
Sekaku batu. Begitulah gambaran wajah HansH ketika ia keluar dari ruangan dokter dengan sebuah map laporan medis di tangannya. Tanpa mengatakan sepatah kata pun, bahkan tak menggubris pertanyaanku tentang apa yang disampaikan oleh dokter kepadanya, ia mencengkeram pergelangan tanganku erat-erat dan menyeretku hingga ke halaman parkir.
"Masuk!" perintahnya dengan kasar setelah ia membukakan pintu mobil di bangku penumpang.
Aku menggeleng enggan. Benar-benar ketakutan.
"Masuk! Kita pulang sekarang!" Kali ini ia memaksa tubuhku masuk ke mobil dengan kedua tangannya. Dipasangkannya sabuk pengaman ke tubuhku lalu ia membanting pintu hingga berdentum kuat.
Aku baru saja berhasil melepaskan kembali sabuk pengaman yang menahan tubuhku dan hendak keluar ketika HansH membuka pintu mobil. Cepat-cepat ia menarik tanganku bahkan sebelum ia masuk dan duduk di balik kemudi.
"Lepaskan aku! Lepas!" teriakku ketakutan.
HansH berhasil memasangkan kembali sabuk pengaman ke tubuhku, dan entah bagaimana persisnya kini ia sudah duduk di balik kemudi, menancapkan kunci dan menderumkan mesin padahal satu tangannya masih memegangi pergelangan tanganku begitu erat, dan aku berontak, pula. Sedangkan map yang tadi ia pegang entah bagaimana sekarang malah ia duduki.
"Ada apa ini? Kenapa kau jadi kasar begini? Apa salahku?"
Dia enggan menjawab. Namun begitu, kemarahannya terlihat jelas dari kedua matanya meski ia menghindari tatapanku, fokus menatap jalanan dan melajukan mobil seperti orang kesetanan.
Aku menangis tersedu-sedu. "Kau--"
"Diam!" HansH membentakku, membuatku gemetar ketakutan.
Sambil terisak-isak, aku kembali buka suara. "Kau kenapa?" tanyaku dengan segenap keberanian. "Kau marah karena aku hamil? Kau tidak percaya kalau yang kukandung ini anakmu? Aku mengerti. Tapi kan kau sudah berjanji kau akan memberiku waktu sampai bayi ini lahir dan kau bisa melakukan test DNA? Kenapa sekarang...?"
"Diamlah. Kau bisa diam, kan?"
Ya Tuhan... tolonglah aku. Tolong jaga kami. Selamatkan aku dan kandunganku. Tolong, Tuhan....
Aku tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah, hanya mampu menangis, membiarkan HansH membawaku entah ke mana. Terlalu berisiko jika aku terus mencerca HansH, aku takut ia bertambah kalap dan malah menembakku. Aku juga tidak ingin merebut stir darinya untuk menghentikan laju mobil seperti adegan dalam sinetron yang ujung-ujungnya akan menyebabkan kecelakaan, celaka pula nanti orang lain. Dan aku juga tidak ingin nekat melompat keluar, berisiko bagi janinku. Aku tidak ingin kehilangan mereka. Jadi aku hanya bisa pasrah.
Setelah perjalanan yang cukup jauh, kami tiba di Elstone Farm Estate, di desa Somerset. HansH menghentikan laju mobilnya di tengah-tengah lahan seluas enam puluh hektare, pemandangan pedesaan Somerset yang membentang, di dekat lumbung abad ke-16 yang mengesankan, yang terbuat dari batu berwarna madu dengan pintu-pintu dan palang-palang besar terbuat dari kayu ek. Tempat yang luar biasa indah itu biasanya digunakan untuk melangsungkan resepsi pernikahan. Tapi siapa sangka, hari ini, HansH membawaku ke tempat ini untuk melampiaskan kemarahan.
"Keluar!" tariaknya.
Tidak. Aku tidak berani melakukan satu hal apa pun selain tetap berdiam diri di posisiku. Sementara, HansH, dia segera keluar dengan senjata api yang sudah ia keluarkan dari balik jasnya, lalu membuka pintu di sisiku.
"Keluar!" teriaknya lagi, ia menggambit lenganku dan menarikku paksa.
Aku meringis. Sakit sekali lenganku karena cengkeraman tangannya yang begitu kuat. "Tolong jangan kasar," pintaku. "Aku sedang hamil, dan ini anak--"
Moncong pistol sudah terarah kepadaku.
"Kau... kau sungguh ingin membunuhku?" tanyaku, sungguh aku ketakutan.
HansH menarik pelatuknya....
Deg!
"HansH...?"
Door!
Aku menjerit. Shock! Tapi ternyata peluru pertama itu tak ia sarangkan ke kepalaku.
Aku terperengah. "Maksudmu? Kenapa kau bertanya--"
"Kau bukan Alisah!"
Apa? Kebingungan serta-merta menguasaiku.
