Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)

Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)
Panik!



Meminimalisir kebohongan, hanya itu yang bisa kulakukan saat ini. Kejujuran adalah tindakan yang paling belum tepat untuk kulakukan sekarang, tapi untuk terus menambah daftar kebohongan yang lebih banyak lagi, aku juga enggan melakukannya. Sebaliknya, untuk terus diam dan melanjutkan kebohongan yang sudah terlanjur terjadi, itulah yang tidak bisa kuhindari. Namun aku harus meminimalisir segalanya.


Seperti pada saat ini, di saat aku dihadapkan dengan makam kedua orang tua Alisah, aku tidak ingin berpura-pura sedih ataupun menunjukkan rasa kehilangan, sebab itu memang tidak kurasakan karena sejatinya aku bukanlah Alisah. Jika aku berpura-pura sedih sebagaimana mestinya jika Alisah yang asli berada di tempat dan saat yang sama di mana aku berada saat ini, itu berarti aku menambah banyak daftar kebohonganku kepada HansH. Aku tidak ingin melakukannya. Jadi, selama di pemakaman aku bersikap biasa saja, aku lebih banyak diam, dan lagi-lagi HansH mengira reaksiku yang demikian itu efek dari lupa ingatan yang ia kira benar-benar kualami.


"Aku berharap suatu saat ingatanmu kembali," HansH berkata seraya menggenggam lembut tanganku. Kami duduk bersebelahan, berjongkok di sisi makam orang tua Alisah dan baru saja selesai memanjatkan doa untuk kedua orang tuanya. "Semoga nanti kau bisa kembali mengingat semua kenanganmu. Tidak hanya tentang kita, tapi juga tentang kedua orang tuamu. Aku ingin kau kembali mengingat bagaimana besarnya cinta dan kasih sayangmu kepada mereka. Aku yakin, rasa itu akan kembali tumbuh di hatimu. Semoga, ya, Sayang."


Tidak ingin berkata ya untuk sebuah kebohongan, aku hanya tersenyum kepadanya. Dan sekarang aku dilema, aku menginginkan jati diri Alisah sepenuhnya, tapi aku sangat takut jika suatu saat HansH mengetahui kebenaran tentang siapa sebenarnya aku, dan aku akan kehilangan dirinya. Sebab yang terjadi padaku ini bukanlah seperti sinetron yang hanya tentang kebohongan, ataupun seperti saudari kembar yang di mana mereka bertukar kehidupan. Yang terjadi kepadaku lebih dari itu semua, kebohonganku terlalu besar, aku bahkan melakukan tindakan operasi wajah sehingga akhirnya aku berada di titik ini. Kehidupan yang tak seharusnya kumiliki.


Bagaimana kalau HansH sampai mengetahui yang sebenarnya? Bukan sekadar akan kembali merasakan sakitnya patah hati karena dibohongi, tapi dia akan kembali merasa kehilangan sebab kenyataannya Alisah yang asli sudah meninggal dunia, dan Kak Sanjeev sudah memakamkannya. Kalau HansH sampai mengetahui semua yang kulakukan ini, tentang tindakan kriminal yang kulakukan ini, bisa saja -- bukan hanya kehilangan dirinya dan kehidupan indah bersamanya, lebih dari itu, hidupku juga pasti akan berakhir di penjara.


Kuhela napas dalam-dalam dan rasanya kepalaku sangat pusing karena memikirkan hal ini.


"Ada apa?" tanya HansH khawatir. "Kau merasa pusing?"


Aku mengangguk.


"Kalau begitu ayo kita pulang." HansH berdiri, memegangi bahuku dan menarikku bangkit. "Maafkan aku kalau kata-kataku tadi membuatmu berpikir terlalu keras. Jangan dipaksakan. Tidak apa-apa kalau... yeah, kalau takdirnya kau tidak bisa mendapatkan ingatanmu kembali, apa boleh buat. Yang penting kau sehat, dan kau ada di sini, kembali ke dalam hidupku."


Lagi, aku menyunggingkan senyum. "Bisa kita tidak usah terus-terusan membahas hal ini? Jujur... aku... aku merasa terbebani. Tolong?"


Mengangguk, HansH mengutarakan permohonan maaf-nya lagi. Rasa bersalah tersirat nyata di matanya.


"My HansH, boleh kita duduk di sini sebentar?" tanyaku. "Emm... sebaiknya di mobil. Ada yang ingin kutanyakan padamu."


