
Semburat mentari pagi sungguh gemerlap. Kepermaian kota memanjakan mata. Dan deretan pohon hijau yang menghidupkan. Meskipun begitu, pandanganku tetap saja seakan terasa gulita. Aku merasa masih ada tanya yang belum terjawab, tanya yang terus mengusik dan mengikis rasa nyaman hingga pagiku senantiasa bagaikan jauh dari ketenangan. Sungguh aku penasaran: apakah benar HansH yang memiliki kekurangan itu, ataukah aku? Jika memang aku si pemilik kekurangan itu dan HansH bermaksud menutupinya dariku, bagaimana HansH bisa tahu?
Iya, kan?
Sungguh, aku saja tidak tahu bagaimana kesehatanku -- kesuburanku. Dan aku juga belum pernah melakukan cek kesuburan, apalagi memeriksakan diri bersama HansH. Jadi harusnya HansH juga tidak tahu, kan, bagaimana riwayat kesehatan rahimku? Dan sekalipun tidak ada hubungannya dengan HansH, tetap saja, kenapa kata-kata Sheveni semalam begitu menelusup begitu dalam ke dalam benakku? Kenapa aku begitu terganggu dengan dugaan yang dilontarkan oleh Sheveni? Bukankah itu berarti kecurigaanku sama sekali tidak beralasan?
Tapi demi ketenangan hati, pikiran, jiwa dan ragaku, aku mesti melakukan test kesuburan.
Namun tidak segampang itu. Jika benar adanya akulah yang tidak sempurna, pasti HansH akan berusaha menutupi hal itu dariku, mungkin demi menjaga perasaanku, bisa jadi. Bagaimana pun caranya, pasti dia tidak akan membiarkan aku memeriksakan diriku, dia akan menghalangiku, atau bahkan meski ia membiarkanku melakukan pemeriksaan itu, mungkin ia akan memalsukan hasilnya. Begitulah pemikiranku tentang semua ini.
Alhasil, aku memutuskan untuk meminta bantuan kepada Kak Sanjeev untuk bisa menyusup keluar dari kediaman Mahesvara tanpa diketahui oleh HansH. Menurutku, hanya Kak Sanjeev satu-satunya anggota keluarga yang bisa menyelundupkan aku keluar dari gerbang istana ini tanpa sepengetahuan HansH, tanpa sepengetahuan anggota keluarga lainnya, dan juga dari security dan para bodyguard di area depan rumah. Dan Kak Sanjeev harus bersedia membantuku.
Well, satu minggu berlalu. Masa libur lebaran kini sudah berakhir. Semua anggota keluarga laki-laki dalam keluarga kami sudah kembali menyibukkan diri dengan pekerjaan mereka. Tidak terkecuali HansH dan Kak Sanjeev. Inilah saatnya aku bertindak.
Agak merepotkan memang, aku sengaja baru menghubungi Kak Sanjeev setelah HansH benar-benar berangkat bekerja, itu artinya Kak Sanjeev pun sudah berangkat bekerja. Kuhubungi ia via telepon dan kujelaskan perihal rasa resah dan gelisah yang melandaku sejak Sheveni melayangkan dugaannya kala itu.
"Ya ampun, Sayang," komentar Kak Sanjeev di ujung telepon, "untuk apa, sih? Kau tidak perlu memikirkan omongan Sheveni. Jangan dimasukkan ke dalam hati, ya? Oke?"
Huh! Seandainya bisa aku juga inginnya begitu. "Tidak bisa, Kakak. Kecurigaan Sheveni itu menggangguku. Bagaimana kalau memang benar seperti itu kenyataannya?"
"Itu tidak mungkin."
"Kemungkinan itu ada."
"Hei, Zia, kata-kata adalah doa. Jadi berkatalah yang baik-baik saja. Kau jangan--"
"Oh ya ampun, Kakak. Aku tahu. Dan aku tidak bermaksud berharap aku ini--"
"Kalau begitu tidak usah dipikirkan dan kau tidak usah mencari tahu. Abaikan saja."
"Lalu ketenangan hatiku? Bagaimana dengan itu? Aku tidak bisa tenang kalau aku tidak tahu kebenarannya. Aku terganggu. Aku merasa tidak nyaman, Kak."
Bisa kudengar rasa frustrasi dari helaan napas Kak Sanjeev di seberang sana. "Lalu apa yang kau inginkan sekarang? Apa yang bisa kulakukan untuk membantumu?"
"Aku mau melakukan pemeriksaan, tapi tanpa sepengetahuan HansH."
Kenapa? Otomatis Kak Sanjeev bertanya.
