Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)

Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)
Door!



Well, pria itu sebetulnya bisa saja melepaskan diri dengan mudah. Dia bisa saja mendorongku ke samping lalu beringsut menghindariku. Tetapi dia tidak melakukannya. Dia hanya bersandar di sana, bernapas tersengal-sengal, dan bertanya, apa yang ingin kulakukan?


Yang kulakukan adalah mencondongkan tubuhku ke depan, mendekati pria itu, kemudian menangkupkan tanganku di pipinya. Ketika dia masih tidak memberontak, aku menekankan bibirku lagi ke bibirnya, kugerakkan satu tanganku ke belakang dan menguraikan rambutku hingga menjadi tenda gelap yang harum menutupi wajah kami.


Dia bahkan tetap tidak mendorongku saat itu. Bukan karena dia terlalu jantan untuk mencederai wanita. Dia tidak mendorongku karena dia menyukainya... paling tidak pada awalnya. Dia membuka bibirnya di bawah bibirku, mengeran* pelan, dan mengangkat tangannya untuk mencengkeram pinggangku, yang membuktikan anak lelaki, cowok remaja, bahkan pria dewasa -- terkadang bisa bertindak sangat bodoh.


Pria itu menikmati pergumula* ini, terlalu meresapi, tetapi aku tidak. Karena itu aku bisa melihat senjata api yang masih belum terlepas dari tangannya.


"Wow," aku mendengar seruan si pengemudi yang kembali masuk ke mobil. "Kalian panas sekali. Well, maafkan sikapku tadi, Nona. Aku tidak akan kasar lagi. Boleh aku ikut main sekarang?"


Bisa dikatakan kalau aku mengabaikannya meski aku mengacungkan jari tak sopan kepadanya. Apalagi si pria yang kucumbui, dia terlalu sibuk berusaha mendaratkan lidahnya ke mulutku sehingga dia tidak mendengarkan celotehan rekannya, dan... juga upaya yang aku hindari dengan menjauhkan wajahku dan mencium pipinya.


Sialnya dia terus menggerakkan kepalanya sehingga bibirku kembali bertemu mulutnya yang terbuka. Ini sangat tidak menyenangkan, dan aku terpaksa menjauhkan wajahku dengan agak terang-terangan.


Dasar hewan liar!


Dengan semringah dan karena rasa tak sabar, pria itu hanya mengangguk dan entah sejak kapan senjata api miliknya sudah terkapar di bangku penumpang dan ia malah menyentak kancing-kancing dress yang kukenakan hingga terlepas. Dadaku nyaris terekpose sepenuhnya dan pria itu langsung membenamkan wajahnya di dadaku. Mengisa* kuat, meninggalkan jejak bekam kemerahan karena kebuasannya. Bahkan dia membuatku meringis menahan sakit karena kekasarannya. Dan, di saat bersamaan pula, dari arah belakangku, si pria satunya menyentuhkan tangannya untuk menyibakkan rambutku, kemudian ia membenamkan bibirnya ke tengkuk leherku, itu praktis membuatku kaget. Ternyata ia sudah bertelanjang dada dan pindah ke belakang. Dengan kecepatan yang tak bisa kujelaskan, tangan terampilku sigap meraih pistol, menarik pelatuknya dan...


Door!


Dalam gerakan cepat, aku menembak pria di depanku kemudian menghentakkan sikuku ke dada pria di belakangku hingga ia terjengkang ke belakang dan peluru kedua pun dengan cepat menembus dadanya, sebagaimana peluru pertama bersarang di perut pria di hadapanku, peluru kedua bersarang di jantung pria satunya. Keduanya tewas seketika.


Mataku terpejam. Bidikanku tepat sasaran. Dua nyawa sudah melayang di tanganku.