"Kau bukan Alisah! Alisah-ku tidak mungkin bisa hamil! Kau penipu! Kau orang lain yang berpura-pura menjadi Alisah! Kau menipuku! Kau pikir selamanya aku tidak akan tahu kalau kau bukanlah Alisah? Heh! Alisah-ku tidak bisa hamil! Alisah memiliki golongan darah B! Bukan A! Kau penipu! Kau menipuku!"
Aku menggeleng-geleng kebingungan, kepanikan, kesulitan mencerna kata-kata HansH yang menyembur dalam kemarahan dan begitu cepat: tentang Alisah yang tidak bisa hamil, otakku menyambung cepat, bahwa bukan HansH yang divonis mandul. Jadi selama ini dia menutupi kekurangan istrinya -- aku yang ia kira adalah Alisah. Lalu tentang golongan darahku dan Alisah yang tidak sama, apakah Kak Sanjeev tidak sengaja memberikan informasi yang salah, ataukah dia sengaja supaya mengurangi ketakutanku saat aku menyamar dulu? Dan dengan cepat pula otakku mencetuskan pikiran: apa pun itu, itu sama sekali tidak berguna untuk dipikirkan, sebab, seharusnya HansH sudah tahu siapa aku, kan? Aku sudah menceritakan yang se-jelas-jelasnya tentang siapa aku dalam suratku waktu itu. Bahkan aku mengakui bahwa diriku adalah seorang gadis yang melakukan operasi wajah untuk menyamar sebagai Alisah.
Tetapi, terlepas dari semua pikiran yang terlintas cepat dan bertumpang tindih itu, aku sesenggukan dan berkata, "Kenapa kau bertanya? Kau sudah tahu semua itu, kan? Aku sudah memberitahumu siapa aku yang sebenarnya."
"Omong kosong!"
"Aku Zia...."
"Jangan mengada-ada kau!"
"HansH...!" jeritku. "Dengarkan aku dulu! Dengarkan!"
"Apa yang perlu kudengarkan, hah? Omong kosongmu?"
"Diaaaaaaammm...! Diam! Berhenti bicara dan dengarkan aku!"
Door!
Hening sejenak, yang terdengar hanyalah deru napas dari luapan emosi kami berdua. Letusan peluru ke-dua itu membuatku kian gemetar, kakiku lunglai dan terasa lumpuh hingga aku melorot ke tanah.
Ini kesalahpahaman luar biasa. Aku menyadari itu. Kini aku kembali sesenggukan. "Aku Zia," kataku lemah. "Aku adalah Zia. Aku bukan Alisah. Sebelum pergi ke Korea, aku sudah memberitahukan semuanya dalam surat yang kutitipkan pada Bibi Heera."
"Omong kosong! Kau bohong!"
"Demi Tuhan...! Demi Tuhan...."
"Kau pembohong!"
"Aku bersumpah. Aku tidak berbohong. Aku sendiri tidak mengerti kenapa kau tidak tahu. Kau bilang kau sudah membaca suratku. Aku menjelaskan semuanya dalam surat itu. Aku menitipkannya kepada Bibi Heera dan Bibi Heera menyerahkan surat itu kepadamu. Kenapa sekarang jadi begini? Aku tidak mengerti."
HansH menggeleng. "Di dalam surat itu kau hanya mengatakan bahwa kau ingin pergi. Kau ingin kembali kepada kehidupanmu sebagai Zia. Kau tidak ingin menggunakan identitasmu sebagai Alisah. Dan kau ingin melupakan masa lalumu. Hanya itu!"
Aku menggeleng tak percaya. "Bagaimana mungkin isi suratku bisa berbeda?"
"Cukup! Jangan membodohiku lagi!"
Pasrah. Kupikir tidak ada gunanya lagi aku bersikeras. Tidak ada gunanya lagi aku menjelaskan apa pun untuk membela diriku. "Kalau begitu, satu-satunya yang bisa menjelaskan hal ini hanya Bibi Heera."
"Jangan menyalahkan orang lain, Berengsek!"
Aku mengangguk. "Ya," kataku. "Aku mengerti. Aku paham kalau kau marah, kau tidak percaya, bahkan kau membenciku. Aku paham. Aku juga paham jika nanti terbukti yang kukatakan adalah kebenaran dan kau tidak bisa memaafkanku, aku paham. Silakan kau tanyakan pada Bibi Heera. Jika nanti kau tahu kebenarannya, dan kau tetap membenciku, tidak apa-apa, aku akan menerima kebencianmu terhadapku. Aku paham. Tapi, tolong, biarkan aku tetap hidup sampai aku melahirkan anak ini. Setelah itu jika kau ingin membunuhku, silakan. Aku ikhlas. Aku ikhlas. Tapi sekarang, tolong, tolong dengan sangat, biarkan anak-anak ini terlahir. Mereka anak-anakmu. Mereka darah dagingmu, HansH. Aku mohon, demi darah dagingmu, biarkan mereka terlahir ke dunia ini. Aku mohon... aku mohon demi mereka. Aku mohon...."