
Stop makan rujak barang sehari, aku langsung uring-uringan. Kebiasaanku makan rujak belakangan ini bagaikan kecanduan. Tatkala diminta berhenti makan rujak walau baru setengah hari, aku sampai seperti orang linglung karena ingin makan rujak tapi tak kesampaian. Mungkin rasanya sama seperti ketika para pecandu rokok yang dipaksa berhenti merokok: berat, sulit, sama sekali tidak mudah. Seperti itulah rasanya.
Well, sehari bisa kulalui tanpa rujak walau rasanya amat menjengkelkan, namun tetap kupaksakan diri karena rasa mual terus menyiksaku sepanjang hari. Walau aku bisa menahan diri, tapi pikiranku tetap saja terbayang-bayang rasa asam, manis, dan pedas, yang kupikir pasti akan membuatku melupakan sejenak betapa memuakkannya aroma mual yang tertinggal di rongga mulutku. Amat sangat tidak nyaman rasanya. Kurasa HansH salah, sakitku ini karena masuk angin, bukan karena kebanyakan makan rujak apalagi makan pedasnya bumbu rujak hingga mempengaruhi organ pencernaanku. Kalau memang aku mengalami gangguan pencernaan karena rasa asam dan pedas, mestinya aku mengalami diare, bukan? Bukannya mual dan muntah-muntah, ya kan?
Yap, barangkali aku masuk angin. Barangkali karena tubuhku ini belum sepenuhnya terbiasa dengan rutinitas baruku sebagai ibu asuh di mana aku mesti seringkali terbangun saat tengah malam untuk memberikan susu pada Malika yang terbangun, menangis karena lapar, yang berarti jam tidurku berkurang dari biasanya. Dan seperti biasanya selama ini, aku tidak pernah butuh dokter dalam kondisi seperti ini. Yang kubutuhkan adalah tukang urut ahli. Maka Bibi Heera pun memanggilkan lagi tukang urut ke rumah, Bibi Shanti, tukang urut langganannya, yang bulan lalu sudah ia panggilkan untuk mengurutku, dan kali ini Bibi Shanti akan mengurutku lagi untuk ke-dua kalinya, seperti bulan lalu. Tapi bedanya, awal bulan lalu Bibi Shanti sengaja dipanggil untuk pijat kesuburan, tujuannya supaya aku cepat hamil, bukan seperti saat ini, pada pertengahan bulan Juli ini, Bibi Shanti datang untuk mengurutku yang sedang tidak enak badan. Sama halnya seperti keluarga Mahesvara, Bibi Shanti adalah warga India yang menetap di Inggris sejak puluhan tahun yang lalu.
Dan seperti yang kukatakan, ia adalah seorang tukang urut ahli. Aku menikmati bagaimana tangannya menekan lembut tiap jengkal tubuhku. Merasakan saraf-sarafku yang perlahan melepaskan kepenatan bagai menemukan kesegaran baru setelah berhari-hari ditimpa lelah. Pantaslah bila terkadang ada pelanggan yang tertidur saat sedang dipijat. Pijatannya memang luar biasa. Selain itu, Bibi Shanti memiliki pembawaan sikap yang ramah, tidak mengherankan bila orang-orang yang memakai jasanya segera merasa akrab dengan dirinya, dan menjadi pelanggan tetap pijatannya. Dia suka pula menceritakan kisah lucu di sela pijatannya. Bahkan, ia juga tidak segan berbagi rahasia kehangatan ranjang bagi para istri untuk menyenangkan suami. Aku dan Nandini jadi terkikik-kikik saat ia memberikan resep minuman herbal untuk lelaki supaya kuat dan tahan lama. Ugh...! Mantap, katanya.
Ah, sudahlah. Kusimpulkan memang Bibi Shanti adalah tukang urut yang best of the best, keahliannya kuacungi jempol, dan ia tipikal orang yang ramah dan humoris.
Seperti tukang urut pada umumnya, dengan posisi pasien berbaring tengkurap, Bibi Shanti memijat pelanggannya mulai dari kaki: betis, paha, panta*, lalu turun ke telapak kaki dan punggung kaki, setelah itu ke bagian pergelangan kaki, kemudian ia menarik-narik jari-jari kaki hingga mengeluarkan bunyi gemeratak. Berikutnya, ia memijat seluruh bagian belakang tubuh: mulai dari punggung, pinggang, pundak, leher, hingga kepala, barulah kemudian ia memijat keseluruhan bagian tangan hingga ke jari-jemari yang juga menimbulkan bunyi gemeratak saat ia menariknya dalam satu hentakan kuat. Setelah selesai semua bagian itu, ia memintaku untuk telentang untuk memijat area di sekitar dada, area paha depan, dan perut.
