
Ketukan di pintu kamar hotel yang tampaknya tak akan berhenti, membuat HansH menggerutu. Dengan gumaman mengutuk, ia menarik tubuhku lebih dekat, menyesuaikan tubuhnya di sekitar pinggulku yang penuh dan indah, dan kembali menyelipkan satu tangan ke bawah untuk membelai dada.
Ketukan itu seketika terlupakan ketika aku membuat salah satu dari suara-suara kecil yang manis. Yang kutahu kian menggelitik hasratnya.
"Rentangkan kakimu, Sayang," bisik HansH seraya membuka interval kakiku lebar-lebar. "Akan kutunjukkan satu lagi posisi yang bisa membuat istriku yang cantik ini terpuaskan." Dia tersenyum nakal kemudian membelai bagian dalam pahaku.
Ugh! Aku menarik napas tajam terkesiap, kuakui aku sedikit terkejut sekaligus terangsan*.
Tapi ketukan celaka itu datang lagi, dan kali ini, satu bisikan memohon datang bersamanya. "Permisi, Tuan," kata sebuah suara yang samar-samar dari luar pintu, yang ia kenali sebagai Joseph, salah satu bodyguard-nya. "Ada titipan dari kurir paket."
Dengan desa* sengsara, HansH menyapukan ujung jarinya pada lekukan leherku. "Sayang," bisik HansH ke dalam geraian rambut hitamku yang belum sempat kusisir. "Jangan bergerak seinci pun. Aku akan segera kembali. Oke? Tetap dalam posisi seperti ini."
Aku mengangguk, mengiyakan, dan HansH pun turun dari ranjang, berpakaian dengan tergesa dan keluar dengan kunci yang ia simpan di sakunya. Pintu pun segera tertutup di belakang punggungnya yang lebar.
Entah berapa menit kemudian, HansH kembali ke kamar.
"Ada apa?" tanyaku halus pada saat HansH kembali masuk ke kamar hotel kami. Aku masih berbaring miring, nyaris tengkurap. Dengan bersandar di siku dan memiringkan kepala, aku menatap ke arah pintu.
Tetapi, alih-alih menjawab pertanyaanku, mulut pria-ku itu malah jadi kering saat selimut meluncur lepas dari bahuku dan menampilkan kulit seputih gading dari dadaku yang terekspos. Menggiurkan. Di balik kain selimut tebal, pinggul kananku membusung, mengundang. HansH menatapku dengan matanya yang menyala liar.
Menyeberangi ruangan dengan sedikit tergesa, HansH melemparkan sebuah amplop di atas meja kecil di sisi ranjang dan mulai melucuti pakaiannya. "Itu bukan apa-apa," gumamnya. "Bukan sesuatu yang tidak bisa menunggu."
Dengan luwes, ia menyelinap di antara lapisan penutup ranjang, menindih tubuhku dengan tubuhnya, menekan pipiku ke dalam kelembutan ranjang. Tentu dapat ia rasakan lekukan tulang belikatku keras menekan dadanya. Dengan menggoda, ia menyurukkan wajahnya di tengkuk leherku, menghirup aroma tubuhku ke dalam indra pernapasannya.
"Renggangkan kakimu, Sayang," gumamnya, menekankan pusat gairahnya dengan mendesak di *okongku. "Ya, tepat seperti itu, oh, Tuhan!" HansH menarik napas, menyelinap ke dalam lorong yang lembab dan hangat. "Tepat seperti itu. Sssssh... ya ampun, kau benar-benar memabukkan."
Berbaring tengkurap dengan rambut berantakan yang tergerai di atas ranjang, kurasa diriku ini merupakan gambaran nyata dari kemerosotan moral yang sensual. Sebab, menurutku, tak akan mungkin HansH mengetahui hal semacam ini jika ia tidak mempelajarinya -- menonton video khusus dewasa. Tapi sudahlah. Toh, dia pria yang sudah dewasa.
"Sayang?"
"Emm?"
"Bagaimana? Nyaman? Tidak sakit lagi, kan?"
