
"Kakak Ipar!" seru Nandini dari arah dapur saat aku kembali masuk dan melewati ruang keluarga. "Ada telepon dari Kak HansH."
Ya ampun... kugelengkan kepalaku karena keheranan. HansH baru saja berangkat dan melambaikan tangan kepadaku, sekarang dia sudah meneleponku ketika aku masuk ke dalam rumah.
Well, kuhampiri Nandini dan kusambut ponsel darinya, menerima panggilan telepon dari HansH. "Halo?"
"Hai, Sayang."
"Em. Ada apa, My HansH?"
"Aku merindukanmu."
"Eh?"
Praktis aku terkikik pelan. Dasar pria gombal! Dia pandai sekali membuatku tertawa.
"Are you happy, Sweetheart?"
"Yeah, of course, My HansH. I am so happy."
"Me too. Semua karenamu. Aku sangat mencintaimu, Nyonya."
"Iya... aku tahu. Jadi ada apa kau meneleponku? Apa ada hal penting yang ingin kau sampaikan padaku?"
"Tentu saja. Membuatmu merasa bahwa aku sangat mencintaimu itulah hal yang sangat penting bagiku sekarang ini."
"Uuuh... manis sekali! Kau benar-benar pria yang paling tampan dan yang paling gombal yang pernah kukenal. Sekarang bicaralah yang serius, ada apa?"
Kudengar ia terkekeh di seberang sana. "Sabar, Sayang... jangan jutek begitu padaku...."
"Oke... aku tidak akan jutek. Jadi... ada apa, My HansH?"
"Tidak, aku hanya teringat, kata Nandini ponselmu pecah."
"Oh, nanti bisa kuperbaiki, kok. Tenang saja. Hanya pecah--"
"Akan kubelikan yang baru," potong HansH cepat. "Kau mau ponsel merek apa?"
"Tidak perlu, oke?" aku menolak. "Aku bisa memperbaiki ponselku."
"Jangan menolak. Kau tidak boleh keluar rumah dan tidak boleh pergi ke mana pun. Walau sekadar untuk memperbaiki ponselmu, aku tidak akan mengizinkan. Kau mengerti?"
"Hmm... aku tahu, tidak ada gunanya membantahmu. Tapi... tolong jangan berpikiran yang aneh-aneh, ya. Aku tidak akan pergi meninggalkanmu. Aku sudah berjanji, kan? Sekarang berkonsentrasilah untuk meeting-mu. Oke, Calon Suami?"
Kudengar ia menghela napas dalam-dalam di seberang sana. "Baiklah," katanya. "Setelah meeting-ku selesai, aku akan segera pulang."
"Em, aku akan ada di sini. Semangat, ya." Kemudian aku berbisik, "Aku mencintaimu."
Aku yakin HansH tersenyum di sana. "Aku juga mencintaimu, Alisah."
Alisah....
Andai aku mendengar lagi kau menyebut namaku dalam ucapan cintamu, My HansH. Aku bukan Alisah....
Tidak. Segera kuenyahkan pikiran itu, mengakhiri panggilan telepon dan aku menghampiri Nandini.
"Ini ponselmu. Terima kasih."
"Sama-sama, Kakak Ipar."
"Kau sedang apa? Apa kau sedang sibuk?"
"Bisa kita mengobrol sebentar? Kalau kau tidak keberatan."
Mata Nandini memicing. "Nampaknya kau sedang memikirkan sesuatu yang sangat serius. Apa tebakanku benar, Kakak Ipar?"
"Em, kurasa begitu. Maksudku... kau benar. Menurutku... hal ini sangat penting bagiku. Jadi... kau punya waktu, Nandini? Bisa kita mengobrol?"
Dia menatapku dan sesaat kukira dia hendak mengatakan lebih banyak, namun dia hanya mengangguk lalu mengajakku pergi. "Kita bicara di dekat kolam renang. Masih ada cukup kopi untuk itu."
