
Beberapa jam kemudian, saat jam hampir menunjuk angka sebelas, aku mendapati HansH berdiri di depan meja rias, berdiri rapat di belakangku yang tengah menyisir rambut dalam balutan jubah mandi. Setelah menghabiskan waktu meringkuk malas di tempat tidur dalam pelukan satu sama lain, kami mesti beranjak ke kamar mandi, tetapi selagi menunggu air memenuhi bathtub, aku menggunakan waktu untuk menyisir rambutku yang kusut berantakan, dan HansH malah berdiri tepat di belakangku. Ia menatapku di cermin. Aku merasa ada sesuatu yang mengusik benaknya.
"Ada apa?" tanyaku. "Ada yang mengganggu pikiranmu?"
HansH membungkuk untuk menyapukan bibirnya di keningku. "Maafkan aku karena begitu egois. Aku memaksakan takdir untuk kita bersama. Pernikahan ini... aku merasa seolah-olah aku telah menjebakmu ke dalam... duniaku yang berbahaya."
Agak tertegun, aku menatapnya dengan tak yakin. "Maafkan aku," aku berhasil menjawab. "Tapi aku tidak mengerti apa maksudmu?"
Dengan ragu, HansH beranjak ke meja kecil di dekat ranjang, mengambil amplop surat yang tadi ia lemparkan. Dan dengan ragu pula, ia menyerahkan surat itu kepadaku dan membiarkan aku membacanya.
Bagaimana rasanya, Mr. Mahesvara? Seberapa nikmat bercinta dengan wanita yang telah ternoda? Kejantananmu itu pasti mengingatkan kembali istrimu pada kedua pria pertamanya. Perenggut keperawanannya, sementara kau hanya mendapatkan barang sisa.
Oh, awalnya aku sedikit gemetar membacanya. Namun, pada akhirnya aku berhasil mengontrol diriku sendiri. Aku tidak perlu takut pada apa pun. Tujuan hidup adalah bahagia, dan akhir dari hidup adalah kematian. Jangan terlalu banyak berpikir untuk hal yang hanya menyita waktu. Lalu aku tersenyum kosong.
"Kau tentu tahu kenapa waktu itu kau mengalami penculikan. Semua itu gara-gara aku. Tapi dengan egoisnya aku tetap memaksamu untuk berada dalam pernikahan ini. Dengan risiko... maafkan aku. Tapi sungguh aku mencintaimu. Aku tidak sanggup hidup tanpamu."
Aku berdiri, memiringkan dagu untuk mendongak menatap HansH. Mataku tiba-tiba berkaca-kaca. "Aku tidak apa-apa. Aku tidak takut," kataku. "Lagipula aku percaya kau akan selalu melindungiku. Kita sudah menikah, tidak akan ada alasan aku pergi darimu."
Seberkas rasa takut menusuknya. "Walau hidupmu selalu dalam bahaya? Kau berani mempertaruhkan hidupmu?"
"Bekali saja aku dengan senjata. Aku bisa beladiri walau sedikit, tapi aku sangat mahir menembak. Sasaranku tidak mungkin bisa menghindari bidikanku."
HansH mengangkat satu alisnya. "Aku tidak pernah menyangka kau memiliki keberanian sebesar itu."
Dengan lembut, kurangkulkan lengan di sekeliling leher HansH dan membuka mulut kepadanya. "Apa pun bisa kulakukan dalam keadaan terjepit. Dan kau, apa yang bisa kau lakukan dalam keadaan terjepit?"
Menyadari makna lain dari maksudku, HansH pun tertawa geli. "Aku tidak tahu," sahutnya. "Tapi aku suka terjepit bersamamu."
"Maksudmu terjepit padaku?"
Aku mengerling nakal dan HansH kontan merasa gemas. Lalu, kurasakan lututku melemah ketika ia menjilat bibirku dengan lidahnya. Dia berkata, "Boleh aku menjilat di bagian lain?"
Auw...! Dasar! Tapi aku tak mampu menggeleng, tidak sanggup menolak dalam cara apa pun. Kemudian, sewaktu aku menunduk menghindari tatapan HansH, tali pengikat jubah mandiku sudah ia lepaskan, dan mulai menurunkan jubah dari bahuku, dan ia mengecupnya. Kemudian, pada detik berikutnya, ia memojokkanku ke dinding. Sebelum memenuhi keinginannya, ia mendaratkan satu ciuman rakus ke bibirku. Meluma* dengan buas. Namun pada saat yang tidak tepat, ketukan mendesak lainnya terdengar di pintu.
