OH MY WIFE

OH MY WIFE
123



setelah sarapan dan di lanjut berhias, kini Dinar telah selesai dan siap untuk berangkat menemui adik iparnya.


ia segera beranjak dari tempak duduknya untuk menemui sang suami, sementara MUA yang di sewa Aldrich telah lebih dulu pamit.


"mas... " panggil Dinar, wanita itu mendekat ke arah sang suami.


Aldrich yang masih menunggu dengan sabar sembari memainkan ponselnya pun di buat terperangah setelah melihat perubahan pada Dinar. ia mendongak kemudian tersenyum lebar.


"cantiknya istri ku" puji Aldrich, pria itu mendekati sang istri kemudian hendak mencium nya, namun Dinar segera menghindari dengan memundurkan tu buhnya.


"jangan mas! "


"kenapa? "


"nanti riasannya rusak, ayo kita berangkat sekarang, udah jam 9 loh ini" Dinar melingkarkan lengannya pada lengan suaminya kemudian menggiringnya menuju teras.


Aldrich merasa kesal sebab mendapatkan larangan dari sang istri, ia mendngus kesal sembari menghentak hentakkan kakinya mengikuti arah langkah kaki sang istri.


"jangan ngambek gitu dong, kalau waktunya banyak mah nggak apa apa, ini udah mepet banget, belum nanti kalau macet, keburu selesai acara akad nikahnya mas" Dinar mencoba memberi pengertian kepada sang suami yang sedang dalam mode mengambek.


"baiklah, sebagai gantinya, aku akan meminta dobel nanti malam" ucap Aldrich dengan tersenyum smirk sembari membukakan pintu untuk sang istri.


"aku tak janji ya! " seru Dinar dengan Mengerlingkan matanya


***


Aldrich dan Dinar telah sampai di hotel tempat sang adik melangsungkan pernikahannya.


kebetulan masih pukul 09.30 wib, masih ada waktu 30 menit sebelum acara dimulai.


Dinar yang melihat masih ada sedikit waktu pun meminta izin kepada sang suami untuk menghampiri sahabatnya.


"mas, aku ke ruangan Mia dulu ya, nanti kalau acaranya mau di mulai, aku kesini lagi"


"mau aku antar? " tawar Aldrich


"nggak usah, tadi aku udah di kasih tahu sama mommy tempat Mia berada, kamu temenin bapak aja mas, siapa tahu bapak nggak ada temennya"


"baiklah" Aldrich mencoba mencari mertua laki lakinya, kemudian ia mrkihat jika pak Beni tengah duduk bersama daddy Marcello tengah mengobrol santai bersama dengan yang lainnya. karena ia tak tahu harus melakukan apa, akhirnya Aldrich pun memilih bergabung dengan para pria disana.


"pak, dad" sapa Aldrich begitu sampai di tengah tengah mereka


"Dinar mana nak Al? " tanya pak Beni.


"Dinar lagi nyamperin mempelai wanita nya pak, kebetulan kan mereka sahabatan"


pak Beni mengangguk "kamu nggak temenin adik kamu, sepertinya dia tengah gugup, tadi kami ingin menenangkan dia, akan tetapi dia menolak. coba kamu kesana, barangkali memang dia sedang menunggu kamu"


"baik pak, ya sudah aku ke ruangan Azzam dulu" Aldrich bergegas menghampiri adik lski lakinya, ia khawatir dan takut Azzam akan marah karena di hari bahagianya, ia justru datang paling akhir.


***


Dinar masuk ke dalam sebuah ruangan dimana disana ada Mia dan yang lainnya.


Mia telah selesai di dandani dan kini tengah duduk bersama ibu dan calon mertuanya.


"Mia... " panggil Dinar, Mia segera beranjak kemudian merentangkan tangannya untuk menerima pelukan dari sang sahabat.


"maaf ya aku terlambat, tadi sempet ketiduran sebentar " ucapnya.


"nggak apa apa Din, lagipula acaranya belum dimulai, aku juga maklum karena kamu sekarang lagi hamil, jadi hormonnya nggak stabil"


Dinar tersenyum bahagia, setelah mengobrol sebentar dengan Mia, ia lantas menghampiri ibu serta mertuanya.


Acara pun dimulai, akad Nikah telah di ucapkan oleh Azzam dengan lancar dan lantang hingga terdengar kata SAH yang menggelegar di telinga.


