
Hari ini, 2 Februari, setelah tabrak lari malam itu...
Perlahan, kelopak mataku terbuka, terlihat kursi lipat biru diduduki seorang gadis muda sambil memainkan ponsel. Sosok asing yang tidak kukenal. Saat aku melihat ke bawah, ada slang mencuat dari tanganku. Aku terbaring di ranjang rumah sakit.
Tenggorokanku sangat perih, aku butuh air untuk membasahi tenggorokanku. Dengan kepala diperban dan luka memar di kepala, aku mendesis menahan rasa sakitnya ketika aku mencoba untuk bangun.
"Oh, kau sudah siuman?" Gadis itu duduk tegak, lalu ia berdiri dan menghampiriku. "Jangan banyak bergerak. Kau masih sakit. Berbaringlah," katanya, lalu ia membantu membetulkan posisiku. "Kau butuh sesuatu?"
Aku mengerjap pelan. "Air?"
"Kau ingin minum? Sebentar, biar kuambilkan." Dia menghampiri lalu mengambil sebotol kecil air mineral dan membantuku minum.
Dengan rakus, kuisap beberapa teguk air melalui sedotan, dan sepotong kecil rasa dingin yang menjalari tenggorokanku terasa sungguh melegakan. Tenggorokanku sedikit bebas dari rasa perih yang menyiksa.
Seraya merebahkan kembali kepala ke bantal, aku berusaha mengingat yang terjadi sementara gadis yang menemaniku di ruangan itu menarik kursi, mendekat ke ranjangku dan kembali mendudukinya. Dia tersenyum. "Bagaimana perasaanmu?" tanyanya.
Sekonyong-konyong, seluruh peristiwa itu kembali membanjiri ingatanku: aku sedang di parkiran hotel, berlari meninggalkan HansH, lalu tertabrak motor. Aku terpental ke aspal kemudian jatuh pingsan.
Harusnya HansH ada di sini. Di mana dia? Apa bukan dia yang membawaku ke rumah sakit? Oh, jangan berharap, Zia. "Aku... kurasa aku baik-baik saja. Emm... kau... siapa?"
"Aku Nandini. Adik kedua Kak HansH."
"Oh, kau adiknya HansH? Salam kenal."
"Kita sudah lama saling mengenal, Kak. Tapi tidak apa-apa, aku mengerti. Kak HansH sudah menceritakan soal kondisimu. Aku turut sedih atas semua yang menimpa Kak Alisah."
Oh, kenyataannya, pura-pura amnesia itu benar-benar berguna. Kenapa aku tidak lupa ingatan sungguhan saja setelah tertabrak motor? Itu akan lebih baik. Aku tidak perlu bersandiwara mengalami amnesia di depan semua orang dan tanpa sengaja pula aku tidak harus membalaskan dendam Kak Sanjeev kepada HansH. Andai saja. Tapi kehidupanku tak akan seberuntung itu.
Dan jelas seperti inilah naturalnya perkenalan di antara kami. Kak Sanjeev sengaja tidak memberitahuku -- juga mencegahku mencari tahu tentang anggota keluarga Mahesvara. Menurutnya itu akan lebih baik, sehingga, di saat pertama kali aku bertemu dengan mereka, aku tidak perlu berakting sok tidak tahu dan tidak mengenal mereka. Dan ini terbukti sebagai awalan yang baik. Perkenalan ini nampak begitu natural. Seperti seharusnya.
Aku melirik ke arah selimut, kemudian ke mesin-mesin yang berbunyi di sampingku. "Terima kasih, Nandini. Kuharap... kita akan berhubungan dengan baik ke depannya. Sebagaimana antara kau dan Alisah yang dulu."
"Pasti, Kak. Pasti. Aku sangat senang melihat Kak Alisah kembali."
Aku tersenyum -- memaksakan senyum. "Sudah berapa lama aku di sini?"
"Beberapa jam. Baru besok diperbolehkan pulang." Nandini mengambil sebotol air mineral yang sudah berkurang isinya dari atas meja dan menyedot isinya banyak-banyak. "Sebenarnya dokter tidak bermaksud menahanmu lama-lama di sini, tapi kakakku yang keras kepala itu memaksa. Sangat mengesankan. Dia masih sangat mencintai Kak Alisah."
Tapi aku Zia. Aku bukan Alisah. Di malam tahun baru itu dia bilang kalau dia mencintai Zia. Apa cinta itu akan kembali kepada Alisah, walaupun sekarang Zia yang menjadi Alisah? Ya Tuhan, aku ingin HansH tetap mencintai Zia, tapi misiku menuntutnya untuk kembali mencintai Alisah. Perasaan ini membuatku dilema.
