Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)

Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)
Setegar Karang



Dua hari berikutnya adalah hari ulang tahun Kak Sanjeev yang ke-30 tahun, dan seperti kebanyakan pria dalam kategori dewasa lainnya, dia juga tidak ingin adanya pesta perayaan mewah apalagi mesti mengundang banyak orang. Dia tidak menginginkan itu. Katanya yang ia inginkan adalah kehadiran seluruh anggota keluarga Mahesvara dan kami makan malam bersama dengan hidangan orang rumah, itu sudah cukup. Dan tanpa terduga-terduga, secara khusus dia memintaku untuk menyajikan gimbab atau yang juga dikenal dengan nama kimbab, makanan khas Korea, sejenis sushi Jepang alias nasi gulung iris. Katanya dia ingin mencicipinya, barangkali lidahnya sebagai orang India bisa menyukai jenis masakan dari negara orang-orang berkulit putih dan bermata sipit itu. Maka aku menyanggupi. Sebab, seperti itulah setiap tahunnya. Kak Sanjeev tidak pernah meminta hadiah apa pun dariku selain dimasakkan sesuatu sesuai yang ia request, plus kue spektakuler buatanku yang dihias dengan sebatang lilin sebagai kue ulang tahunnya. Dan seperti biasanya, kukatakan kepadanya, "Akan aku penuhi."


Dia tersenyum bahagia. "Kau memang adik yang terbaik. Aku menyayangimu."


Oh, seakan-akan dinding-dinding es itu mulai mencair.


Malam itu semua anggota keluarga Mahesvara berkumpul dan dilengkapi juga dengan kehadiran Neha, meski tidak berdandan dengan pakaian formal, tapi semua orang jelas tidak memakai kaus santai ataupun baju tidur. Kami makan di ruang makan, dengan piring-mangkuk indah: selain kimbap buatanku, tersaji juga salmon panggang, ayam panggang, dan bebek panggang dengan saus jeruk-ketumbar, berikut kentang ***** bumbu bawang putih, selada romaine dengan rosemary vinaigrette, dan anggur Itali yang lezat kata mereka yang menikmati anggur. Tentu saja aku tidak tahu dan aku tidak mencicipinya.


Sebelum makan, kami semua menyanyikan Happy Birthday dan makan kue ulang tahunnya. Kak Sanjeev bahkan membuka beberapa kado untuknya yang rata-rata berisi jam tangan mewah, dasi panjang, dan sepatu kulit yang pas dengan ukuran kakinya.


Sesudah kemeriahan itu, makan malam itu pun hendak dimulai. Yap, hendak. Sebab sebelumnya, ada sebuah pengumuman penting yang sangat membahagiakan bagi seluruh anggota keluarga. Pengumuman itu persis pada saat orang-orang memuji beragam hidangan istimewa yang kami sajikan: hasil masakanku dan Bibi Heera. Menurut mereka, bahkan hanya dengan melihat berbagai jenis menu di atas meja itu, mereka sudah yakin bahwa rasanya enak, begitu menggiurkan, apalagi kalau sudah mencicipinya. Dan, pertama-tama, si kakak laki-laki yang berulang tahun dipersilakan untuk menjadi yang pertama kali mencicipi hidangan mewah itu, Bibi Heera yang mempersilakan. Tentu saja, Kak Sanjeev memilih mencicipi kimbap buatanku terlebih dahulu. Dan, dia sangat menyukainya. Tapi, yeah, apa pun itu, dia memang selalu menyukai hasil masakanku. Tidak pernah tidak, sekali pun.


"Tapi maaf sebelumnya, ya, ini halal, kan?" tanya Vikram. "Dan apa aman jika dimakan oleh ibu hamil?"


Semua orang menoleh, menatap kepadanya dan Nandini.


Setelah mendapatkan perhatian kami, Vikram berkata Nandini tidak boleh makan ikan mentah sepotong pun, sebab kata dokternya, perempuan hamil tidak boleh makan ikan mentah.


Nandini tersipu-sipu, berbinar-binar, dan terkikik.


Kami semua -- setidaknya begitu, maksudku termasuk aku -- menjerit dan bertepuk tangan untuk mereka. Vicky meraih tangan Vikram dengan kedua tangannya dan memberikan ucapan selamat, disusul oleh yang lain. Dan kami yang perempuan, secara bergiliran memberikan pelukan kepada Nandini. Kami semua turut bahagia untuk mereka.


"Jadi, semua masakan ini halal dan aman untuk ibu hamil, kan?" ulang Vikram.


"Tentu saja," Bibi Heera menjawab cepat. "Bibi sendiri yang memastikan bahan-bahannya sebelum Alisah membuatnya."


"Bagus. Kalau begitu mari kita semua makan," Kak Sanjeev bersuara. "Keponakanku harus diberi makan yang banyak. Dan untuk kalian berdua," katanya kepadaku dan sheveni, "semoga kalian berdua segera menyusul."


Semua orang menyerukan aamiin -- dan aku hanya mampu tersenyum. Aamiin, semoga kau juga segera hamil, Sheveni. Aamiin....


Karena berita bahagia tentang si bayi, meskipun aku sangat bahagia mendengar kabar itu -- sungguh, benar-benar bahagia -- tapi tetap ada secuil getir yang merasuki relung hatiku. Mungkin rasa iri sebab aku tidak bisa merasakan kebahagiaan yang sama. Yeah, hanya rasa iri, bukan berarti aku tidak suka mendengar kabar bahagia itu. Sama sekali tidak begitu. Aku hanya merasa iri, sedikit. Dan itu hal yang wajar bila dirasakan oleh seorang wanita yang berada di posisiku, ya kan?


Pun HansH, selain ucapan selamatnya untuk kakakku yang berulang tahun dan untuk ipar-iparku yang kelak akan menjadi pasangan orang tua, dia lebih banyak diam. Tapi dari sorot matanya, aku bisa membaca dengan jelas, dia berharap bahwa istrinya ini akan baik-baik saja.


Dan tentu, aku akan baik-baik saja. Aku tahu aku mampu mengatasi situasiku, juga perasaanku. Aku bukan seorang kekasih yang lemah....