
Siang ini Dinar bersama sang ibu tengah memasak beberapa macam menu untuk makan siang sedangkan Al sedari tadi pagi selepas sarapan memilih ikut bapak mertuanya ke kebun untuk melihat tanaman yang di tanam oleh pak Beni yang katanya akan segera di panen.
"sudah matang semua, kamu ambilkan rantang di lemari atas nak "
"buat apa bu? " tanya Dinar
"lah kamu ini, ya buat ngirim makan siang bapak dan suami mu toh, mereka sepertinya agak sorean pulangnya, kan bapak hari ini nggak jualan" jawab sang ibu.
"iya juga ya.. " gumam Dinar
akhirnya Dinar mengambil rantang yang berada di dalam lemari atas, kemudian segera mengisi makanan ke dalamnya.
"sudah segini cukup ya bu? "
"iya itu sudah cukup, jangan lupa bawa air juga. habis itu baru berangkat"
"siap bu"
setelah perbekalan siap, Dinar pun berpamitan dengan sang ibu kemudian berangkat menuju kebun. jarak antara kebun dengan rumah yang tak terlalu jauh membuat Dinar memutuskan untuk berjalan kaki saja.
baru beberapa langkah keluar dari rumah, ia sudah mendapatkan cibiran dari tetangganya, siapa lagi kalau bukan Mila. teman sebayanya yang tak pernah menyukai Dinar.
"eh ada pengantin baru, kok udah keluar rumah aja sih kan baru kemaren nikahnya. Oh iya lupa. kan, nikahnya karena di paksa warga jadi pasti nggak kerasa kalau masih pengantin baru" sindirnya.
Mila selalu saja seperti itu, hal ini berawal dari kedua orang tuanya yang selalu membandingkan dirinya dengan Dinar, karena Dinar lebih unggul dari pada dirinya di sekolah. sehingga membuat Mila menjadi membenci gadis itu. kini Mila begitu sangat bahagia sebab Dinar saat ini berada jauh di bawah nya, mulai dari pekerjaan hingga pasangan hidup.
"sudah ngomongnya, kalau sudah, bye... " ketus Dinar kemudian segera berlalu.
sumpah demi apapun Dinar merutuki kelakuan Mila yang sedari sekolah selalu mengusik dirinya. kini Dinar bertekad untuk melawan jika kedepannya Mila masih mengganggu dirinya lagi.
"eh kok marah sih, pengantin baru kan seharusnya bahagia, bukannya marah marah begitu" teriak Mila karena Dinar sudah berlalu.
Dinar tak memperdulikan teriakan Mila, ia terus berjalan menuju kebun untuk segera memberikan makan siang untuk bapak serta suaminya. daripada mendengarkan ocehan Mila lebih baik Dinar mempercepat langkahnya agar segera sampai.
"pak, mas Al.. ini Dinar bawakan makan siangnya" ucap Dinar ketika sampai di kebun. di lihatnya ternyata bapak dan suaminya tengah duduk di gubuk kecil, tengah beristirahat.
"lho.. kamu datang nak, ini tadi bapak sama nak Al rencana mau pulang buat makan siang, dan sorenya balik lagi" ujar pak Beni
"tadi ibu nyuruh Dinar ngirim bekal buat bapak sama mas Al, ya udah ini makan saja dulu pak, setelah itu baru kita pulang "
"ya sudah, kita makan siang dulu saja habis itu baru pulang" Dinar segera membuka rantangnya kemudian memberikan kepada pak Beni dan Al
"kamu nggak makan Din? " tanya Al melihat Dinar hanya diam saja
"em.. enggak mas, aku makan nanti di rumah, itu memang buat bapak sama mas Al saja" jawab Dinar
"tapi, "
"udah nak, nurut apa kata suami.. " sahut pak Beni memotong ucapan putrinya.
"baiklah..." akhirnya mau tak mau Dinar duduk di samping sang suami kemudian mulai makan berdua .
satu jam kemudian, mereka bertiga memutuskan untuk pulang ke rumah sebab siang ini matahari begitu terik. sesampainya di rumah Dinar segera menuju ke dapur sedangkan Al memilih untuk segera mandi.
tak berselang lama kemudian Al telah menyelesaikan mandinya kemudian segera mengambil ponselnya yang ia letakkan di meja dekat tv.
dahinya mengernyit kala melihat ada beberapa panggilan masuk dari adiknya, Azzam.
"bukankah ia tahu kalau aku sedang berlibur, kenapa banyak sekali panggilan masuknya" gumam Al kemudian segera menelepon balik sang adik. ia jadi khawatir sebab tak biasanya Azzam menelepon dirinya berulang kali jika tidak ada masalah serius.
tuutt
tuutt
"halo kak, kau kemana saja sih, kenapa ponsel mu tidak bisa di hubungi? " belum sempat Al memberi salam, sang adik langsung mencercanya dengan banyak pertanyaan
"kan aku sudah bilang kalau aku lagi bersama teman teman ku. memangnya ada apa sih, sepertinya penting sekali? " tanya Al
"haishh kau ini kak, oh iya, aku mau kasih kabar kalau opa sekarang di rawat di rumah sakit, kapan kakak pulang? opa nanyain kakak dari tadi? " tanya Azzam
"apa? " Al terkaget mendengar berita mengenai opanya yang tiba tiba berada di rumah sakit sebab yang ia tahu beberapa hari yang lalu opa nya masih berada di luar negeri
"kok bisa, bukannya opa masih ada di luar negeri? " tanya Al
"opa dan oma udah pulang ke Indonesia sejak beberapa hari yang lalu, kakak saja yang kurang perhatian sama opa dan om, sampai sampai mereka pulang pun kakak nggak tahu
sudah sudah, kapan kakak pulang? " tanya Azzam
"hari ini juga kakak akan pulang, bilang juga sama opa kalau aku akan segera kesana" ucap Al kemudian mematikan sambunagn teleponnya tanpa menunggu jawaban dari sang adik.
sementara itu Azzam berdecak kesal sebab sang kakak langsung mematikan teleponnya ketika ia hendak memberi tahu kabar sang opa.
"malah dimatiin, tapi ya sudahlah biar aja dia pulang" gumam Azzam sembari mengulum senyum
sebenarnya keadaan sang opa sudah membaik, ia hanya kelelahan akibat aktivitasnya yang terlalu banyak beberapa minggu ini sehingga di larikan ke rumah sakit. namun karena ingin mengerjai sang kakak.
Azzam sengaja mendramatisir keadaan sehingga membuat sang kakak khawatir. ia juga membohongi sang kakak jika sang opa mencari dirinya, padahal yang sebenarnya tidak sama sekali.