Aku mengerti yang ia maksud. Dan pertanyaan itu membuatku tersenyum malu, lalu aku menggeleng. "Nyaman, kok," sahutku, nyaris berbisik. "Nikmat!"
Kemudian, entah bagaimana, begitu mudahnya HansH membuatku terlentang.
"Ah!" *esahnya saat ia kembali memasukiku, cepat dan keras.
Aku terkesiap oleh serbuan itu. Dengan terlambat menyadari bahwa serangan itu terlalu mengejutkan. Dengan satu *esahan lagi, ia mendorong dirinya makin dalam, menghenyakkanku dalam tekanan yang begitu kuat. Lagi dan lagi, ia melakukannya tanpa henti: membelai, menghunjam, menggoda dengan hasrat. Aku merasa jiwaku terpisah dari ragaku, gerakan HansH yang berirama dan terus-menerus mendorongku ke tingkat kesadaran, tempat di dalam diriku, yang tak kuketahui.
Tiba-tiba...
"Ouch!"
Kedua tangan pria itu berlabuh di dada, mencengkeramku dengan jemari dan kepalan tangannya, membuatku ingin mengeran* bahkan ingin berteriak.
"Ya Tuhan... My HansH...!"
Tapi itu tak berarti bagi HansH. Dia tenggelam dalam perjuangannya menaklukkan diri, menyelesaikan babak ini. Dan ketika ia tak mampu lagi bertumpu dengan lengan berada di atas dadaku, tangannya meluncur turun kemudian bertautan dengan jemariku. Kusadari mata HansH terpejam, ia sedikit memiringkan kepalanya ke satu sisi, rahangnya terkatup erat saat ia terus bergerak di dalam diriku. Dan, butiran-butiran keringat terbentuk di dahinya, mengalir turun ke pipinya, dan menggenang di lembah bertulang keras di bagian bawah lehernya.
Sungguh, dia menyiksaku dalam kenikmatan. Aku terhanyut merasakan ia di dalamku, pun dirinya, sama terhanyut denganku, bersukaria dalam denyutan lembab yang *engisapnya, dan... yeah, menit demi menit berlalu, keringat makin mengucur deras membasaahi kulit, namun pria tangguh itu tetap mendorongku, melampaui kebutuhan dan rasa sakit, menuju pelepasan yang kutahu akan segera sampai.
"Sssssh... ugh! Ya Tuhan! Sssssh... eummmmm!" dia mengeran* tak tertahan. "Kau membuatku gila, Alisah," ujarnya di antara deru napas yang belum stabil.
Dia jatuh sepenuhnya di atasku, memaksa bahuku terbenam ke dalam ranjang, dengan kasar mendesakkan dirinya berkali-kali sampai aku tak mampu berbuat apa-apa kecuali membisikkan namanya.
"Oh, Sayang," HansH mengeran*, kelelahan, suaranya serak. Namun ia masih belum selesai. Giginya terbelit di rambutku saat ia kembali menggigit leherku. Pinggulnya menyentak di tubuhku dua kali lagi, membuat kepala ranjang berderak menghantam dinding. Dia mencengkeramku lebih kencang, menyeretku kepada dirinya, bergidik gemetar, mendorong, berdenyut di dalamku hingga ia terkuras habis. Tak bersisa.
Untuk waktu yang lama, HansH memelukku, bergayut dengan canggung. Rahangnya yang keras dan pantang menyerah, terjatuh di atas keningku, lembab oleh keringat. Pada akhirnya, *esahan, rintihan, lebih tepatnya -- lolos dari bibirnya, dan bahunya bergetar untuk terakhir kalinya.
Perlahan, HansH bergulir ke satu sisi, membawaku bersamanya, dalam kedamaian. Mengistirahatkan diri dari kelelahan yang luar biasa.
Well, dengan cinta, HansH telah menyemburkan benihnya di rahimku, yang membuatku seketika berharap. Ya, benar-benar berharap....
Aku ingin segera memiliki buah cinta bersamanya.