"Jangan terlalu banyak bertanya, Kak. Aku tidak tahu... maksudku... entahlah. Tapi aku ingin menjaga perasaan HansH. Menurutku lebih baik dia tidak usah tahu apa-apa soal pemeriksaanku. Lagipula aku takut kalau hasilnya... mengecewakan."
Kak Sanjeev berdeham. "Jadi?"
Duh... banyak sekali mauku.
"Baiklah. Aku akan pulang sekarang. Kau telepon Neha, minta tolong dia untuk menjaga Malika karena kita tidak mungkin membawa Malika ke rumah sakit. Nanti kutinggalkan mobilku di basement. Kau segeralah menyusup sementara aku mengalihkan perhatian orang-orang yang ada di rumah."
Deal. Rencana yang bagus. Kak Sanjeev memang ahlinya. Dan sesuai rencana, aku menghubungi Neha, dan seperti biasanya, sahabat terbaikku itu selalu bersedia menolongku. Bersamaan dengan Kak Sanjeev yang akan pulang, ia menjemput Neha terlebih dulu di apartemen Neha. Dan begitu tiba di kediaman Mahesvara, setelah sedikit berbasa-basi dengan anggota keluarga lainnya, Neha segera menuju paviliunku untuk menjagakan Malika, sementara Kak Sanjeev mengalihkan perhatian Bibi Heera dan Nandini yang ada di dapur, aku pun menyelinap ke basement, bersembunyi di dalam mobil Kak Sanjeev.
Setelah beberapa menit menunggu, Kak Sanjeev pun kembali ke mobil dan membawaku keluar dari rumah megah itu tanpa sepengetahuan dan tanpa kecurigaan siapa pun.
"Sebelum aku melakukan pemeriksaan ini, aku ingin Kakak berjanji padaku, Kakak tidak boleh mengubah apa pun hasil test-ku nanti. Sekalipun hasilnya mengecewakan, jangan diubah hanya untuk membuatku tenang. Jangan diubah hanya karena Kakak tidak mau melihatku sedih. Tolong berjanjilah, jangan ada kepalsuan, jangan membayar dokter atau menyogok siapa pun, ya? Aku ingin hasil yang real. Aku mohon?"
Dan tawa Kak Sanjeev pecah. "Kenapa kau berpikir seperti itu?"
"Entahlah," kataku. "Karena dalam duniamu, dunia HansH, hal-hal semacam ini pasti bisa terjadi."
"Kalau kau tidak percaya padaku, kenapa kau meminta pertolonganku? Hmm?"
"Karena tidak ada orang lain yang bisa membantuku. Kau satu-satunya saudara yang kupunya."
Kak Sanjeev mengangguk lemah. Bisa kulihat duka menggelayuti wajahnya. "Jadi kau tidak percaya kepadaku?" tanyanya lirih.
"Jangan tanya ini, Kak. Aku tidak ingin masa lalu kembali terungkit," suaraku tercekat, kemudian dengan sayang, kuraih dan kugenggam kedua tangan Kak Sanjeev dalam genggamanku. "Tapi aku ingin hubungan kita kembali seperti semula. Terikat kasih sayang yang tulus. Aku masih adikmu, kan? Kau kakakku...."
Ah, air mata tiba-tiba menggenang dan menetes. Kusaksikan itu juga terjadi di wajah tampan di hadapanku. Dari kedua matanya yang kelabu. "Ya," katanya, suaranya nyaris tak bisa kudengar. "Kau adikku, sampai kapan pun tidak akan pernah berubah."
"Jadi, berjanjilah?"
"Aku berjanji." Dia mengangguk.
"Begitu juga sebaliknya, kan? Jika hasilnya bagus, jangan diubah hanya untuk melanjutkan balas dendam, kau tidak akan melakukan itu lagi, kan?"
Menggeleng dalam derai air mata, kemudian Kak Sanjeev mengangguk. "Aku bahagia melihatmu bahagia, Zia. Batas tertinggi cinta adalah keikhlasan, bukan? Aku ikhlas adikku bersama pria yang ia cintai. Aku bahagia untukmu."
"Oh, Kak...." Aku menyuruk ke dalam pelukannya.
Mataku terpejam. Bahagia. Kurasa aku benar-benar mendapatkan kembali saudaraku seutuhnya....
Dan kini, hangat kurasakan ciuman sayang yang ia singgahkan di keningku. "Maafkan aku atas... kesalahanku yang...."
"Ssst... jangan dibahas lagi. Kita lupakan bagian itu. Aku tidak menyimpan dendam. Tidak ada lagi rasa sakit hati. Sebab, mendapatkanmu lagi sebagai kakakku, itu sudah cukup bagiku. Sungguh. Aku sangat sayang padamu."