HansH memicingkan mata. "Kau terlihat begitu serius. Ada apa?"


"Di mobil. Aku tidak nyaman berada di tengah-tengah pemakaman seperti ini."


Nyaris tergelak, HansH berusaha menahan tawanya. "Yeah, Alisah-ku yang penakut. Aku heran, kenapa amnesiamu tidak membawa pergi saja rasa takutmu itu."


Aku memberengut. "Tidak lucu!" protesku. "Amnesia hanya membawa pergi ingatan, tahu! Bukannya sifat dasar manusia!"


"Yap! Kau benar sekali! Sekarang aku sependapat denganmu. Rasa takut itu sifat dasar, sama persis dengan cintamu. Sebab itulah, seperti rasa takutmu yang masih ada, cintamu juga masih ada untukku. Karena itu tulus dari dasar hatimu, ya kan, Sayang?"


Oh, manis sekali! Aku tergelak karenanya. "Kau pujangga yang tersesat, heh?"


"Yeah, aku tersesat ke dalam hatimu, Sayang."


Huuuh... dia membuat pipiku kembali merona. Aku memilih tidak menyahuti kegombalannya dan akhirnya kami pun sampai ke mobil. HansH membukakan pintu di sisi penumpang dan aku pun masuk lalu duduk, diikuti ia yang memutar dan masuk, duduk di balik kemudi.


Terdiam. Sebenarnya aku sangat ingin bertanya perihal kepercayaan HansH dan saudarinya yang berbeda-beda, yang baru kuketahui tadi pagi saat aku menatap foto Sheveni di ruang keluarga, tanpa sengaja mataku terfokus pada kalung salib yang melingkar di lehernya. Tapi aku merasa saatnya belum tepat untuk aku bertanya mengingat Sheveni yang belum kembali. Tak ingin membuat HansH sedih karena anggota keluarganya sekarang tidak bisa berkumpul utuh, kuurungkan niatku dan kutekan dalam-dalam rasa penasaranku.


Aku menggeleng. "Tidak jadi. Lain kali saja."


"Memangnya apa, sih, yang ingin kau tanyakan? Hmm?" Dia menatapku, menaikkan sebelah alis dan tangannya mulai mengelus sisi kepalaku yang tertutup kerudung. "Tanyakan saja. Tidak apa-apa."


Aku mengedikkan bahu. "Lain kali saja," kataku. "Sekarang keberatan, tidak, kalau kita pergi ke Harry's? Aku merindukan kelezatan sandwich daging dengan telur double, please...?"


"Tentu saja. Apa pun untukmu, Nyonya. Jangankan sekadar telur, apa pun yang double juga boleh."


Eh?


"Apa maksudnya itu?"


HansH terkekeh. "Dasar kau ini, ya! Pikiranmu ke mana? Hmm?"


Tersipu malu. Aku pun ikut terkikik-kikik sementara mobil segera melaju hingga berhenti persis di tempat yang kami tuju. Aku dan HansH masuk ke dalam.


"Biar aku yang pesan dan kau yang bayar. Oke, Suami?" candaku pada HansH. Dia nyengir dan menyerukan oke.


Tentu saja oke. Aku pun memesan dua belas porsi sandwich untuk kami bawa pulang, dan aku baru saja hendak berbalik ketika kudengar suara melengking Neha memanggilku dari arah belakang.


"Zia!"


Aku membeku, sementara HansH yang berdiri di sisiku langsung membalik badan ke arah sumber suara.


Neha?


"Zi...," suaranya terhenti ketika aku berbalik. Raut tercengang dan bahagia yang baru saja menghiasi wajahnya, yang sempat telihat olehku -- seketika berubah di depan mataku. Kegirangan surut menjadi kekecewaan, lalu dia mengerutkan dahi. "Alisah?"


Aku menatapnya, simpul erat terjalin di perutku. "Hai, Neha." Kuhampiri ia dan memeluknya sesaat. "Apa kabarmu? Kau baik? Terakhir kali kudengar katanya kau sakit? Kau sudah baik-baik saja sekarang?" cerocosku.


"Sakit?" Kening Neha seketika mengerut. "Aku... aku tidak sakit. Aku baik-baik saja. Maaf, kau...?"


Sumpah demi apa pun, kepanikan menyergapku dari dalam. Rasanya aku berkeringat dingin.