Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)

Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)
Pengorbanan



"Kakak, apa aku boleh menanyakan sesuatu?" tanyaku setelah sarapan kami usai.


Dia mengangguk, meminum seteguk besar espresso miliknya dan berkata, "Mau menanyakan tentang apa? Jawaban dari pengakuanmu kemarin? Hmm?"


Ah, dia meledekku. Kak Sanjeev terkikik senang melihatku cemberut.


"Oke, kau mau menanyakan apa, Sayang?"


"Tentang kakakku yang masih jomblo di usia hampir kepala tiga. Maksudku, aku tidak bermaksud... ini tidak ada hubungannya dengan yang kemarin."


"Mmm... aku mengerti." Dia mengangguk pelan. "Tapi memangnya kenapa? Baru hampir kepala tiga, bukan? Usia bukan patokan, Sayang. Kakakmu ini masih muda."


"Aku tahu. Tapi kan itu usia yang sudah matang. Barangkali Kakak sudah punya rencana, atau... diam-diam Kakak sudah punya calon istri? Siapa? Kenalkan padaku."


Dia menatapku sejenak, lalu kembali berpaling. "Sekarang tidak ada."


"Oh, apa itu berarti sebelumnya ada? Maksudku bukan sekadar pacar biasa, ya. Tapi orang spesial yang Kakak harap bisa menjadi teman hidup Kakak selamanya."


Kak Sanjeev tersenyum kosong, kemudian ia menghela napas dalam-dalam. "Dulu ada," katanya. "Tapi sekarang dia sudah tiada."


"Maksudnya?"


"Dia sudah meninggal."


"Apa?"


"Ya, dia sudah meninggal."


Alisah? Apa yang Kak Sanjeev maksud adalah Alisah? Gadis itu sudah meninggal? Bukan sekadar menghilang? Ya Tuhan....


"Sudahlah. Itu sudah menjadi masa lalu."


"Dia meninggal kenapa? Siapa namanya?"


"Namanya...," --Kak Sanjeev memejamkan mata sejenak-- "Alisah. Dia dihabisi."


"Ya Tuhan, dihabisi? Maksud Kakak, dia... dia sengaja dilenyapkan?"


Mengangguk. Kak Sanjeev mengiyakan.


"Kenapa? Siapa pelakunya, Kak?"


"Tidak tahu. Tapi aku yakin pelakunya pasti dari keluarga Mahesvara."


"Keluarga Mahesvara? Jadi... jadi yang Kakak maksud... Alisah tunangannya HansH?" tanyaku, berpura-pura seakan-akan aku tidak mengetahui apa pun.


Lagi, Kak Sanjeev menghela napas dalam-dalam, seolah oksigen begitu tipis di sekitar kami. "Dia kekasihku. Dia terpaksa menerima perjodohannya dengan HansH karena orang tua Alisah terlibat hutang yang sangat besar dan HansH yang membantu mereka. Untuk membalas budi, Alisah terpaksa menerima HansH dalam hidupnya. Meski dia sama sekali tidak mencintai pria itu. Dia hanya mencintaiku."


Berat, kenyataan ini terasa begitu berat untuk kuterima. Entah, kenapa, aku tidak tahu.


"Kenapa Alisah tidak... maksudku... kalau dia mengatakan hubungannya denganmu kepada HansH, mungkin...?"


Kak Sanjeev kembali menatapku. "Alisah sudah memberitahunya. Dia bilang kalau dia sudah punya kekasih. Tapi pria itu tidak mau peduli. Dia menginginkan Alisah."


"Memangnya HansH pria seperti itu?"


"Kau tidak percaya padaku?"


"Oh, bukan. Bukan seperti itu, Kak."


"Kau baru mengenalnya, Zia."


"Em, ya. Aku tahu."


"Lanjutkan sarapanmu."


"Sebentar, aku... aku masih penasaran, soal pembunuhan, bagaimana Kakak bisa seyakin itu kalau yang melakukan...? Kakak punya buktinya? Atau Kakak mengetahui sesuatu?"


