
Di dalam mobil, Al terus menyunggingkan senyum manisnya. ia kembali teringat wajah menggemaskan Dinar ketika ia memanggil Dinar dengan sebutan 'sayang', di tambah dengan sikap gugupnya yang membuat Al ingin sekali melahapnya saat itu juga. namun sayang, keinginan itu hanya bisa ia kubur dalam dalam mengingat Dinar belum sepenuhnya menerima dirinya masih ke dalam hatinya.
tak terasa kini Al telah sampai di parkiran kantor, ia segera keluar dari mobil dan berjalan menuju ke dalam kantor dengan senyum yang masih menghiasi bibirnya.
"selamat pagi tuan Al" sapa satpam yang berjaga di pintu masuk kantor.
"pagi... " balas Al masih dengan senyuman yang membuat satpam yang berjaga tadi begidik ngeri. pasalnya ketika Al telah sampai kantor, ia akan memasang wajah dinginnya dan sekarang ia berubah 180° menjadi lebih hangat dari biasanya.
tak menghiraukan ekspresi terkejut dari satpamnya, Al melanjutkan langkahnya menuju lift menuju ruangannya.
sesampainya di dalam ruang kerjanya, Al segera mendudukkan dirinya di kursi kerjanya, tangannya terulur ke arah laci meja kemudian membukanya. di ambilnya sebuah foto yang menampakkan dirinya dengan seorang gadis dengan memengang satu bucket bunga mawar merah. dia adalah Luna, tunangan Al tiga tahun yang lalu di kabarkan meninggal dunia.
"apa kabar sayang, maaf aku tak bisa menepati janji ku yang selalu setia bersama mu. maaf karena aku menduakan cinta mu. sekarang aku telah jatuh hati kepada istri ku sendiri, dan aku berharap kamu bisa menerima keputusan ku. meski begitu, aku akan selalu mengingatmu di dalam hatiku yang terdalam. bahagia di surga sayang" lirih Al mengelus foto Luna
Di saat Al tengah memutar memorinya dengan sang kekasih, tiba tiba Azzam nyelonong masuk ke dalam ruangannya dan langsung duduk di kursi depan Al.
melihat Azzam yang tiba tiba masuk dan langsung duduk di hadapannya, membuat Al buru buru memasukkan foto dirinya bersama Luna ke dalam laci kembali, namun sebelum itu Azzam sudah melihat foto siapa yang di pegang oleh kakaknya itu.
"rindu ya kak? " celutuk Azzam sembari terus memperhatikan sang kakak
"apaan sih" elak Al
"udah deh nggak usah ngelak, tuh buktinya tadi mandangin foto kak Luna" seru Azzam
Al tersenyum tipis kemudian memandang sang adik dengan intens
"rindu itu wajar Zam, terlebih dengan seseorang yang telah lama bertahta di dalam hati "
"tapi saat ini aku sudah mempunyai istri, mana mungkin aku merindukan wanita lain selain istri ku" ujar Al
Azzam nampak manggut manggut "jadi apa itu artinya kalau kak Al sudah benar benar move on dari kak Luna, dan juga sudah mencintai kakak ipar? " tanya Azzam
"entahlah, tapi mulai sekarang aku ingin benar benar mencintai istri ku, dan mencoba untuk mengubur masa lalu ku"
"apa itu alasan yang sebenarnya kak Al pindah ke apartment pagi ini? " tanya Azzam.
"kamu juga tahu ternyata. ya, sebenarnya memang aku ingin tinggal di apartment karena ingin menemani Dinar, aku kasihan lihat dia tinggal sendiri di apartment meskipun tiap pagi dan sore aku selalu kesana, bukan karena kerjaan menumpuk seperti yang aku bilang ke mommy dan daddy. jangan bilang bilang ke mommy ya kalau selama ini aku nggak ada lembur sama sekali" ujar Al
"lalu kapan kak Al bakalan ngomong ke mommy dan daddy, udah seminggu lebih lo kalian menikah, bahkan buku nikah kalian udah jadi" Azzam kembali menanyakan kesiapan Al untuk berbicara kepada keluarganya. karena Azzam takut nanti ketika mereka memberi kejutan untuk Al, bukan Al yang terkejut melainkan keluarga besarnya.
