OH MY WIFE

OH MY WIFE
34



Al masih bersama sang adik di ruangannya, ia juga akan meminta sang adik untuk menutup mulutnya kepada keluarganya mengenai statusnya yang kini sudah menjadi seorang suami. ia memberi alasan akan berbicara pelan pelan kepada keluarganya.


"sekarang kamu sudah tahu semua bukan, kakak minta agar kamu tidak memberitahu orang rumah tentang status ku saat ini, biar nanti aku yang memberi tahu mereka pelan pelan sebab jika aku langsung membawa Dinar ke hadapan mommy dan daddy sebagai menantu mereka, aku khawatir mereka akan syok" pinta Al kepada sang adik


"tapi kapan kakak akan berbicara jujur kepada mereka, kasihan juga kakak ipar jika hubungan kalian di gantung seperti ini terlalu lama. ingat kak tadi kamu bilang bakal bertanggung jawab serta menjaga kakak ipar dengan baik kepada orang tuanya, jangan sampai kakak ingkar janji. aku tak tega melihatnya " seru Azzam


"tak tega tak tega, memang kau tahu apa tentang Dinar, bahkan bertemu dia saja kamu belum pernah " tanya Al ketus


"ya aku sih nggak tahu banyak dan belum pernah ketemu, eh pernah ketemu cuma sebatas sesama pembeli waktu itu. tapi menurut informan ku kakak ipar sekarang bekerja di pabrik kita. kakak tahu lah gimana nggak enaknya kerja di pabrik, maka dari itu, jangan pernah sakiti kakak ipar. kasihan tau kak" jelas Azzam


"apa, jadi Dinar bekerja di pabrik kita, kok kamu bisa tahu semuanya tentang Dinar? " tanya Al terkejut sebab ia hanya tahu jika Dinar bekerja di pabrik tapi ia tak mengira jika istrinya itu bekerja di pabrik milik keluarganya.


"kan aku udah bilang kalau aku punya informan jadi aku tahu" seru Azzam


"oh ya kak, kalau kakak udah nikah sama kakak ipar, kenapa tadi malam nggak ke tempat kakak ipar aja, kenapa malah nemenin opa, masak pengantin baru ldr-an sih? " goda Azzam menaik turunkan kedua alisnya.


"statusnya memang pengantin baru, tapi tetap saja, setiap harinya ya sama seperti biasanya. kan kita nikahnya juga karena paksaan. apalagi pernikahan ini masih siri karena belum ngurus surat suratnya di KUA jadi mana mungkin aku nyamperin dia, bisa di sidang dua kali kalau begitu" jawab Al


"emang kakak ipar sekarang tinggal dimana kak? "


"masih di tempat kos nya yang dulu" jawab Al cepat


"what??? " pekik Azzam. "kan udah nikah, mbok ya di ajakin pindah kak, apartemen kakak kan ada, suruh aja tinggal disana lagian apartemen nya juga kosong gitu"


"rencananya memang begitu, tapi masih belum ada waktu, kerjaan masih banyak disini"


"ya sudah nanti kerjaan kak Al biar aku yang handle, nanti pulang kerja samperin tuh istrinya dan ajakin pindah, masak istri orang kaya tinggalnya di kos kosan" sindir Azzam


"ngomong ngomong orang kaya, Dinar kayaknya nggak tahu deh kalau aku bos nya, soalnya kemarin waktu aku ngasih dia uang nafkah, dia sempet nolak karena khawatir kalau aku kehabisan uang. sepertinya dia mikirnya aku hanya karyawan warung tenda jadi dia menolak uang itu" seru Al


"hmm, kalau begitu ya bagus dong. itu tandanya kakak ipar nggak matre, buktinya saja dia nolak uang pemberian kak Al, jaga baik baik istrinya kak, salah salah nanti di gondol orang kalau kamu kurang perhatiin dia" pesan Azzam