Kak Sanjeev mengangguk, dia terdiam sejenak dan matanya mulai berkaca-kaca. "Tidak semua angggota keluarga Mahesvara menyukai Alisah, terutama adik pertamanya. Hari itu, Alisah dan keluarganya dalam perjalanan ke suatu tempat. Mereka diikuti sekelompok penjahat yang sengaja mengikuti mereka untuk menakut-nakuti, sehingga mereka mengebut laju kendaraan mereka, sedangkan rem mobil mereka ternyata sudah dibuat blong. Alisah sempat mengabariku saat kejadian itu. Dia sangat ketakutan. Waktu itu, saat mobil itu mencapai ke dasar jurang dan sebelum meledak, Alisah terpental dari mobil. Aku mengikuti tim SAR ke TKP, dan aku berhasil menemukan Alisah. Diam-diam aku membawanya pergi dari sana. Aku membawanya ke rumah sakit. Dia mengalami koma. Aku sangat berharap akan ada keajaiban dan dia akan kembali sadar, tapi nyatanya... nyatanya penantianku sia-sia. Dia meninggal. Dia hanya mengizinkanku untuk bersamanya di sisa waktu yang dia punya. Aku kehilangan... aku kehilangan Alisah. Aku kehilangan dia, Zia."


Hatiku sakit melihat Kak Sanjeev menangis dalam penderitaannya, aku ikut merasakan lukanya.


"Aku tidak akan bisa membuka hatiku untuk orang lain sebelum membuat jiwa Alisah tenang. Pelakunya harus tertangkap. Tapi aku tidak tahu bagaimana caranya. Aku tidak punya bukti apa pun. Mobil itu terbakar habis. Dan perihal orang-orang yang mengejarnya, polisi menyimpulkan kalau itu sekadar perampokan biasa, bukan kasus pembunuhan berencana. Sebelum bisa bertindak aku sudah kalah. Aku tidak bisa melakukan apa pun. Aku kalah."


Saat itu, aku bermaksud menenangkan Kak sanjeev. Aku menyentuh lengannya, tetapi, sebelum aku sempat mengatakan sesuatu, Kak Sanjeev sudah memberitahuku hal yang membuatku lagi-lagi mesti berpura-pura terkejut.


"Apa? Kalian... kalian bersaudara?" aku kembali berpura-pura tidak tahu apa pun.


"Saudara seayah. Kami berdua saudara seayah, Zia. Kami terlahir dari ayah yang sama. Tapi dia tidak tahu siapa aku. Dan kau lihat, Zia," --mata Kak Sanjeev meyiratkan kobaran api, tidak hanya luka, tapi juga kebencian dan, dendam-- "dia tidak sekadar merebut Alisah dariku, tapi dia juga merebut semuanya. Ayahku, keluargaku, tempatku dan semua kehidupanku. Dia merebut segalanya."


Detik berselang, aku ingin kembali mengatakan sesuatu, tetapi Kak Sanjeev tiba-tiba berdiri dan masuk ke kamarnya.


"Kak...."


"Aku butuh waktu sendiri."


"Baiklah."


Dan aku terluka. Yang kupikirkan saat itu: andai aku bisa menjadi pengobat luka bagi hatinya. Andai saja....


Beberapa jam berlalu, Kak Sanjeev belum juga keluar dari kamarnya. Hari sudah siang, sudah lewat jam makan siang. Saat itu, aku memutuskan untuk memeriksanya ke kamar dan ingin berusaha membujuknya untuk makan siang bersamaku. Tapi yang terjadi lebih dari itu. Lebih dari yang kuduga.


Saat aku membuka pintu kamar Kak Sanjeev, aku tidak melihatnya ada di sana. Aku yakin dia ada di ruangan pribadinya.


Benar saja, pintu menuju ruangan rahasia itu terbuka. Aku masuk ke sana, menuruni anak tangga, dan mendapatkan kenyataan pahit yang membuat hatiku semakin terluka. Kak Sanjeev duduk menangis di lantai, ada banyak pecahan kaca dari botol minuman beralkohol di dekatnya, dan, saat aku mendekat...


"Kakak...!"


Panik, aku menyaksikan sendiri darah menetes-netes dari lengannya yang terluka. Bukan, bukan pergelangan tangannya. Dia melakukan itu bukan untuk bunuh diri. Dia sengaja menggores-gores lengannya untuk menyakiti dirinya sendiri.


"Kenapa Kakak melakukan ini? Tolong jangan seperti ini, Kak. Aku mohon...."


Dia menggeleng.


"Kakak, berdiri, kita obati luka Kakak, ayo."


Masih menggeleng, dia menolak. "Aku pantas menderita, Zia. Aku pantas. Aku anak yang tidak berguna, kekasih yang tidak berguna. Aku tidak bisa mengembalikan hak ibuku, aku juga tidak bisa menyelamatkan nyawa kekasihku. Apa gunanya aku? Aku pantas merasakan rasa sakit ini." Dia kembali menggores lengannya.


