OH MY WIFE

OH MY WIFE
106



Matahari mulai menampakan dirinya, menyorot sepasang pengantin baru yang tengah menikmati sarapan bubur yang tadi di bawakan ibu dan mommy. ya, bukan hanya Dinar yang di bawakan, Aldrich pun juga turut di bawakan sarapan oleh kedua orang tuanya.


setelah selesai sarapan, Aldrich mengajak sang istri untuk segera mandi sebab waktu sudah menunjukkan pukul 7 pagi, itu berarti keluarga besarnya tengah menyantap sarapan pagi bersama.


"ayo sayang kita mandi dulu sambil menunggu mereka selesai makan, baru setelah itu kita menyapa semuanya" ajak Aldrich, pria itu baru saja keluar dari kamar mandi setelah sesaat menyiapkan air hangat untuk sang istri.


"iya mas... " tak banyak bicara, Dinar hanya menurut, sebab dirasa memang tu buhnya sudah sangat lengket meminta untuk segera di guyur air supaya segar.


ia lantas menghampiri sang suami yang menunggunya di depan pintu kamar mandi


"mas ngapain masih disini, sana, tunggu di sofa aja" tanya Dinar, sebab ketika Dinar melewati dan masuk ke dalam kamar mandi, Aldrich masih berdiri di depan pintu kamsr mandi.


"lah, kita kan mau mandi bersama sayang, kamu ini gimana sih, tadi kan aku juga bilangnya ayo kita mandi, itu berarti aku dan kamu sayang ku cinta ku... "


Dinar lantas menggeleng "enggak ah aku malu tau mas.. " pekik Dinar, ia segera menutup pintu, namun pintu itu tak tertutup sempurna sebab Aldrich menahannya.


"aku tak menerima penolakan sayang" Aldrich menerobos masuk kemudian menutup pintu dan menguncinya, membuat Dinar menggerutu sebal.


'ya sudahlah, udah halal ini... '


Setelah bersiap siap, kini Aldrich dan Dinar sudah rapi dengan pakaian santainya, kebetulan hari ini hari minggu, jadi semua kelarga besarnya dapat berkumpul semua tanpa ada yang berhalangan hadir dengan alasan bekerja.


Dinar tampak sangat cantik dengan balutan pashmina berwarna krem membuat Aldrich tak berhenti menatap sang istri.


"cantiknya istri ku... " gumam Aldrich menatap Dinar yang kini tengah mengenakan hijab.


"kenapa mas? " tanya Dinar yang kurang jelas akan perkataan sang suami


"istriku cantik... semoga selalu istiqomah ya sayang" ucap Aldrich tulus


"aamiin mas, do'akan Dinar ya mas"


setelah selesai keduanya keluar dari kamar, menuruni satu persatu anak tangga dengan menautkan jari jemarinya. Tak lupa, senyum mengembang yang tak pernah luntur dari keduanya.


"assalamu'alaikum, oma, opa, nenek... " sapa Dinar berjalan mendekat ke arah mereka yang tengah duduk mengobrol di ruang keluarga. kemudian Dinar menyalaminya satu persatu


"wa'alaikumussallam... " jawab semuanya serempak


"sayang, katanya kamu sakit, gimana apa sudah mendingan? " tanya oma


"Alhamdulillah, Dinar sudah sehat oma... "


"kamu sudah makan sayang? " tanya nenek Fatma.


"sudah nek, tadi mommy sama ibu ngasih bubur sama Dinar... "


Dinar pun kini ikut serta berkumpul dengan para wanita yang tengah mengerubungi keisya sambil bercerita sedangkan Aldrich memilih untuk menghampiri kakak iparnya dan saudaranya.


"tahu dari mana? "


"aura pengantin baru mana bisa di tutupi, udah kelihatan nyata di depan mata kali"


"iya ya kakak ipar, padahal semalem katanya kakak ipar sedang kurang enak badan, tapi pagi ini kok malah kelihatan seger buger gitu ya, nggak kayak orang sakit! " Azzam pun turut menimpali.


"bocil mana paham! " seru Gilang


"isshh... " desis Azzam sebal


"hahahaa... kak Gilang sudah berpengalaman makanya tahu semua, alhamdulillah semua sudah kembali seperti sedia kala kak, dan nanti siang kami juga akan bertemu dengan Luna" ucap Aldrich


"nagapain lagi ketemu dia kak, mau bikin kakak ipar marah lagi? " tanya Azzam


"ya enggak lah Zam. lagipula kakak perginya sama Dinar, itupun yang pertama menyetujui untuk bertemu juga Dinar, kalau bukan karena kakak ipar mu, mana mau kakak ketemu dia lagi, meskipun dia masalalu kakak"


"cerdas... "


"iyalah, Al gitu" sombongnya


tak terasa hari sudah semakin siang, Aldrich mengajak sang istri untuk keluar sembari berjalan jalan.


"sayang, ayo kita keluar" ajak Aldrich kepada sang istri yang masih memangku Keisya


"iya mas, sebentar aku taruh Kei di kasur dulu" jawab Dinar sembari meletakkan sang keponakan di atas kasur.


"memangnya kalian mau kemana, ini udah mau jam makan siang loh? "


"keluar bentar mom, tadi pagi Aldrich bilang kalau mau ngajakin Dinar keluar supaya tidak bosan di rumah terus mumpung hari minggu" bukan Dinar yang menjawab melainkan Aldrich.


keduanya memang sudah setuju untuk tak memberitahu keluarga nya mengenai pertemuan mereka dengan Luna, sebab mereka tak mau keluarganya mencemaskan rumah tangga mereka.


Dinar lantas pergi menuju kamarnya, selain untuk mengambil ponsel, ia juga hendak mengganti pakaiannya


"ya sudah, kalian hati hati di jalan. Al, jaga menantu mommy dengan baik, jangan sampai ada yang lecet loh" peringat mommy di angguki oleh Aldrich


"ya sudah kita berangkat dulu ya mom"


Kini Dinar dan Aldrich sudah berada di dalam mobil, Aldrich sengaja tak membawa supir untuk ikut serta sebab ia ingin menghabiskan waktunya hanya dengan istri tercintanya.


"sayang, kamu beneran nggak apa apa ketemu dia? " tanya Aldrich. mereka telah sampai di depan sebuah restoran yang cukup terkenal belakangan ini di sosial media.


"iya mas, kan mbak Luna juga mau ketemu aku juga kan, jadi nggak ada salahnya, supaya nanti rumah tangga kita adek ayem tanpa ada bayang bayang masalalu" jawab Dinar mantap.


setelah beberapa saat berdiam di atas mobil kini Aldrich dan Dinar turun dari mobil kemudian masuk ke dalam restoran.