Dinar, menggandeng lengan sahabatnya bersama ibu Mia, menuntun pengantin wanita untuk menemui kekasih halalnya.


"kok tahu aku sedang gugup? "


"tahu lah, nih, tangan mu bergetar hebat, santai aja, relax. Azzam nggak gigit kok" canda Dinar.


sampai di meja akad, ibu Mia dan juga Dinar membubarkan diri menuju kursi yang sudah di sediakan.


"katanya tadi sebelum akad mau kesini, kok nggak jadi? " tanya Aldrich begitu sang istri duduk di sampingnya.


"hehehee.. tadi Mia gerogi parah mas, Dinar jadi nggak tega kalau harus ninggalin dia dslam keadaan seperti itu, apalagi syahnya Mia kan sedang disini" jawabnya cengegesan.


selesai akad, acara di lanjutkan dengan resepsi. Azzam dan Mia telah berganti pakaian dengan gaun dan Tuxedo yang tampak serasi di pandang.


Hampir 2 jam Dinar berada disana, ia sangat lelah padahal tak sedang melakukan apa apa, akhirnya setelah berbincang sebentar dengan tamu undangan, Dinar memilih untuk melipir menuju kursi untuk mengistirahatkan tu buhnya.


"enaknya... " begitu duduk, Dinar menghela nafasnya pelan, menikmati nyamannya duduk di kursi yang sedari tadi ingin ia hampiri.


Aldrich yang melihat sang istri sudah beralih tempat pun mencarinya, dan mendapati Dinar tengah duduk sembari membawa banyak makanan di piringnya.


"kamu pasti lelah, setelah ini kita pulang! " ucap Aldrich tiba tiba yang akhirnya membuat Dinar langsung tersedak sebab tak mengetahui kehadiran suaminya


uhuk uhuk


"makan pelan pelan" tegur Aldrich. ia memberikan segelas air putih untuk sang istri


"aku kaget sama mas yang nggak ada hujan nggak ada angin tiba tiba muncul dan ngomong gitu"


"maaf"


Aldrich duduk di samping sang istri yang kembali melanjutkan makannya yang belum selesai.


"habiskan dan setelah ini kita pulang, aku sudah izin sama daddy buat ajak kamu kembali ke rumah"


"tapi kan acaranya belum selesai mas"


"kamu sedang hamil, jadi nggak boleh terlalu lelah, kamu juga harus tidur siang biar badannya lebih fresh"


"ya sudah terserah mas sajalah. aku mau melanjutkan makan ku dulu" Dinar kembali fokus pada piringnya, ia bahkan lupa tak menawari sang suami.


Setelah selesai makan, Aldrich dan Dinar pun langsung pulang sesuai rencana awal


***


3 bulan berlalu.


Hari yang di tunggu Aldrich pun tiba, rencana awal ia ingin babymoon pun kini akan segera terlaksana setelah kemarin ia berkonsultasi dengan dokter kandungan sang istri dan keadaan keduanya di nyatakan sehat dan baik.


Aldrich segera mengurus semua keperluannya bersama sang istri, yang rencananya akan bertolak ke Bali.


meskipun dokter mengatakan jika kondisi keduanya sangat baik, akan tetapi Aldrich tetap tak ingin mengambil resiko jika harus melakukan perjalanan yang sangat jauh. akhirnya dengan persetujuan sang istri, ia memilih bali sebagai tempatnya berlibur.


"sayang, sudah? " tanya Aldrich yang melihat sang istri tengah berkemas, tak banyak memang, hanya keperluan mendadak yang ia bawa, untuk pakaian ganti ia bisa membelinya disana.


"sudah mas, tinggal berangkat aja ini"


Dinar menghampiri sang suami yang baru selesai mandi.


"ini baju ganti mu" Dinar menyerahkan pakaian santai untuk sang suami dan langsung di terima oleh Aldrich.


selesai Aldrich telah siap, sebelum mereka keluar dari kamar, Aldrich lebih dulu berjongkok di hadapan sang istri sembari membelai perut Dinar yang sudah membuncit.


"baik baik di dalam ya sayang, setelah ini kita jalan jalan, jangan buat mommy kelelahan dan kesakitan ya" setelah mengatakan hal itu, tak lupa Aldrich mendaratkan kecupan pada pe rut sang istri.


"ayo... " ajaknya begitu ia bangkit.