
Sekantung besar belanjaan dijulurkan Bibi Heera kepadaku pada malam itu, sepulangnya rombongan para pembelanja heboh itu dari aktifitas belanja mereka. Kata Bibi Heera, ia membelikan itu khusus untukku. Dengan antusias, aku pun menyambut dan membukanya, dan, mendapati sepuluh kotak susu khusus untuk program hamil dengan berbagai varian rasa.
"Ya ampun, Bibi. Terima kasih," ucapku, mencoba segirang mungkin dan menyingkirkan jauh-jauh pemikiran perihal HansH yang entah kenapa menurutku dia tidak antusias saat aku membahas tentang kehamilan dan memiliki anak. Aku mencoba berpikir positif, barangkali saja HansH sebenarnya tidak bermaksud begitu. Mungkin karena kami baru menikah, jadi... ah, kau mengertilah maksudku. Aku tidak ingin berpikir negatif dan menyalahkan HansH meski menurutku tidaklah salah kalau sepasang suami istri membahas perihal memiliki momongan kendati baru saja menikah.
Sudahlah, pikirku. Aku kembali memokuskan diri pada apa yang ada di hadapanku.
Bibi Heera tersenyum bahagia. "Sama-sama, Sayang. Bibi doakan kau cepat hamil dan Bibi akan mendapatkan cucu-cucu yang lucu darimu."
"Aamiin." Aku tersenyum dan segera membawa berkotak-kotak susu itu ke dapur apertemen kami yang sederhana lalu menyusunnya ke lemari kayu di atas counter.
Cup! HansH mengecup tengkuk leherku. Dia baru saja masuk ke dapur persis pada saat aku mengaduk susu yang baru saja kuseduh. Aroma stroberi tercium manis di udara.
"Apa itu, Sayang? Milk shake?"
Aku tersenyum. "Memang susu, rasa stroberi. Tapi lebih tepatnya ini susu khusus untuk program hamil.
"Oh."
Hmm... lagi-lagi ia tidak merespons dengan -- sama sekali tidak antusias.
"Bibi Heera yang membelikannya untukku."
HansH berdeham. "Kau yang memintanya?"
"Tidak, kok." Kugelengkan kepala dengan lesu. "Bibi Heera sendiri yang sengaja membelikan ini untukku. Dia berharap aku cepat hamil dan segera memberinya cucu."
Mengangguk. HansH kembali mencium tengkuk leherku. "Baiklah. Tapi jangan dijadikan beban, ya. Santai saja. Dan... selamat menikmati susumu. Nanti giliranku yang menikmati susuku. Susu yang lain."
"Eh?" Aku terbelalak, lalu cekikan. "Dasar kau ini. Mesum!" ledekku kepada HansH.
Dia nyengir. "O ya?" tanyanya seraya menarik bagian rok gaunku ke atas. "Aku mesum?" Tangannya bergerak, mengelus pahaku.
Argh! Itu lebih dari mesum!
Aku meringis. "Di apartemen ini ada banyak orang. Jangan buka-bukaan di sini. Malu, tahu!"
"Well, habiskan susumu." Dia mencium pipiku, melepaskan diri dariku lalu pergi ke kamar. "Jangan tidur terlalu larut, ya," serunya sambil berjalan.
Yeah, itu hanya perasaanku saja. HansH tidak bermaksud tidak antusias. Jangan terlalu banyak berpikir, Zia.
Kuangkat gelas susuku dan membawanya ke ruang tv. Ada Neha di sana dengan sekaleng bir di tangannya.
"Hai," sapaku.
"Oh, hai, Zia. Duduk sini," katanya. Dia tersenyum sambil menepuk-nepuk sofa, di sisinya, di mana ia duduk santai.
"Tentu saja," kataku. Aku duduk di sebelahnya. "Kita belum pernah benar-benar mengobrol santai sejak kau datang kemari."
Neha tersenyum geli. "Bagaimana bisa? Kau pengantin baru. Mana ada waktu santai di luar kamar?"
"Ah, dasar kau ini!"
"Kenyataannya memang begitu. Kau sibuk bercinta, Sayang."
"Ya harap maklum," kataku sambil nyengir, lalu menenggak susu di tanganku.
Neha melirik. "Apa itu?" tanyanya. "Milk shake?"
"Susu untuk program hamil."
"Kau mau?"
"Yeee... carikan dulu suami untukku, Sayang. Percuma aku meminum susu itu kalau tidak ada benih yang masuk."
Iyuuuuuh...! Dasar tidak waras! Dia malah cekikikan.
"Kau masih Neha yang sama," kataku -- tanpa maksud apa pun.