"hm, ya sudah nanti sore aku akan ke kosan Dinar dan ajak dia buat tinggal di apartemen, dan mungkin setelah ini aku bakalan sering tidur di apartemen buat nemenin dia, jadi sekali lagi kakak minta sama kamu buat bantuin kakak bilang sama mommy dan daddy kalau kakak akan tinggal di apartemen " pinta Al


"hm, baiklah.. demi kebahagiaan mu kak. dan yaa.. jangan lupa buat ngurus berkas di KUA, atau kalau perlu bantuan ku, aku bisa bantu? "tawar Azzam sembari tersenyum


"makasih ya Zam, masalah berkas nanti sajalah... "


begitulah saudara, meski sering bertengkar tetapi kenyataannya mereka saling peduli, bahkan rela berbohong demi kebahagiaan saudaranya.


kemudian jari jemari Al dengan lincah mulai mengetikkan sesuatu untuk sang istri dadakannya.


[nanti aku akan ke kosan kamu sekitar pukul lima]


Al begitu canggung mengetik hal tersebut, namun mau bagaimana lagi, ia tak mungkin tiba tiba datang ke kosan Dinar, sebab khawatirnya jika Dinar belum pulang atau sedang keluar.


jam kerja telah usai, kini Al bergegas merapikan berkas serta laptopnya, kemudian bergegas keluar ruangan. Dela, sekretaris Al pun berdiri dari duduknya ketika melihat Al yang keluar dari ruangan nya.


"hari ini saya tidak lembur Del, jadi kamu juga bisa pulang sekarang" ujar Al memberi tahu


"baik pak Al" sahut Dela mengangguk


setelah itu Al pun kembali berjalan kearah lift menuju lantai satu kemudian ke arah parkiran untuk mengambil mobilnya.


Di dalam monil ia kembali mengecek ponselnya, barangkali Dinar membalas pesan yang ia kirim tadi siang, namun Al harus menelan kekecewaan sebab Dinar tak kunjung membalasnya.


"kenapa juga aku harus menunggu balasan dari dia" gumam Al kemudian melempar ponselnya ke jok samping


sesuai rencana awal bahwa hari ini Al akan mengajak Dinar untuk pindah ke apartemen nya, Al segera melajukan mobilnya menuju kosan Dinar. ia mende sah kesal sebab jalanan sore ini begitu macetnya sehingga membutuhkan waktu lebih banyak untuk dirinya sampai di kosan Dinar.


setelah menempuh perjalanan kurang lebih 45 menit, sampailah Al di depan gerbang kosan Dinar. ia segera turun kemudian menghampiri wanita paruh baya yang kebetulan sedang berada di sana.


"permisi bu, mau tanya, pemilik kosan ini siapa ya? " tanya Al


"oh kalau kosan ini kebetulan milik saya sendiri mas, ada apa ya? " tanya nya


"oh syukurlah, saya ingin bertemu dengan Dinar, boleh tunjukkan di mana kamarnya bu? "


"memangnya mas ini siapa nya mbak Dinar ya? karena kebetulan kosan ini khusus untuk wanita, jadi tidak sembarangan lelaki boleh masuk" sahut wanita itu dengan ramah.


"saya suaminya bu, saya kesini ingin menjemput Dinar untuk tinggal bersama saya, maka dari itu saya kesini untuk mengambil barang barangnya sekalian berpamitan engan pemilik kosannya " jelas Al


"oh suaminya.. ya sudah mari ikut ibu masuk, kebetulan tadi mbak Dinar nya juga baru saja pulang" ajak pemilik kos itu kemudian beranjak.


Ibu pemilik kos tersebut tidak terlalu menanyakan kebenaran mengenai pernikahan keduanya, sebab ia tidak ingin turut mencampuri sesuatu yang bukan urusannya, maka dari itu ia mengizinkan Al untuk masuk menghampiri kamar Dinar. M yang terpenting Dinar juga setuju itu tidak masalah, pikirnya.