Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)

Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)
Hari Kasih Sayang



Valentine. Hari kasih sayang. Dalam dunia kecil kami sejak kami kehilangan sosok ibu, aku dan Kak Sanjeev merayakan hari kasih sayang hanya berdua. Sekalipun Kak Sanjeev memiliki seorang kekasih, dia selalu merayakan hari valentine-nya bersamaku, dan barulah dengan pacarnya setelah itu. Aku selalu menjadi prioritas utamanya. Tetapi kali ini, tidak bisa seperti itu. Situasi di antara kami sangat jauh berbeda dengan masa-masa yang dulu. Tapi setidaknya, aku cukup beruntung karena pada perayaan hari kasih sayang kali ini, dia tetap berusaha meluangkan sedikit waktunya untukku.


Berbeda denganku dan Kak Sanjeev yang selalu merayakan hari kasih sayang hanya berdua, HansH selalu merayakan hari kasih sayang bersama dengan adik-adiknya, Bibi Heera, dan, juga pasangan-pasangan dari adik-adiknya yang tentu saja berbeda antara tahun-tahun yang dulu dengan tahun yang sekarang hingga ke masa yang akan datang. Karena sekarang dua orang adiknya sudah menikah, jadi semoga pasangan mereka tidak akan berganti lagi di setiap momen Valentine berikutnya. Lebih dari itu, pada tahun ini, anggota mereka untuk merayakan hari kasih sayang ini justru bertambah satu orang lagi. Kak Sanjeev. Adik-adik perempuannya ingin menyertakan Kak Sanjeev bersama mereka.


Yeah, kakakku itu kakak yang terbaik, dia tidak ingin menolak dan mengecewakan adik-adiknya. Jadi, karena dia ingat bahwa pada hari yang sama dia ada sedikit pekerjaan di London, dia pun berinisiatif untuk mengajak semua orang ke London. Pasti itu juga yang ia lakukan seandainya aku masih tinggal bersamanya, dia akan menyertakan aku dalam perjalanannya ke luar kota.


"Tapi kalau kalian tidak bisa pergi, aku akan berusaha kembali ke Birmingham secepat mungkin, mengejar waktu, aku janji," katanya sewaktu Parvani menelepon.


Parvani yang saat itu sedikit kecewa dan masih belum bisa mengambil keputusan terpaksa menutup telepon dulu. "Sebenarnya itu ide yang sangat bagus, Kakak. Tapi sayangnya kami harus berembuk dulu dengan Kak HansH, karena Kakak tahu, kan, Kak HansH yang mengambil keputusan di rumah ini? Jadi kami harus bertanya dulu padanya."


"Tapi Kakak tenang saja, kami semua akan berusaha membujuk Kak HansH," sela Sheveni pada sambungan telepon dengan loudspeaker itu. Dia nampak sangat bersemangat menerima ajakan Kak Sanjeev.


Tentu saja, Bibi Heera pun tak mau kalah dalam menyuarakan suara. "Bibi juga akan membujuknya. Kita juga sudah lama tidak liburan bersama, kan?"


Antusiasme meningkat dengan begitu cepat, Nandini pun begitu gembira dengan rencana ini. "Aku yakin Kak HansH pasti setuju," katanya padaku. "Kebahagiaan para perempuan dalam keluarganya, itu prioritas utama bagi Kak HansH. Dia kakak yang terbaik." Mata indah Nandini berbinar sewaktu memuji sang kakak.


"Ya, semoga saja dia setuju," kataku persis di saat Parvani menutup sambungan telepon.


Tentu saja benar. HansH mengiyakan. Mana mungkin tidak. "Demi kebahagiaan kalian," ujarnya sewaktu ia baru pulang dari kantor, lelahnya sama sekali tak berarti saat ia berada di tengah-tengah kebahagiaan keluarganya, "kita semua akan pergi ke London."


"Kau yang terbaik, Kakak...!" ketiga adiknya berseru kompak dan berhambur ke pelukannya, dan tak lupa, masing-masing memberikan ciuman sayang di pipi sang kakak.


Kemudian, adegan bahagia itu juga ditimpali oleh Bibi Heera yang juga memeluknya erat-erat, lalu ia pun memberikan kecupan sayang di kening HansH. "Kau keponakan yang terbaik. Bibi sayang sekali padamu."