Praktis aku menolak untuk diurut bagian perut, seperti selama ini, aku tidak pernah mau diurut di bagian perutku. Menurutku bagian itu terlalu riskan untuk diurut terlebih banyak organ dalam yang tak dilidungi tulang. Lagipula sakit, bulan lalu aku sudah merasakannya. Aku sampai menjerit kesakitan.
Tetapi, Bibi Shanti lagi-lagi membujukku dan meyakinkanku kalau tidak akan kenapa-kenapa. Pun Bibi Heera menyarankan demikian.
"Seperti yang pernah Bibi bilang, jika Tuhan mengizinkan, Bibi Shanti bisa menjadi perantara untuk membantumu cepat hamil," ujar Bibi Heera, sama persis yang ia katakan pada bulan lalu.
Oh, harapan di matanya membuatku tak mampu untuk menolak. Aku pasrah, kubiarkan tangan Bibi Shanti menyentuh perutku.
Bibi Shanti tersenyum semringah karena persetujuanku, lalu ia segera menempelkan telapak tangannya di atas perutku, meraba-raba dengan lembut.
"Masyaallah...," gumamnya kemudian.
Merasa heran, kuperhatikan mimik tua itu, keningnya berlipat-lipat saat ia sedang -- katakanlah sedang melakukan pemeriksaan, memperkirakan, memprediksi, atau apa pun namanya setelah seruannya yang memuji nama Tuhan. Kemudian ia tersenyum kembali. Begitu ceria dan semringahnya.
"Kau hamil, Nak."
Hah? Praktis keningku mengerut dan alisku bertaut. Aku terkejut, mau tidak mau merasa heran. "Apa, Bi? Hamil?"
"Ya. Kau hamil." Tangan tua itu masih terus merasa-rasa, meraba-raba, menekan-nekan pelan perutku.
"Ya, Nak. Semoga benar," Bibi Heera menimpali.
Ah, andai saja situasiku ini seperti situasi normal wanita pada umumnya, barangkali aku akan begitu senang mendengar hal ini, kemudian dengan antusias akan segera menguji kehamilanku dengan testpack. Tapi nyatanya?
Perasaanku jadi tidak karuan. Campur aduk. Aku sedih karena aku tahu aku tidak mungkin hamil. Aku bingung karena tidak tahu bagaimana harus menanggapi situasi ini, terutama di hadapan Bibi Heera dan Nandini. Aku juga tidak bisa memungkiri, ada sedikit rasa senang yang seketika muncul dan menggetarkan, meskipun seketika rasa senang itu langsung lenyap sebab logika bicara: itu tidak mungkin, dan seketika rasa itu berganti menjadi rasa kecewa, tapi juga mengandung harapan -- di mana aku juga merasa: bodoh dan tolol karena telah berharap.
Hatiku ini kecil. Tapi kenapa segala rasa bisa ia rasa secara bersamaan?
Kini harapan dan kekecewaan tengah bertarung di hatiku. Meski aku tahu, kekecewaan tentu yang akan memenangkannya.
"Ah, Bi, jangan bercanda. Mana mungkin," kataku akhirnya dengan mata berkaca yang ingin sekali kusembunyikan.
Segera kututup bagian perutku karena Bibi Shanti tidak jadi mengurut perutku, dan aku lekas-lekas duduk.
"Kenapa tidak mungkin, Nak?" Ia tersenyum, kembali memijat kaki kananku. "Tangan tua ini sudah berpuluh-puluh tahun memegang parut wanita hamil. Mudah-mudahan perkiraan Bibi tidak meleset, ya? Aamiin... aamiin...."
Oh, itulah yang pasti akan diucapkan oleh ibu lain saat ia mendengar kabar baik perihal kemungkinan ia tengah mengandung. Tetapi aku...? Aku ingin mengucapkannya, mengucapkan aamiin, tetapi logika kembali mencegah.
Itu tidak mungkin, Zia. Jangan berharap karena harapan itu akan menyakitimu. Mukjizat itu memang ada, tapi tak akan mencacati medis dan logika. Jika pun terjadi... ah, sudahlah. Sulit untuk dipercaya. Intinya jangan berharap. Jangan berharap, Zia. Jaga hatimu....
"Kun fayakun. Tidak ada yang tidak mungkin jika Tuhan menghendaki. Jika ia berkata jadi, maka jadilah. Sekarang biar Bibi pesankan alat uji kehamilan untukmu. Biar kita tahu jawabannya. Oke? Kun fayakun."
Aku menangis. Aku tak kuasa terus hanyut dalam kebohongan ini, ketidak-terus-terangan yang menyiksa batinku....
"Semoga garis dua, ya, Kakak Ipar. Aamiin..."
Ya Tuhan... haruskah kuaminkan? Perutku kembali mual memikirkannya. Garis dua???
Ugh!