Tapi, entah tersinggung, menyinggung, atau apa, Neha malah berkata, "Maafkan aku yang sempat... kau mengertilah. Sikapku waktu itu membuat hubungan kita jadi...."
Aku tersenyum, memaksakan senyum. "Tidak apa-apa," kataku. "Jangan dibahas lagi. Tapi...," aku menyentuh lengannya, "terima kasih karena kau sudah menjelaskan kepada HansH tentang...."
"Jangan dibahas," Neha menyela. "Tidak ada yang boleh tahu selain kita bertiga, oke?"
Aku mengangguk. Neha benar, pikirku. "Sekali lagi terima kasih."
"Sudah seharusnya. Apa pun untukmu, Zia." Dia memelukku, dan aku membalas pelukannya. Dan pelukan hangat dua sahabat itu berlangsung cukup lama.
Oh, lega rasanya.
"Bagaimana keadaan Kak Sanjeev? Dia baik-baik saja, kan?" tanyaku kemudian. "Apa kalian pernah bertemu, Neha?"
Neha menggeleng lesu. "Entahlah," sahutnya. "Aku tidak tahu harus bilang apa. Secara fisik, dia sehat, dan dia terus menyibukkan diri dengan pekerjaannya. Tapi secara emosional aku tidak bisa menilainya, Zia. Apa dia bahagia dengan jalan yang dia pilih, apa dia memang keras hati hingga tidak peduli pada kehidupanmu yang sekarang, atau dia hanya pura-pura tegar? Entahlah. Jangankan padamu, denganku saja dia menciptakan jarak. Aku merasa seolah dia bukan Kak Sanjeev yang selama ini kita kenal."
Oh, kasihan sekali dia. Andai saja dia meluluhkan hatinya padaku dan Neha.
"Tapi kau tenang saja. Nandini cerita padaku kalau di rumah Kak Sanjeev tidak begitu. Dia berhubungan hangat layaknya keluarga dengan semua adik-adiknya. Termasuk dengan Bibi Heera."
Aku menatap Neha dengan seribu tanda tanya untuk satu pertanyaan, "Serius?"
Neha mengedikkan bahu. "Aku tidak tahu. Itu yang dikatakan Nandini. Kurasa aku percaya."
Yeah, aku mengangguk menyetujui. Kurasa itu benar. Dan aku lega, walau di hati ada sedikit rasa perih: sebab sepertinya aku sudah kehilangan tempat di hati Kak Sanjeev sebagai seorang adik. Tapi tidak apa-apa. Yang terpenting hubungannya dengan keluarganya sudah membaik.
"Kau tidak apa-apa, kan?"
Aku mengangguk. "Aku baik-baik saja," kataku.
"Aku mengerti kalau... mungkin kau merasa kehilangan Kak Sanjeev. Tapi, jangan berlarut-larut. Suatu saat nanti, aku percaya, hubungan kalian pasti akan kembali seperti dulu. Aku percaya itu."
Aamiin. Aku juga ingin mempercayainya sebesar kepercayaanmu, Neha.
"Zia, ingat, ya. Jangan terlalu dipikirkan. Itu tidak akan baik untuk program hamil yang kau jalani. Oke?"
Aku mengangguk, kembali memaksakan senyum.
"Kurasa bagus, kok, kalau sementara kau dan HansH tinggal di ini. Semua orang butuh waktu dan ruangnya sendiri. Lagipula, ini bagus untuk program hamil. Aku berharap kau cepat hamil dan segera memberiku keponakan-keponakan yang lucu. Baik hati, pintar, dan cantik sepertimu."
Cantik sepertiku, atau seperti Alisah?
Hufth... sudahlah. Toh faktor genetik tidak mungkin akan berubah. Barangkali jika kelak aku punya anak perempuan, dia akan mewarisi wajah asliku, wajah Zia. Dan wajah itu akan kembali hadir ke dunia ini. Semoga saja, harapku.
Tapi jangan mewarisi nasib buruk ibumu, Sayang. Cukup aku saja yang menderita dan mengalami banyak masalah dalam hidupku. Aku ingin kelak kau hidup bahagia, memiliki keluarga yang utuh, merasakan cinta dan kasih sayang orang tua kandung, dan, juga saudara kandung. Seorang saudara laki-laki yang akan mencintai dan menyayangimu dengan tulus. Melakukan apa pun untukmu tanpa meminta balasan. Aamiin. Kabulkan doaku, Tuhan. Tolong kabulkan doaku....
Oh, tanpa sadar aku memanjatkan doa itu sambil memegangi perutku.
Sadar, Zia. Belum ada benih yang tumbuh di rahimmu....