HansH menyentakkan mulut dariku. "Ya Tuhan, ada apa lagi sekarang?" ia mengutuk ke arah pintu yang mengganggu itu.
Setelah berhenti sejenak, bodyguard HansH berbicara melalui panel kayu yang berat itu. "Paket lain, Tuan," sahutnya ragu-ragu.
"Tangani sendiri, Josh!" raungnya. "Haruskah mengganggu hal yang mendesak di dalam sini?"
Satu lagi kesunyian panjang menyusul, saat di mana aku harus membekap mulutku untuk menahan tawa kecil di bagian depan dada HansH yang bidang.
"Boleh aku menyingkir sekarang?" tanyaku mengusir keheningan. "Bathtub-nya sudah penuh."
Tiba-tiba HansH menyadari hal itu. Seolah tatapannya bisa menembus dinding, ia menoleh ke arah kamar mandi. "Baiklah." Dia meraihku ke dalam gendongannya. "Mari lanjutkan kemesraan kita di kamar mandi."
Hmm... dasar. Tapi toh aku tidak mungkin menolak. Dengan kedua lengannya yang kekar, HansH membawaku ke bathtub.
Gelembung-gelembung menggelitik hidungku saat aku mencondongkan tubuh ke depan sementara HansH menelusuri punggungku dengan jemarinya yang bersabun. Kamar mandi itu gelap, hanya diterangi pendar lembut lilin-lilin yang berkedip, dan tercium wangi sabun dengan aroma apel segar yang manis di udara.
Aku mengangguk, walaupun menurutku pribadi HansH agak kaku dan tidak cocok untuk skenario percumbuan sebab jiwanya yang tidak romantis itu, tapi okelah. Kendati rasanya membuatku geli.
"Keinginanmu adalah perintah bagiku," kata HansH sambil meraih remote control.
Aku bersandar santai di dadanya, lengannya memelukku, bibirnya... bibirnya... bunyi menyebalkan apa, sih, itu? CD tersangkut? Kedengarannya tidak seperti... seperti...
Telepon!
Sialan!
Menyebalkan sekali....
Kujulurkan tangan meraih ponsel di sisi bathtub.
"Halo?" jawabku dengan napas tertahan ke layar ponsel.
"Ini dengan Nyonya Mahesvara?" sapa suara jahil Neha di seberang sana.
"Tentu saja," kataku sambil menikmati sentuhan jemari HansH yang menelusuri punggungku, membuatku nyaris tak mampu menahan *esahan.
"Hei, kau sedang apa di sana?" tanya Neha, curiga karena desisan, lebih tepatnya *rangan nikmat yang tertahan.
Oh, aku salah tingkah. "Tidak," sahutku. "Aku tidak sedang melakukan apa-apa. Emm...."
"Ya ampun, kau sedang bercinta, ya? Apa kalian tidak lelah?"
Ya ampun....
"Kau ini, sembarangan. Aku sedang di kamar mandi, tahu! Mau mandi."
Neha tertawa. "O ya? Aku tidak percaya. Tapi okelah, kami semua memahami. Hanya saja, jangan lupa acara makan siang kita hari ini."
Oh, aku lupa. Acara perayaan ulang tahun HansH! Keluarganya ingin merayakannya!
"Aku tutup teleponnya, ya. Bye, Neha!
Tut! Sambungan telepon terputus.
"My HansH," kataku, kuletakkan kembali ponselku ke tempat semula dan aku berputar duduk menghadapnya. "Maafkan aku. Aku tidak tahu kenapa bisa lupa mengucapkan selamat ulang tahun padamu."
Tapi HansH malah tersenyum. "Tidak apa-apa. Aku mengerti pikiranmu sepenuhnya hanya tertuju pada acara pernikahan kita. Jadi, it's ok," HansH berkata seraya meluruskan kakinya ke depan melewatiku hingga aku duduk di atas pahanya. "Tidak apa-apa, kok." Lengan HansH melingkari pinggang, menarikku ke arahnya lebih dekat, dan ia bicara satu senti di depan wajahku. "Walaupun tidak ada ucapan selamat ulang tahun darimu, yang penting aku sudah mendapatkan hadiahku, ya kan? Kau... dan... dirimu seutuhnya. Rasa manismu... kegadisanmu yang kunantikan di sepanjang hidupku. Yang kuinginkan lagi sekarang."
Eh?
"Mari, bercinta sekali lagi."