Uuuh... manis sekali.


"Baiklah, terima kasih atas pelukan dan ciumannya. Tapi kurasa ini belum lengkap. Ada yang kurang." Dia melirik ke arahku.


Persis di saat itu aku tahu benar isi kepalanya. "Maaf, Mr. HansH, aku bukannya tidak ingin. Tapi aku harus menjaga sikap, bukan?" Kukerlingkan mataku dan aku berbisik, "Tunggu nanti setelah kita menikah, kau berhak atas kesempurnaan itu."


Dia mencubit pipiku dengan gemas. "Bodohnya aku karena setuju menikah bulan depan. Harusnya kita menikah saja besok."


"Omong-omong, kau akan memberiku hadiah apa di hari kasih sayang ini?"


Eh? Apa?


HansH cengar-cengir. "Kau wajib memikirkannya. Tapi ingat, ya, aku tidak menginginkan hadiah yang mahal. Aku hanya menginginkan sesuatu yang sangat berarti, yang akan selalu kita ingat, dan akan menjadi kenangan yang selalu menyertai perjalanan cinta kita. Jadi, pikirkanlah. Aku sangat menantikan hadiah darimu."


Ya ampun, auto pusing. Apa yang harus kuberikan? Ada-ada saja permintaannya.


Yap, dengan tak sabar malam itu Parvani mengabarkan kabar bahagia itu kepada Kak Sanjeev, Kak Sanjeev yang sama antusiasnya pun meminta izin untuk menyertakan Neha untuk ikut bersama kami. Sama seperti ia menyayangiku, Kak Sanjeev pun menyayangi Neha dan menganggap Neha seperti adiknya sendiri, walaupun kadang-kadang Kak Sanjeev sering mengeluhkan kebisingan yang ditimbulkan oleh gadis itu. Tapi selebihnya, aku tahu dia menyayangi Neha seperti ia menyayangiku. Setidaknya begitu, hubungan yang terbentuk selama belasan tahun membuat kami peduli pada satu sama lain. Menurutku, rasa peduli adalah bentuk lain dari kasih sayang. Bukankah begitu?


Sehari sebelum keberangkatan kami, kecuali Kak Sanjeev, kami semua berkumpul di kediaman Mahesvara, penuh semangat menjelang apa yang menanti kami. Sheveni dan Nandini sudah menyusun rencana perjalanan untuk kunjungan kami ke London dan mulai mengobrol dengan seru tentang toko-toko yang ingin mereka datangi serta aktivitas bernuansa Valentine yang mutlak harus kami nikmati selama waktu singkat kami di ibu kota.


Perutku dihinggapi kawanan kupu-kupu selama dua hari, campuran antara kegirangan kanak-kanak akan perjalanan itu serta menyadari bahwa aku akan menyaksikan kakakku dan keluarganya yang akan melewati hari kasih sayang dalam kebersamaan, kehangatan, dan kebahagiaan. Angan-anganku yang indah.


Dan sungguh, senyum Kak Sanjeev ketika dia tiba di kediaman Mahesvara sebelum kami berangkat mengungkapkankan perasaannya, sementara yang lain asyik terlibat dalam pembahasan seru, dia memanggilku ke luar rumah.


"Bagaimana kabarmu?" tanyanya, rona merah lembut menghangatkan pipinya.


Aku tahu dia sangat bahagia. "Aku baik, Kakak. Aku bahagia untukmu."


"Terima kasih." Dia mengulurkan lengannya. "Peluk dulu, yuk? Aku sangat merindukanmu."


Dengan bersyukur aku menerimanya, tidak keberatan sama sekali ketika pelukan itu berlangsung lebih lama dibanding biasanya, dan sangat erat. "Aku juga sangat merindukanmu," sahutku, menyebabkan senyum bahagia kembali terukir indah di wajah Kak Sanjeev.


Persis di saat itulah aku memohon di dalam hati. Aku ingin Tuhan mendamaikan hatinya hingga ia bisa menyayangiku selalu, menyayangi adik-adik perempuannya, dan semua anggota keluarga Mahesvara, tidak terkecuali HansH.


Aku mohon, Tuhan. Aku mohon....