"Kak, kau menangis? Kenapa?"
Aku menggeleng, kuseka air mata seraya menyunggingkan senyuman palsu. "Aku hanya terharu. Sudah setahun lebih dia... kami terpisah, tapi dia masih mencintaiku."
"Itulah istimewanya cinta kakakku. Kak HansH sangat mencintaimu dan sama sekali tidak berkurang sedikit pun. Kau gadis yang beruntung."
Oh... manis sekali. Kata-katanya membuatku tersenyum. Aku mengaminkan kata-katanya yang terakhir. Aku ingin kembali menjadi gadis yang beruntung. Mungkin saja, barangkali Tuhan akan mengubah takdirku ke arah yang lebih baik. "Aamiin. Omong-omong, HansH... dia... di mana?"
Ceklek!
Pintu terbuka.
"Aku di sini."
Ah, pria itu. Wajahnya yang tampan dan senyumnya yang menawan membuat hatiku berdendang ria, berbanding terbalik dengan jantungku yang mulai berdetak lebih cepat dan membuatku salah tingkah.
Aku tersenyum malu, debar-debar di dada semakin terasa saat HansH mendekat dan ia duduk di sampingku, menghadapku.
"Ini, sang pangeran sudah kembali," goda Nandini. "Beruntung aku datang ke sini dan menyuruhmu pulang untuk mandi. Kalau tidak, Kak Alisah bisa melihat tampangmu yang kusut karena tidak tidur semalaman." Nandini berpaling kepadaku, dia tersenyum ceria, nampak sangat bahagia untuk kakak lelakinya. "Dia sangat mencemaskan keadaanmu, Kak. Kau lihat matanya, dia pasti menangis semalaman."
Uuuh... lucu sekali. HansH tersipu. Senyum manis kembali terbit di wajahnya. "Iya, terima kasih, Adikku Sayang. Terima kasih juga untuk parsel buahnya. Kau bisa pulang sekarang."
"Oh, kau mengusirku, Kak?"
"Ayolah... pengertianlah sedikit."
"Akan kuberitahu Bibi kalau kau hanya ingin berduaan di sini."
Kembali, HansH tersenyum senang. "Terserah padamu saja. Yang penting, jangan ganggu kakakmu. Oke?"
Nandini balas tersenyum lalu meraih tas tangannya. "Baiklah. Selamat bernostalgia kalau begitu."
Bernostalgia? Bagian yang mana? Bagian dia menciumku seperti malam itu? Argh! Ini pria yang harus kuhancurkan hidupnya demi Kak Sanjeev. Tapi aku sangat mencintainya, Tuhan....
"Aku pergi, ya. Semoga lekas sembuh." Nandini memelukku dan berbisik, "Kau penyempurna kebahagiaan kakakku. Tolong bahagiakan dia."
Aku hanya bisa membalasnya dengan anggukan. Nandini tersenyum tulus kepadaku, dia melambaikan tangan lalu berjalan keluar ruangan.
"Bye...."
Dan pintu kembali tertutup.
"Selamat pagi."
"Em, selamat pagi. Aku...."
"I love you."
"Eh? Kau...?"
"I love you, Alisah... atau Zia? Siapa aku harus memanggilmu? Dengan identitas yang mana?"
Aku tertunduk, gelisah.
"Dengan identitas yang mana pun," --HansH menggenggam erat tanganku, dia menatap mataku dengan sepenuh cinta-- "aku tetap mencintaimu. I love you. I love you so much, Sweetheart. Aku tidak peduli identitas barumu. Yang aku tahu, aku sangat mencintaimu. Hanya dirimu."
Oh Tuhan, HansH menyebabkan gelembung-gelembung kebahagiaan meledak-ledak di dalam jiwaku. Air mataku menetes, menangis dalam senyuman.
"Aku juga mencintaimu. I love you. I love you too, My HansH...."
Seketika, HansH memelukku. Merengkuh tubuhku dengan begitu erat. Sangat kuat.
"Terima kasih, Sayang," ujarnya. "Terima kasih."
Aku mengangguk, masih menangis bahagia di dalam pelukannya. Oh Tuhan... kuhela napas dalam-dalam saat dadaku disesaki oleh berjuta kebahagiaan. Begini rasanya... hangat dalam pelukan pria yang kucintai.
Aku bahagia. Sangat -- sangat bahagia.