"Yeah, tentu saja." Kutuangkan dua cangkir kopi untuk kami berdua, dan segera pergi ke kolam renang. Kehangatan pagi ini ditambah secangkir kopi di tangan masing-masing cukup untuk menemani obrolan kami. Kami pun duduk bersebelahan di kursi malas.
Sambil melipatkan kedua belah tangan di atas kaki, Nandini menatapku. "Kau sudah siap? Apa yang ingin kau bahas denganku?"
Lebih tepatnya yang ingin kutanyakan. Tapi aku tidak bisa langsung ke poin itu. "Emm... begini, yang pertama ingin kubahas adalah... kakakmu sudah menceritakan tentang apa yang terjadi di masa lalu sehingga Sheveni bersikap seperti itu kepadaku. Aku menyesal untuk semua yang telah terjadi di masa lalu. Sungguh."
"Itu bukan salahmu, Kakak. Kami semua percaya padamu. Yah, tentu saja selain Kak Sheveni. Kakak mengerti, kan, bagaimana seorang perempuan yang sakit hati karena sebuah pengkhianatan? Mata hatinya tertutup oleh kesalahpahaman itu. Itulah yang terjadi pada Kak Sheveni."
Aku mengangguk.
"Tapi sungguh," Nandini menjulurkan tangan dan menyentuh lenganku, "selain Kak Sheveni, kami semua percaya padamu. Apalagi Kak HansH, dia bahkan melakukan cek darah padamu. Dia percaya padamu sepenuhnya. Aku serius."
Lagi, aku mengangguk paham. "Tapi tetap saja, sulit untuk mengabaikannya. Sheveni percaya kalau akulah yang sudah menggoda pacarnya. Maksudku, sekarang dia sudah menjadi mantan pacar Sheveni, tapi walaupun hubungan mereka sudah lama berakhir dan Sheveni sudah menikah, dia tetap percaya pada apa yang dikatakan oleh pria itu. Dia tetap membenciku dan menyalahkan aku atas apa yang sudah terjadi."
Menghela napas dalam-dalam, Nandini menatapku dengan iba. "Yeah, sayangnya begitu. Aku kesal sekali padanya, dia tetap menyalahkanmu, Kak. Padahal teman-temannya sendiri yang jadi penyebab utamanya. Kalau saja mereka tidak mencekokimu dengan alkohol, kau tidak akan kehilangan kendali. Lagipula seharusnya dia mengerti, kalaupun seperti itu keadaannya, harusnya dia memahami kalau waktu itu kau sedang mabuk dan... dalam kondisi... terangsang. Kau tidak ingat apa pun, emm... wajar kalau... kalau semisal kau yang menggoda pria itu. Tapi itu hanya misal. Hanya misal, oke? Kami semua percaya padamu."
"Yeah, terima kasih, Nandini. Emm... menurutmu, apa mungkin Sheveni akan berubah, maksudku... apa mungkin dia akan memaafkan aku dan menerimaku?"
Menggeleng. "Aku tidak tahu," kata Nandini, putus asa melingkupi wajahnya. "Jangan dijadikan beban. Yang penting Kak HansH sangat mencintaimu dan kami semua mendukung hubungan kalian. Kalian akan segera menikah."
Aku tersenyum. Waktunya mengubah topik pembicaraan.
Sekarang giliran aku yang menyentuh tangan Nandini. Kugenggam tangannya dengan kedua tanganku dan aku memberanikan diri, kuajukan pertanyaan yang kini berputar-putar hebat seperti lampu disko di benakku. "Boleh aku bertanya tentang masa lalumu?"
Praktis Nandini terkejut mendengar pemintaanku.
