OH MY WIFE

OH MY WIFE
74



Hari sudah menjelang sore, Al dan juga Dinar tengah bersiap siap untuk menjemput ibu dan bapak di terminal yang kabarnya akan segera sampai.


Al kini telah siap, ia memakai pakaian santai, dengan atasan hoodie berwarna putih di padu padankan dengan celana pendek berwarna navy, tak lupa kaca mata yang telah bertengger di atas hidungnya. ia berdiri menatap sang istri yang tengah mondar mandir dari ruang ganti ke meja rias, ia sampai pusing melihat sang istri yang tidak kunjung berhenti.


"ada yang bisa ku bantu sayang? " tanya Al kepada sang istri yang tengah memeriksa tasnya.


"enggak mas, ini sudah selesai kok, ayo kita berangkat sekarang" ajak Dinar. ia baru saja selesai memakai skincarenya dan kini dirinya telah siap.


"iya.. " Al segera berjalan beriringan keluar kamar dengan sang istri.


***


tak butuh waktu lama, kini Al dan Dinar telah sampai di terminal, keduanya mulai masuk dan mencari keberadaan ibu dan bapak yang katanya sudah sampai dan tengah menunggu mereka di kursi tunggu.


"bapak... ibu... " panggil Dinar mendekat ke arah kedua orang tuanya. ia langsung mwncium punggung tangan kedua orang tuanya disusul Al.


"ya ampun anak anak ibu, ibu kanget banget dama kalian, bagaimana kabar kalian? " tanya bu Rahayu


"Alhamdulillah Al dan Dinar baik bu. kita langsung ke rumah saja ya pak, bu. mommy dan daddy sudah menunggu di rumah" seru Al memberi tahu


"iya bu, pak. ayo kita pulang dulu biar nanti bisa leluasa ngobrol di rumah" Dinar turut menimpali ucapan sang suami. meski hatinya masih rapuh dan sakit, tentu Dinar menahannya dan gak akan memperlihatkan hal itu kepada kedua orang tuanya.


bu Rahayu dan pak Beni mengangguk, mereka berdua juga lelah dan ingin segera istirahat.


mereka berempat kemudian berjalan menuju ke arah tempat parkir mobil, setelah itu Al segera mengambil. mobilnya dan menghampiri istri serta mertuanya yang sedang menunggunya di pos.


"ayo pak bu. silahkan masuk" ucap Al sembari membukakan pintu untuk mertuanya.


"makasih nak Al" ucap pak Beni.


Al mengangguk, setelah memastikan mertuany audah masuk dan duduk dengan aman, ia ssgera menutup pintu kemudian berbalik berjalan menuju pintu kemudi.


"loh, ini nak Al nyetir sendiri? " tanya pak Beni terkejut. pasalnya kurang dari 3 hari lagi mereka akan melangsungkan pesta pernikahan, akan tetapi sore ini Al justru keluar tanpa ada yang mendampingi bahkan ia keluar dengan mengendarai mobil sendiri seperti ini.


"iya pak, memangnya kenapa? " tanya Al heran


"lah kamu ini bagaimana sih nak, kan sebentar lagi kamu akan ngadain pesta pernikahan, ya masak mau keluar nggak ada yang nganterin, nanti kalau di culik b*nci gimana hayo? " ucap ibu disertai candaan. sebenarnya ia hanya khawatir kepada anak menantunya, takut terjadi hal hal yang tidak di inginkan, meskipun memang takdir sudah di gariskan yang di atas.


"hahaa.. ibu bisa saja, ya nggak mungkin lah bu, kan udah ada pawangnya, lagipula jarak antara rumah sama terminal nggak begitu jauh kok. ya sudah boleh kita lanjut perjalanan nya? "


setelah itu Al benar benar melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, ia tak ingin membuat sang mertua khawatir sebab dirinya berkendara dengan kecepatan tinggi. tak butuh waktu lama, akhirnya mobil Al telah masuk di pelataran kediaman utama. hal itu tak terasa sebab di perjalanan, Dinar tengah berceloteh membahas banyak hal dengan ibu bapaknya.


"ya ampun, sudah sampai toh, sampai nggak nyadar loh ibu" seru bu Rahayu, ia kemudian segera keluar dari mobil disusul bapak di belakangnya.


"ayo pak, bu kita masuk" ajak Dinar kepada kedua orang tuanya yang tengah terbengong ketika melihat rumah besannya yang nampak besar dan mewah.


bu Rahayu, meskipun dulu ketika remaja ia sempat berkunjung ke kediaman mommy Citra dan suami, tetap saja ia merasa terkejut sebab bangunan di depannya bahkan jauh lebih bagus dan mewah berkali kali lipat.


bu Rahayu dan pak Beni kemudian mulai masuk kr dalam rumah bersama Al dan juga Dinar, tak lupa ia memberikan salam untuk penghuni rumah tersebut.


"assalamu'alaikum... " ucap pak Beni.


daddy Marcello yang kebetulan akan menyambut kedatangan besannya pun segera menghampiri pak Beni dan bu Rahayu yang masuk ke dalam rumah.


"Wa'alaikumusaallam, bagaimana perjalanan nya besan, pasti sangat melelahkan" daddy Marcello mendekat kemudian menyalami satu persatu besannya itu.


"ya seperti itulah besan, cukup membuat lelah. hahaha... " kekeh pak Beni.


"ya sudah, ayo kita masuk, kebetulan semuanya sudah berkumpul di ruang keluarga" ajak daddy Marcello, karena kebetulan saat ini mereka masih berada di ruang tamu.


daddy Marcello segera mengajak besannya untuk berkumpul dengan para lelaki yang tengah bersantai di ruang keluarga, sementara para wanita tengah sibuk di dapur hingga tak menyadari jika kedua orang tua Dinar sudah datang.


bu Rahayu dan pak Beni hanya mengangguk, mengikuti langkah kaki besannya yang membawanya masuk lebih dalam di dalam rumahnya.


"mbak Ayu! " pekik mommy Citra senang melihat sang kakak sekaligus besan nya sudah sampai di kediamannya.


"maaf ya tadi nggak ikut nyambut di luar" ucapnya tak enak hati.


bu Rahayu menggeleng "bukan masalah besar, lagipula kita bukan pejabat yang harus di sambut sambut seperti itu" kekehnya


"hehe, ya tapi kan kalian tamu penting jadi harus nya di sambut, silahkan duduk mbak, mas Beni" ucap mommy Citra mempersilahkan besannya untuk duduk.


"terima kasih Cit, ". " terima kasih" sahut ibu dan bapak cepat.


setelah mempersilakan bu Rahayu dan pak Beni untuk duduk barulah anak dan menantu dari Marcello satu persatu mendekat ke arah keduanya untuk sekedar berkenalan singkat.