
"sayang, kamu dimana? " pekik Azzam, pria yang baru saja terbangun dari tidurnya itu pun bergegas mencari sang istri di lantai dasar namun setelahlelah berkeliling ia tak juga menemukannya.
bibi yang melihat tuannya kalang kabut pun menghampiri nya.
"tuan ada apa? " tanyanya.
"bibi, bibi tahu istri ku dimana? dia nggak ada di kamar bi, aku udah cari kesana kemari tapi nggak ada" dengan raut khawatir dirinya mengatakan yang sebenarnya terjadi.
"oh itu, nyonya Mia ikut bersama nyonya besar tadi keluar tuan" jawabnya
"kemana? "
"kerumah tuan Aldrich tuan muda"
"syukurlah, ya sudah terima kasih bibi" Hati Azzam begitu lega ternyata istrinya tak kabur, padahal pernikahan mereka sudah hampir 3 bulan, akan tetapi Azzam masih sedikit ragu jika istrinya telah benar benar mencintainya dan bersedia ada di sisinya selamanya maka dari itu ia selalu mengekang sang istri agar selalu berada di sisinya
sembari berjalan kembali ke kamar ia juga menggerutu dengan sikap mommynya yang berani beraninya menculik istrinya.
"pasti mommy yang sudah kompor ke istri ku biar nggak izin dulu sebab tahu kalau aku nggak bakalan izinin Mia pergi untuk sementara waktu"
Azzam masuk kamar dan langsung mengambil ponselnya di atas nakas, karena kaget ia sampai lupa untuk mrnghubungi istrinya terlebih dahulu dan malah berlarian tak jelas menyusuri tiap sudut rumahnya.
***
Sesuai rencana awal, sore ini Aldrich mengajak sang istri mengunjungi pantai untuk melihat sunset berdua
sesampainya di pantai, Dinar begitu takjub melihat pemandangan sekeliling, meski ramai hal itu tak menyurutkan rencananya untuk melihat mata hari terbenam.
keduany duduk di atas pasir dengan Dinar yang duduk di depan sang suami.
"tadi siang yang telpon mommy ya mas? " tanya Dinar.
"ya, biasa nyariin mantunya dirumah"
"kamu sih. kan aku udah nyuruh kamu buat ngasih tahu mommy, kasian kan kalau kayak gini"
"biarin aja, lagipula tadi mommy kerumah sama adik ipar, mau ngajakin kamu jalan, tapi keduluan aku" setelah Aldrich di telepon sang mommy, ia mengirim beberapa pesan teks, rupanya mommy nya kesana hanya ingin membawa menantu menantunya untuk jalan jalan.
"Mia? " tanya Dinar
"iya lah, siapa lagi, nggak mungkin juga kan kalau mommy kesana sama kak Gilang dan Kenzo"
"iya juga sih"
setelah beberapa saat berbincang hangat, keduanya kini tengah menikmati pergantian antara siang ke malam dengan melihat matahari terbenam disana.
tak ada acara berlari larian atau sekedar main air di pantai, sebab Aldrich begitu khawatir akan kandungan sang istri yang kini sudah membesar.
"sayang ayo kita kembali ke hotel, setelah bersih bersih dan sholat baru kita cari makan disekitar sini" Aldrich membantu sang istri berdiri kemudian membersihkan pasir yang menempel di pakaiannya.
"ayo mas... "
sesampainya di hotel Aldrich segera menyiapkan air mandi hangat untuknya dan sang istri.
setelah selesai mandi dan sholat maghrib, Aldrich langsung mengajak Dinar keluar untuk mencari makanan yang diinginkan olehnya.
"mau makan apa? " tanyanya
"emm apa ya, terserah aja deh mas, yang penting masakan Nusantara"
"dasar wanita, kalau di tanya mau makan apa selalu jawabnya begitu" gumam Aldrich lirih
"apa mas? " tanya Dinar, meski pelan namun Dinar mendengar apa yang di katakan oleh sang suami.
"nggak ada sayang"
Aldrich mengajak sang istri untuk segera keluar, ia akan membawa Dinar ke salah satu restorannya yang ada di Bali.
sembari menunggu Aldrich mengambil mobil sewaan, Dinar memilih untuk menunggunya di ruang tunggu lobi.
matanya menatap sekeliling, hotel ini sangat mewah, bahkan beberapa orang yang di temui Dinar mengenakan pakaian branded yang tentu harganya sangat mahal, ia jadi penasaran dengan harga sewa kamar hotel disana, apalagi mereka menempati kamar yang sangat luas tentu harganya tak akan main main.
'nanti aku coba tanyakan deh'
pandangan Dinar tertuju pada meja resepsionis, ia seperti melihat orang yang ia kenal, namun ketika hendak menghampiri, Aldrich sudah lebih dulu datang dan mengajaknya untuk segera berangkat.
***
Mommy Citra dan Mia pulang dari salon dan berbelanja tepat pukul 8 malam, Azzam yang memang sedang menunggu keduanya di ruang tamu pun segera beranjak dari duduknya untuk menyambut kedua perempuan berharganya.
"sayang.. " Azzam segera menarik sang istri untuk masuk ke dalam pelukannya. sementara mommy menatap sang putra dengan malas.
"baru juga beberapa jam nggak ketemu bang, udah di sosor aja sampai nggak inget tempat" tegur mommy Citra yang membuat Azzam kelabakan dan akhirnya melepas pelukannya.
"e-eh mom, maaf lupa. lagipula kenapa tadi siang aku nggak boleh nyusulin kalian coba, kan aku kesepian kalau dirumah nggak ada istri ku" ujar Azzam
"kalau mommy izinin kamu buat nyusul, yang ada menantu mommy kamu ajak mampir ke hotel dan mommy nggak akan setuju. lagian kamu ini, masak mantu mommy di kurung terus, sekali kali biarin dia bebas, lagipula kalian sudah menikah, mana mungkin istri mu bakalan kabur" cerocos mommy Citra
Azzam menggaruk tengkuknya yang tak gatal, ia salah tingkah sendiri sebab ketakutannya ternyata di ketahui mommy nya. "hehehe.... "
sementara Mia hanya menyimak, ia mengulum senyumnya mendengar sang suami yang di marahi oleh mertuanya, ia sekarang paham jika ternyata sang suami selama ini mengurungnya karena suaminya merasa jika dirinya tak benar benar mencintainya. padahal sejak di hari pernikahan itu terlaksana, hatinya telah ia jatuhkan untuk sang suami seorang.