
Mila menyandarkan kepalanya pada kaca bis, kebetulan dirinya duduk tepat di samping kaca.
ingatannya menerawang akan beberapa kejadian yang sempat ia alami beberap minggu yang lalu hingga akhirnya dirinya memilih untuk berdamai dengan teman sekaligus tetangganya yaitu Dinar.
kala itu, ketika dirinya tengah bergelut dengan pekerjaannya di sebuah kantor cabang perusahaan besar dirinya di kejutkan oleh pengumuman dari teman temannya jika pemimpin perusahaan akan menyambangi kantor cabang.
kebetulan ia kantor cabang itu berada satu wilayah dengan tempat tinggalnya, jadi ia tak meratau seperti Dinar.
"pengumuman - pengumuman. dengar kalian semua. pemimpin perusahaan akan menyambangi kantor cabang, tolong persiapkan dengan baik, jangan membuat pemimpin kita kecewa kepada kita semua" salah satu teman Mila yang kebetulan mendapatkan kabar itupun langsung memberitahu kawan kawannya termasuk Mila.
Mila dan kawan kawan yang lainnya pun mengangguk, mereka saling bahu membahu menyiapkan sambutan kecil untuk pemimpin mereka. ini adalah kali pertama pemimpin mereka datang secara langsung ke kantor cabang setelah pergantian pemimpin.
setelah jam istirahat siang selesai, mereka mulai bersiap siap menyambut pemimpin mereka yang baru setelah beberapa saat yang lalu mereka mendapat kan kabar jika sebentar lagi pemimpin mereka akan segera tiba.
mereka mulai melihat ada dua mobil masuk ke dalam area kantor, Mila dan yang lainnya segera berbaris rapi untuk penyambutan.
mobil berhenti di depan lobi, kemudian turunlah lelaki muda gagah dan berkharisma. dengan mengenakan setelan formal lelaki itupun turun bersama rombongannya. setelan jas hitam dengan dasi yang berwarna senada menambah aura ketampanan nya.
"selamat siang tuan Aldrich" sapa pemimpin sekaligus orang kepercayaan Aldrich di kantor cabang dengan ramah.
Al tak menjawab, ia hanya tersenyum sembari mengangguk kemudian menjabat tangan orang kepercayaan nya itu.
"apa kabar pak Hendro? "
"baik tuan, mari silahkan masuk" ajaknya kepada Aldrich dan rombongannya. mereka di giring menuju ruang rapat karena memang kedatangan Aldrich disana selain menyambangj kantor cabang ia juga akan membahas beberapa hal penting untuk bahan evaluasi.
sementara Mila yang melihat bahwa pemimpin nya ialah suami dari Dinar itupun tak dapat menyembunyikan keterkejutan nya. ia bahkan sampai membekap mu lutnya supaya ia tidak berteriak, ia bahkan langsung menunduk, merasa tak percaya sekaligus malu karena pernah berbuat hal yang kurang mengenakan kepada pemimpinnya itu.
'bagaimana ini, aku merasa sangat berdosa sekali kepada mereka bedua, jika tahu kalau dia bos ku, mana berani aku dulu bentak bentak dia'
sementara itu, teman yang berada di sebelah Mila menyadari sikap tidak biasa yang di tunjukkan oleh Mila. ia pun menyenggol Mila pelan
"kamu kenapa? " tanya nya setengah berbisik
"aku nggak kenapa kenapa kok, hanya kurang enak badan saja" jawab Mila berbohong.
setelah para petinggi masuk ke dalam ruangan Mila bergegas menuju kamar mandi, ia ingin menenangkan diri terlebih dahulu.
"huuhh... "
"bagaimana ini, apakah setelah ini pak Aldrich bakalan mendepak aku dari kantor ini ya? "
"aku memang begitu keterlaluan sama Dinar, dari dulu sampai sekarang bahkan dia tak sekalipun membalas ku, apalagi sekarang dia punya kekuatan, bukankah itu lebih mudah buat ngancurin aku, tapi sepertinya Dinar tak akan melakukan itu.. ya ampun, bagaimana ini... " gumam Mila lirih.
ia menatap wajahnya di cermin toilet, di sekanya air matanya yang tiba tiba menetes kala teringat semua kejahatan yang ia lakukan pada Dinar.
wanita itu tak salah, hanya doktrin dari kedua orang tuanya yang selalu mengunggulkan Dinar menjadikan Mila memiliki sifat iri sekaligus benci kepada Dinar.
"bagaimana pun caranya aku harus meminta maaf sama Dinar, jangan sampai aku mendendam terlalu lama, semua sudah berakhir, orang orang yang selalu membandingkan aku pun sudah tiada, jadi tidak ada alasan lagi untuk aku terus terusan benci sama Dinar"
mulai hari itu Mila mencoba untuk berubah, ia ingin memperbaiki hubungan pertemanan yang sempat rusak bersama Dinar, ia juga akan meminta maaf secara langsung kepada Dinar dan juga Aldrich, sebab karena dia lah, Dinar dan Aldrich akhirnya terpaksa menikah dadakan.