
Aldrich tergolek lemah di ruangannya, bersama Soni yang masih setia memijit tengkuk pria itu. Aldrich merasa heran akan tu buhnya yang kembali lemah ketika ia berada di kantor.
sembari duduk di sofa, ia mulai memikirkan tentang hal apa saja yang ia lakukan kemarin sampai rasa mual dan pusingnya mereda.
Aldrich kemudian teringat jika sejak ia bertemu dengan sang istri, rasa mual dan pusingnya pun tiba tiba menghilang begitu saja, bahkan kemarin ketika dirinya dan sang istri berada di warung mas Dani, dirinya makan dengan lahap bahkan sampai nambah. namun mengapa hal ini kembali terulang.
tak ingin bertambah parah, ia meminta Soni untuk menghubungi sang istri agar istrinya datang ke kantor untuk menemui dirinya, karena barang kali hal itu dapat membantu dirinya sembuh dari rasa mualnya.
"Son, coba kamu hubungi istri ku dan minta dia datang kesini" perintah Aldrich kepada Soni yang masih memijit pundaknya.
"baik tuan" Soni beranjak dan mengambil ponselnya di dalam saku. baru saja ia hendak menekan layarnya untuk menelepon istri bosnya itu, tiba tiba pintu di ketuk dari luar.
"sebentar saya bukakan pintunya dulu tuan" Soni menunda menelepon Dinar, ia bergegas membuka pintu.
"nyonya Dinar" Soni kaget sebab ia baru saja hendak menghubungi Dinar, namun yang hendak di hubungi sudah muncul di hadapannya.
"mas Al ada di dalam Son?" tanya Dinar.
"tuan Al ada di dalam, dia sedang kurang enak badan nyonya, baru saja saya hendak menghubungi anda untuk segera kemari. mari masuk nyonya, tuan sedang duduk di sofa" Soni melebarkan daun pintu agar Dinar dapat masuk.
"terima kasih Son" Dinar lantas masuk, seketika aroma minyak kayu putih tercium menusuk hidung Dinar. Ia melebarkan langkah kakinya ketika melihat sang suami yang tengah duduk di sofa sembari menunduk.
"mas... " panggil Dinar, wanita itu langsung duduk di samping sang suami.
"kata Soni mas sakit, kenapa tadi berangkat kerja, ya ampun kamu pucat sekali" Dinar begitu cemas ketika sang suami mengangkat kepalanya untuk melihat sang istri yang tiba tiba datang.
"sayang... " panggil Aldrich, pria itu langsung memeluk sang istri, entah dari mana asalnya, akan tetapi ketika ia melihat sang istri ada di dekatnya, tiba tiba rasa mual dan pusingnya hilang seketika.
"mas kita ke dokter yuk" ajak Dinar, ia bahkan melupakan niat awalnya mengunjungi kantor sang suami.
"nggak usah sayang, aku udah ngak apa apa kok" ucap Aldrich sembari tersenyum meskipun bibirnya masih terlihat pucat.
sementara itu, Soni yang tadi berada di ruangan bos nya pun segera keluar sesaat setelah Dinar masuk ke dalam ruangan Aldrich.
"tapi kamu pucat sekali mas! " seru Dinar, ia merasa kesal sang suami yang tak menuruti perkataannya, padahal hal itu juga untuk kebaikkannya sendiri.
"kamu tahu, sejak kamu datang, rasa mual dan pusing ku langsung sembuh, aku sudah jauh lebih baik sekarang, mungkin hanya butuh kamu di samping ku agar aku selalu sehat seperti sekarang"
"aku nggak sedang bercanda sayang, aku beneran langsung sembuh setelah melihat kamu, entahlah ini penyakit apa, aku pun juga tak tahu. dokter kemarin bilang jika aku tak mengalami masalah apa apa"
mendengar kata Dokter, Dinar lantas teringat akan tujuannya datang ke kantor, ia merogoh tasnya kemudian mengambil kotak kado yang terbungkus rapi dari dalam sana kemudian memeberikan nya kepada sang suami.
"ini buat mas"
"apa ini, mas nggak sedang ulang tahun loh" Aldrich mengernyitkan dahinya, ia bingung tiba tiba istrinya memberikan kado untuknya.
"terima dan bukalah mas" tak ingin banyak bicara, Dinar meletakkan kado tersebut ke tangan sang suami.
Aldrich mengangguk, ia juga penasaran atas kado yang di berikan sang istri, sebab jarang jarang istrinya romantis seperti ini.
tanpa menunggu lama, Aldrich segera membuka kotak kado tersebut, disana ada satu buah alat tes keha milan dan juga foto usg milik Dinar.
"sayang ini, " tenggorokannya tercekat nama kala dirinya mengangkat sebuah alat tes keha milan dengan dua garis merah terang disana.
kemudian pandangannya tertuju pada sebuah foto hitam putih disana.
"sayang? " ia menoleh ke arah sang istri.
Dinar mengangguk "Al junior ada disini mas" ucap Dinar sembari mengelus pe rut nya yang masih rata.
"be- benarkah, jadi kamu hamil sayang, penerus ku sudah tumbuh di dalam sini? " tanya Aldrich sembari mengusap pe rut sang istri.
Dinar kembali mengangguk " iya mas, selamat ya, sebentar lagi mas akan jadi ayah"
"no, bukan ayah. tapi daddy, okey! " seru Aldrich meralat.
"baiklah, daddy... "
Aldrich tak kuasa menahan laju air matanya, ia menangis di pelukan sang istri, ia sangat bahagia akan kejutan hari ini. ia kemudian teringat akan ucapan sang dokter kemarin yang mengatakan jika ada kemungkinan ssng istri tengah kengandung, dan dirinya lah yang mengalami morning sickness.
keduanya kini hanyut dalam kebahagiaan menantikan buah cintanya tumbuh dan berkembang baik dalam kandungan Dinar, kini ikatan keduanya pun semakin kuat setelah kehadiran buah cinta mereka.