"Kak... cukup...! Hentikan, Kak...!"


"Biarkan saja, Zia...."


"Tolong jangan begini...."


"Aku gagal! Aku gagal, Zia! Kau mengerti itu? Aku gagal!"


Aku terdiam. Kak Sanjeev berteriak keras kepadaku.


"Kau tahu, aku sudah melakukan berbagai cara untuk mencari bukti kejahatan keluarga itu. Aku menyusupkan beberapa mata-mata ke rumahnya, tapi tidak ada yang berhasil mendapatkan bukti! Tidak seorang pun! Para pekerja diawasi ketat, dan mereka tidak diperbolehkan memegang ponsel saat bekerja. Jadi percuma. Lalu, kau tahu, aku membayar banyak gadis untuk mendekati HansH, menjebaknya dalam cinta supaya mata-mataku bisa masuk ke rumah itu, tidak ada yang berhasil. HansH tidak melirik satu pun gadis yang kukirimkan kepadanya. Bahkan Kareena, gadis itu sudah menjebak HansH ke ranjangnya. Tapi apa, gadis itu pun gagal untuk mengikat HansH, jangankan dalam pernikahan, bertunangan saja HansH tidak mau. HansH tidak mengakui kalau dia sudah melecehkan gadis itu. Dia bisa meloloskan diri darinya dengan berbagai cara. Sekarang apa? Bagaimana aku bisa mencari tahu dan mengungkapkan kejahatan mereka? Tidak ada jalan. Alisah-ku tidak tenang di atas sana. Dan ibuku, dia tidak akan mendapatkan keadilan. Dia hanya ingin aku merasakan kasih sayang ayahku. Tapi terlambat, saat aku tahu kenyataan ini, ternyata ayahku juga sudah meninggal. Dan mereka, keluarga mereka menikmati kekayaan ayahku sementara aku tetap harus hidup dengan identitas yang tidak seharusnya. Mahesvara, harusnya itu menjadi namaku. Tempat itu, kehidupan itu, semua itu hakku!"


Aku menggeleng. "Kakak memiliki segalanya. Lupakan saja masa lalu, Kak...."


"Ini bukan tentang harta, Zia. Tapi tentang kehidupanku. Tentang Alisah. Tentang identitas dan kehidupan yang harusnya jadi milikku. Dan tentang mereka, mereka tidak berhak dengan apa yang mereka miliki sekarang. Aku ingin mereka kehilangan semua itu. Kalaupun Tuhan kembali mengizinkan mereka menjadi orang kaya dan ternama, mereka harus berjuang sendiri, bukan dengan hak dan milik orang lain. Kau mengerti itu, Zia? Kau mengerti?"


Aku terdiam.


"Tidak. Kau tidak mengerti. Kau tidak memiliki keluarga yang terikat dengan darah. Kau tidak melihat sosok ibu kandung yang hidupnya diselubungi duka. Kau hanya anak yatim piatu yang dibesarkan oleh ibuku. Kau tidak akan pernah mengerti perasaanku."


Lagi, Kak Sanjeev kembali melukai dirinya.


"Hentikan, Kak! Hentikan!"


"Diamlah! Kau tidak mengerti!"


"Aku mengerti, Kak...! Tapi bukan begini caranya."


"Lalu? Bagaimana? Katakan padaku! Beri aku solusi! Apa kau bisa?"


"Baiklah. Aku akan membantu Kakak. Kita akan pikirkan bagaimana caranya. Oke? Kita obati luka ini dulu, ya? Dengarkan aku, aku mohon?"


Dia mengangguk, lalu, seraya menatap lekat kedua mataku, Kak Sanjeev menaruh telapak tangannya di atas kepalaku. Dia memintaku untuk bersumpah. "Bersumpahlah demi ibu kita, dan demi diriku, kau akan berjuang bersamaku. Kau akan membantuku. Bersumpahlah, Zia."


"Ya, aku bersumpah demi ibu kita, dan aku bersumpah demi Kakak, aku akan melakukan apa pun untuk mencapai tujuanmu, aku akan berjuang bersamamu. Aku bersumpah."


Dia memelukku. "Terima kasih, Zia. Aku akan melakukan apa pun untukmu setelah misi ini selesai. Bahkan jika kau ingin kita menikah, aku bersedia menikahimu. Aku berjanji."


Oh Tuhan, kenapa cintaku seolah menjadi tebusan dan imbalan? Aku ingin dicintai dengan tulus, bukan dengan cara seperti ini....