Aku berdeham pelan. "Jangan salah paham, ya," kataku akhirnya. "Aku tidak bermaksud buruk. Aku... hanya ingin tahu, karena... kau dan Vikram... kalian berbeda keyakinan, dan kemarin kau mengatakan kalau... pernikahan kalian bukan karen cinta. Maafkan aku, Nandini, kalau aku lancang. Tapi... tentang pernikahan dengan berbeda keyakinan, aku merasa, akan sulit untuk dijalankan." Kutatap ia dengan takut. "Jangan tersinggung, aku tidak bermaksud menilai pernikahanmu, tapi aku mengkhawatirkan pernikahanku dengan HansH. Kau tahu, kan, kalau saat ini kami berbeda keyakinan? Dan yah, aku minta maaf kalau... kekhawatiranku malah membuatku ingin tahu tentang masa lalumu, maafkan aku."
"Baiklah, Kakak Ipar, aku mengerti. Tapi apa yang terjadi kepadaku dan pernikahanku dengan Vikram, itu jelas berbeda dengan cerita cintamu dan Kak HansH. Kau, jati dirimu adalah seorang muslimah, kepercayaan yang diajarkan oleh orang tuamu sejak kau terlahir ke dunia, tetapi keadaan yang membuatmu akhirnya memiliki keyakinan yang lain. Tapi maaf, aku tidak bisa untuk mencampuri ataupun memberikan nasihat untuk hal ini, sekalipun kakakku menginginkan kau kembali pada jati dirimu yang lama, yang seorang muslimah, aku tidak bisa memberikan pendapat apa pun untuk hal ini. Kau harus bertanya kepada dirimu sendiri, apa yang hatimu inginkan, bukan dari sudut pandang cinta, tapi fokus pada kepercayaan yang ingin kau yakini. Dan kurasa kau memang harus mempertimbangkan hal ini sebelum pernikahan. Karena perbedaan keyakinan dalam pernikahan itu cukup mempengaruhi hubungan kita dalam menjalankan rumah tangga. Contohnya rumah tanggaku dan Vikram, aku tidak bisa menaruh patung Dewa di paviliunku, karena bagi Vikram itu bertentangan dalam keyakinannya. Islam tidak mengajarkan umatnya untuk menyembah patung, bahkan menyimpan patung di dalam rumah pun tidak boleh. Dan... yah, contoh lainnya saat dia menjalankan puasa pada bulan Ramadhan, aku yang tidak berpuasa jadi harus ikut sibuk mempersiapkan menu untuk dia berbuka dan saat dia sahur. Tapi, ya, kami selalu mencoba untuk saling menghormati satu sama lain."
Aku tersenyum, merasakan getar aneh di kedalaman perutku. "Lantas, dengan jelasnya perbedaan keyakinan itu, apa alasan yang membuat kalian berdua tetap menikah? Apa aku boleh tahu?"
Cukup lama dia berusaha mengendalikan diri sebelum memberiku jawaban yang sebenarnya, tidak seperti kemarin yang menghindariku dengan alasan yang membuatku tidak enak hati untuk terus bertanya.
"Aku pernah hamil."
Sungguh aku tercengang walau kemarin aku sempat menduganya. "Hamil?" ulangku.
Dia mengangguk. "Aku mengalami pelecehan, Kak. Aku pernah diculik, dan aku diperkosa."
"Oh Tuhan....," aku mendesa* sedih. "Maafkan aku, Nandini. Aku mengungkit lukamu." Kupeluk ia erat-erat. "Aku tidak tahu kalau...."
Dia mengangguk. "Aku tidak apa-apa sekarang. Aku sudah baik-baik saja. Semuanya sudah berlalu."
Aku mengangguk, kulepaskan pelukanku darinya. Sambil mengusap air mata, aku kembali menatapnya dengan penuh harap. "Emm... maaf, apa kau bisa menceritakan kejadian itu kepadaku? Maaf, ya," kataku tulus, "tapi jujur, aku jadi penasaran. Dan kalau aku bertanya pada orang lain, aku tahu pasti akan ada hati yang kembali sedih mengingat luka lama. Tapi kalau aku bertanya padamu, maksudku... sekalian karena kau sudah memberitahuku, aku bertanya padamu saja. Kau tidak keberatan membagi cerita itu denganku?"
Ya ampun, betapa kepo-nya diriku ini.
Please... jangan marah, Nandini....