"nanti lah, nunggu waktunya tepat dulu, aku masih belum siap untuk saat ini. masih takut juga kalau daddy murka" jawab Al
"ku harap secepatnya kak, jangan sampai nanti mommy dan daddy tahu sendiri sebelum kak Al ngasih tahu mereka. dan ini buku nikahnya" Azzam menyerahkan dua buku berwarna merah dan hijau kepada Al kemudian berdiri.
"pesan ku cuma satu kak, segera kasih tahu mommy dan daddy mengenai pernikahan kakak" ucap Azzam kemudian berbalik dan berjalan keluar
sementara Al yang masih memegang buku nikahnya pun terpaku, ia masih tak menyangka jika dirinya benar benar menikah.
'tenang Al, nanti kalau waktunya tepat kamu bisa memberi tahu mommy dan daddy sekalian mengenalkan Dinar kepada mereka' Al mencoba untuk meyakinkan dirinya bahwa keputusan untuk menunda memberi tahu kedua orang tuanya adalah yang terbaik.
ia kemudian menyimpan buku nikahnya ke dalam tas kerjanya dan memulai pekerjaannya.
tok
tok*
"masuk" teriak Al dari dalam ketika mendengar pintu ruangannya di ketuk dari luar
"maaf pak saya hanya ingin mengingatkan jika nanti pukul 9 pagi anda ada meeting dengan Pak Abian dari PT. Global di ruang memeting" ucap Dela setelah masuk ke dalam ruangan Al
"perusahaan yang minggu lalu mengirim proposal kerjasama pada kita? " tanya Al memastikan
"iya, benar pak"
"baiklah kamu boleh keluar, nanti ikut saya meeting bersama pak Abian" seru Al
"baik pak" Dela mengangguk kemudian keluar dari ruangan Al.
setelah itu Al kembali melanjutkan pekerjaannya karena pertemuan dengan koleganya masih satu jam lagi.
Al melirik jam pada ponselnya, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 8.40 wib. gegas Al merapikan berkas berkas yang tadi ia pelajari kemudian bergegas keluar menghampiri Dela yang meja kerjanya ada di depan ruang kerja Al.
kebetulan saat itu Dela baru saja menerima telepon dari seseorang dan ingin menghampiri Al di ruangannya.
"pak Al" panggil Dela ketika Al baru saja keluar dari ruangannya.
"iya Del, kamu sudah siapkan semuanya? " tanya Al mendekat ke arah Dela.
"semuanya sudah saya siapkan pak, tapi baru saja sekretaris pak Abian menelepon saya dan memberitahu jika mereka baru saja mengalami musibah, katanya supir dari pak Abian tak sengaja menabrak seseorang hingga korban di larikan ke rumah sakit, jadi pak Abian tidak bisa hadir karena menunggui korban yang di tabrak tadi pagi dan beliau minta untuk di reschedule lagi meetingnya pak" ucap Dela
"innalillahi... lalu bagaimana keadaan pak Abian? " tanya Al
"alhamdulillah beliau baik baik saja, hanya kor bannya katanya masih tak sadarkan diri, makanya pak Abian tak bisa hadir karena masih menunggu kor bannya sadar pak" jawab Dela
"baiklah kamu reschedule saja jadwal pertemuan dengan pak Abian, saya akan ke dalam lagi, kalau ada apa apa segera kabari saja" ucap Al kemudian kembali masuk ke dalam ruangannya dan mendudukkan dirinya di kursi kerjanya.
setelah beberapa saat menyandarkan tu buhnya di sandaran kursinya, ia di kejutkan dengan bunyi dering dari ponselnya yang berada di atas meja. dengan segera Al mengambil kemudian melihat si penelepon
'nomor siapa ini? ' gumam Al melihat nomor asing tengah menelepon dirinya. karena penasaran Al segera menerima panggilan itu.
"halo..."
"......."
"iya benar"
"....."
"apa? " secara spontan Al berteriak karena kaget
"maaf, baiklah saya akan segera kesana, terima kasih informasinya" Al segera menutup teleponnya kemudian bergegas keluar ruangan