Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)

Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)
Kejutan...?



Tepat pada pukul setengah satu siang, aku dan HansH sudah duduk manis di Hyundai Avante yang dikendarai Aliando. Mendengarkan cerita singkat Aliando dan Amanda bergantian tentang sejarah serta gaya hidup orang Korea. Tentang presiden wanita mereka yang masih single dan tinggal sendiri di Blue House. Tentang bagaimana wanita Korea memilih melahirkan di luar negeri agar anak laki-laki mereka tak harus wajib militer, yang meskipun sudah berkurang dari masa dua tahun menjadi satu tahun tujuh bulan, tetap menjadi momok bagi mereka. Sampai bagaimana tergila-gilanya wanita Korea terhadap operasi plastik dan tas. Aku memilih menyimak cerita Aliando dengan antusias daripada harus menoleh ke arah HansH yang konyol itu, yang sedari subuh terus menertawaiku karena kegilaan kami dengan kostum kucing, dan -- dia dengan suplemennya yang super paten itu. Ugh! Sungguh aku tak nyaman sebab mesti merasakan ngilu dan lelah yang luar biasa, tapi tetap mesti ikut makan siang bersama dan jalan-jalan bersama keluarga mumpung mereka masih bersama kami di Korea.


"Jika tertarik, aku bisa mengantarmu ke Akujong, tempat operasi wajah paling terkenal di sini."


Deg!


Jantungku berdetak hebat mendengar celetukan Aliando usai bercerita tentang kemiripam wajah wanita Korea satu sama lain. Aku terdiam. Gelisah.


Sungguh, aku tidak tahu kenapa rasanya aku terganggu mendengar celotehan Aliando yang aku yakin dia sama sekali tidak mengetahui bahwa aku adalah Zia, salah satu pasien yang pernah melakukan operasi wajah di negara Korea ini.


"Hei, Ali. Alisah ini sudah sempurna. Tidak ada yang perlu diganti," sergah HansH sambil satu tangannya menarik cepat tanganku ke pangkuannya. Jelas aku shock.


Tapi kenapa? Kenapa aku tidak bisa santai dalam menghadapi situasi ini padahal HansH sudah tahu, kan, segalanya tentang aku, termasuk tentang aku yang mengubah wajahku menjadi wajah mendiang kekasihnya? Aku sudah menulisnya dengan jelas di dalam suratku.


Ya Tuhan... aku menegang. Dan tidak hanya aku, Bibi Heera yang ada di sampingku ikut merasa terganggu karena hal ini. Walaupun keadaanku sendiri dalam kondisi gelisah dan panik, tetap saja aku menyadari benar bagaimana reaksi Bibi Heera pada saat itu, yang sama tegang dan tidak nyamannya denganku. Berbeda dengan HansH yang nampak biasa-biasa saja.


Tenang, Zia. Tenanglah. Segala sesuatunya akan baik-baik saja. Tidak akan ada masalah sedikit pun. Oke? Tenang....


"Musim gugur paling disukai oleh warga Korea. Banyak pemuda-pemudi berpacaran. Daun-daun yang berguguran membuat suasana menjadi romantis." Aliando dan Amanda sama-sama tertawa setelahnya, tentu saja, mereka mengenang masa-masa mereka yang telah lalu. Tentu, yang juga mereka ceritakan kepada kami.


Aku langsung mengedarkan pandangan ke luar jendela. Mengamati daun-daun yang dimaksud, yang akan menguning dan jatuh berguguran pada musim gugur. Ya, Korea sungguh sempurna di tengah musim gugur menjelang winter. Bahkan menurutku di sepanjang waktu.


"Sudah sampai," suara Aliando menyadarkanku untuk segera turun dari tumpangannya.


Di sana, Neha, Nandini dan Parvani dan para bodyguard yang mengawal mereka sudah berdiri di depan restoran.


"Akhirnya kita sampai juga. Yuk, sudah kupesankan." Amanda langsung menggamit lengan kekasihnya, menggandeng ke dalam. Aroma kedelai hitam langsung menusuk indra penciuman. Mataku membelalak menatap mie hitam yang tersedia di depan mata. Sudah lama sekali aku ingin mencobanya. Akhirnya kesampaian.


Aaah... kebahagiaanku bahkan dilengkapi dengan kejutan romantis dari HansH. Dia sengaja menyiapkan lava cake berisi kalung emas dengan ejaan nama Mahesvara untuk menggantikan kalung lama dengan nama Alisah, plus cincin baru untukku -- dengan model yang sama namun dengan foto terbaru, foto pernikahan kami, serta tidak lupa private violinist demi melengkapi keromantisan acara.


"Nah, aku sudah memberikanmu kejutan yang luar biasa," ujar HansH dalam bisikan setelah ia memasangkan cincin dan kalung itu ke leherku dan kami berdansa. "Jadi terima kasih untuk yang semalam. Namun aku akan senang kalau kau memberiku momen indah itu lagi malam ini. I am waiting for you, Sweetheart."


Iyuuuuuh...! Dia membuatku tertawa geli. Dasar suami mesum!