai mobilnya sendiri menuju butik sang istri.


setelah mengantarkan sang istri, Aldrich kembali melajukan mobilnya menuju kantor yang jaraknya hanya beberapa belas menit dari butik.


namun meski begitu ia tetap memaksakan agar tidak menjadi suatu kebiasaan yang akan membuat snag istri menjadi terganggu.


setelah merasa lebih baik, Aldrich pun mulai masuk ke dalam ruangannya, ia percaya dan yakin jika dirinya mampu menahan semua rasa yang menyerang dirinya nanti.


waktu menunjukkan pukul 11.30 wib.


Di dalam ruangannya Aldrich masih berkutat dengan layar monitornya sembari sesekali berbalas pesan dengan sang istri.


ia kemudian menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, ia lantas termenung.


"kenapa sampai sekarang mualnya nggak datang datang ya, apa aku sudah baik baik saja? "


"ini juga biasanya lemes banget tapi hari ini biasa saja, mungkin memang aku sudah sembuh"


Aldrich tersenyum senang karena kini ia sudah tak mual lagi, jadi ia tak akan mengganggu aktivitas sang istri.


Ia meraih ponselnya menghubungi sang istri untuk memberi tahu jika dirinya telah sembuh, namun, baru ia menempelkan ponselnya di telinganya, pintu ruang kerjanya di buka dari luar.


"mas.... Ada apa? " Dinar masuk sembari menenteng tas bekalnya.l di tangan kirinya sementara tangan kanannya memegang ponselnya.


"sayang... baru saja aku ingin memberitahu kamu kabar bahagia eh udah dateng kesini aja. sini" Aldrich menepuk pa hanya meminta sang istri mendekat dan duduk di pangkuan nya


"Ada apa? " tanya Dinar. wanita itu duduk di pangkuan sang suami.


Aldrich mengelus pelan pe rut sang istri "tahu nggak, selama beberapa jam berjauhan dari kamu, aku udah nggak mual lagi, itu tandanya aku sudah sembuh. makasih ya sayang, selama beberapa minggu ini sudah berkenan ikut aku ke kantor setiap hari" ucap Aldrich


"serius mas? " tanya Dinar, ia begitu sumringah mendengar kabar baik itu dari sang suami


"hu um. semua berkat kamu sayang. makasih ya"


"Alhamdulillah, akhirnya kamu sembuh mas. ya sudah yuk kita makan siang bareng, kebetulan tadi aku masakin banyak menu buat kamu" Dinar beranjak dari duduknya, menyambar bekalnya dan membawanya menuju sofa.


"kamu masak? kan udah aku bilang untuk diam saja, nggak perlu masak segala. nanti kalau kamu kelelahan bagaimana? " tanya Aldrich. pria itu mengikuti sang istri dari belakang


"aku bosen diem terus mas. lagipula si baby juga kuat kok, malah aku jadi lebih bersemangat setelah selesai memasak" Dinar membuka satu persatu kotak bekalnya. disana ada nasi beserta lauk pauk dan juga sayurnya.


"dasar bumil... " gerutu Aldrich. pria itu memilih diam dan duduk di samping sang istri.