
Ballroom Hotel
Satu persatu tamu undangan telah datang, mereka tampat sangat antusias menghadiri pesta pernikahan putra dari keluarga Smith yang di gadang gadang akan menjadi penerus perusahaan Smith Grup.
para tetangga Dinar pun juga sudah berada di dalam ballroom, mereka yang hadir tampak takjub memandang dekorasi pernikahan Dinar yang sangat mewah, tak lupa mereka juga mengabadikan momen mereka disana dengan ponselnya.
"bener bener jadi sultan dadakan ya si Dinar"
"iya, dapet durian runtuh, nasib baik Dinar sih ini mah"
"huss ibu ibu, jangan gosipin yang punya hajat ah, nggak enak di denger yang lainnya, bukan hanya Dinar yang beruntung, tapi suaminya pun juga beruntung, bisa meminang Dinar yang memang sangat cantik dan juga baik hati" tegur bu RT
"iya juga sih bu RT... "
"ini mana pengantinnya kok belum dateng sih? " tanya yang lainnya"
"sebentar lagi dateng bu ibu. . "
***
sementara di kamarnya, Dinar tampak gugup sekali, ia bahkan mere mas jari jemarinya untuk menghilangkan kecemasan nya, dan hal itu di tangap oleh pandang mata Aldrich yang tengah bersiap mengenakan pakaian nya.
"jangan tegang, ada aku disini! " seru Aldrich yang tiba tiba datang mendekat ke arah Dinar yang terlihat sangat cantik dengan riasan serta gaun yang telah di kenakan.
"ini kali pertama ku menghadiri pesta di dalam gedung mewah mas, aku sangat gugup sekali, apalagi banyak yang tidak akan sku kenali nanti" ucap Dinar.
"tapi ini acara kita sayang, jadi bukan kamu yang menghadiri melainkan di hadiri, sudah percaya sama aku, semua akan baik baik saja, ada aku yang selalu di samping mu" ucap Aldrich begitu tulus, ia bahkan turut menggenggam tangan Dinar.
"istri ku sangat cantik" puji Aldrich yang membuat Dinar tersipu malu
"karena sedang di make up, coba kalau enggak, biasa aja kan? "
"bukan begitu, tapi hari ini kamu sangat berbeda dari biasanya, kamu begitu sangat cantik dan mempesona"
Azura kembali datang bersama Cia, mereka mengajak pengantin baru itu untuk segera menuju ke ballroom karena acara akan segera di mulai.
"sudah siap kak? " tanya Zura pada MUA disana
"sudah nona, tuan dan nona Aldrich sudah siap" jawabnya kemudian mempersilahkan Azura untuk masuk ke dalam kamar.
"kak ayo kita keluar, tamu tamu sudah datang menunggu kalian" ucap Azura datang menghampiri Dinar dan Aldrich
"mommy sama ibu mana? " tanya Aldrich
"ada, mereka sudah datang dan sedang menyapa para tamu undangan, ayo kita keluar"
"kakak ipar, senyum! " seru Azura ketika melihat Dinar tampak tegang.
"memang beda ya aura pengantin baru itu" celutuk Cia
"iyalah, namanya juga pengantin baru, malu malu meong Ci" seloroh Azura
"ya sudah ayo kita keluar" ajaknya kemudian bergegas keluar di susul Aldrich dan juga Dinar di belakangnya.
***
setelah beberapa saat acar di buka, kini tibalah saatnya MC memanggil pengantin baru itu untuk masuk ke dalam ballroom.
"baiklah, mari kita sambut bintang utama kita hari ini, tuan Aldrich dan nona Dinar ..."
Akhirnya Dinar dan juga Aldrich memasuki area resepsi. disana telah tergelar karpet merah menjuntai panjang hingga panggung dekorasi.
tak hanya berdua, di belakang pengantin itu juga ada bridesmaid yang turut mendampingi keduanya. sementara Cia dan Azura memilih menghampiri suami masing masing.
gemuruh tepuk tangan menyambut kedatangan pengantin baru itu. ada juga beberapa yang bersorak senang ketika Aldrich dan Dinar masuk ke dalam Ballroom.
"mas, aku deg degan" lirih Dinar memandangi para tamu yang begitu banyak tengah memandang kearahnya.
"angkat dagu mu dan percaya diri, ada aku di samping mu" ucap Aldrich tak kalah lirih.
setelah menahan gemuruh debaran di da da akhirnya Dinar merasa sedikit tenang, ia tak begitu memperhatikan banyaknya tamu yang datang, ia hanya fokus pada langkah kakinya ke depan dengan mengamit lengan sang suami dengan kuat.
'*aku sudah memantapkan diri meminang gadis di samping ku, dia yang telah mengembalikan kehidupan ku yang telah lama hilang, dia yang sudah menjadi penerang dalam kegelapan ku
keputusan ku tak salah, aku sangat beruntung dapat meminang gadis seperti Dinar, sederhana dan apa adanya, gadis baik dan sangat asik dan hangat
apapun yang terjadi ke depannya aku berjanji tak akan pernah melepaskan mu Dinar, istriku tercinta*"
***
Mia dan juga kawan kawannya yang di undang Dinar pun begitu sangat syok ketika mendapati kenyataan jika suami dari temannya adalah presdirnya, mereka bahkan saling mencubit satu sama lain untuk meyakinkan diri dengan apa yang mereka lihat hari ini.
"Mia, bukankah itu tuan Aldrich presdir kita ya? "
"kurasa seperti itu mbak, di undangan juga namanya Aldrich meskipun tak di tulis apa jabatannya disana, tapi mendengar orang orang berbicara tentang dia kurasa memang benar, tapi ini kok lebih tampan dari pada dulu aku pernah lihat ya, apa mungkin yang dulu di pabrik itu bukan pak Aldrich ya, tapi kenapa agak mirip" Mia sedikit ragu pernah berjumpa dengan atasannya itu.
"kan sekarang udah nikah Mi, jadi auranya beda kali"
"iya mungkin ya"
semua orang tengah merasakan kebahagian di pesta itu. setelah acara sungkeman dan sedikit mengungkapkan sepatah dua patah kata akhirnya acara pun kembali santai, Aldrich dan juga Dinar kini tengah melakukan sesi berfoto dengan para tamu undanga.
sementara itu di sudut ruangan yang sedikit sepi, ada seseorang yang memandang ke arah Aldrich dan Dinar dengan pandangan nanar, meskipun ia telah menguatkan hati untuk ikhlas, akan tetapi kenyataannya ia masih tak sanggup ketika melihat orang yang pernah menjadi bagian dari hidupnya berdampingan dengan wanita lain.