
"Alisah, kau sudah bersumpah unuk berkata jujur. Lagipula Bibi sangat yakin kau sangat mengenali Sanjeev. Dilihat dari kedekatan kalian, bagaimana sikap Sanjeev padamu, jelas kalau hubungan kalian berdua itu sangat dekat. Bahkan Bibi sudah beberapa kali melihat kalian bicara berdua, kalian berpelukan seperti adik dan kakak yang saling menyayangi, kalian terlihat sangat akrab. Mustahil kalau kau tidak mengenal siapa Sanjeev yang sebenarnya. Dan yang terpenting, Alisah, Bibi menyadari saat pertama kali kau kembali masuk ke rumah kami, ekspresimu tidak biasa saat kau tidak sengaja melihat foto kakakku dan kakak iparku, istri pertama kakakku. Kau mengenalnya, kan? Dia ibunya Sanjeev, ya kan? Jawab Bibi dengan jujur, kau sudah bersumpah, Alisah."
Oh Tuhan... aku tidak menyadari kalau ternyata Bibi Heera sangat memperhatikan gerak-gerikku. Sungguh ini tidak seperti cerita di dalam sinetron di mana para pemainnya terlihat begitu bodoh dan mudah sekali dibodohi. Kenyataannya, tidak mudah untuk menipu seseorang atau meyakinkannya bahwa orang yang ia kenali itu hanya sekadar mirip dengan anggota keluarganya yang lain. Kemiripan yang hanya kebetulan semata, itu mustahil. Saat pertama kali bertemu Kak Sanjeev beberapa bulan yang lalu, Bibi Heera bisa mengabaikan dan menganggap bahwa kemiripan Kak Sanjeev dengan mendiang kakaknya hanyalah kebetulan saja, tapi setelah pertemuan ke-dua dan ke-tiga, keyakinan di dalam hatinya begitu kuat. Dan dia bisa menemukan cara untuk menguak informasi itu melalui aku. Aku sudah bersumpah dan aku mana mungkin berani berbohong.
Well, tidak bisa mengelak lagi. Bagaimanapun aku berusaha bermain kata-kata agar tidak jatuh ke dalam sumpah yang salah, akhirnya aku terjebak juga. Sungguh aku tidak pernah menyangka jika alur cerita dari pertemuanku dan Bibi Heera hari ini ternyata membawaku untuk membuka kebenaran tentang jati diri Kak Sanjeev yang sebenarnya. Yeah, siapa yang akan mengira kalau ujung dari sumpahku akan begini akhirnya. Segala hal, cerita, pembahasan, juga pertanyaan Bibi Heera tentang aku dan HansH ternyata hanya untuk membuatku terbawa arus. Dan kini mau tidak mau aku terpaksa harus jujur. Aku mengakui semuanya. Aku membuka jati diri siapa sebenarnya Kak Sanjeev di hadapan Bibi Heera: tentang alasan yang kuketahui kenapa ibunya pergi dan bagaimana ia berpura-pura mati hingga ia sampai ke India dan hidup dengan identitasnya yang baru.
"Untuk selebihnya Bibi bisa bertanya kepada Kak Sanjeev langsung. Terutama tentang kenapa dia merahasiakan identitasnya dari kalian. Tapi ada satu hal yang ingin kujelaskan kepada Bibi, tolong Bibi dengarkan apa yang ingin kujelaskan ini dengan baik. Ini sangat penting dan harus Bibi rahasiakan dari semua orang. Jujur aku membutuhkan bantuan dari Bibi. Bibi bersedia merahasiakannya?"
Menggeleng bingung, Bibi Heera berkata, "Merahasiakan apa? Kalau dia bukanlah keluarga kami? Tidak, Alisah. Bibi tidak akan merahasiakan hal itu. Tidak mungkin."
"Bukan, Bi. Bukan itu. Tapi sesuatu hal yang penting yang ingin kuberitahukan kepada Bibi tentang Kak Sanjeev. Sangat penting, hal yang harus Bibi rahasiakan dari HansH dan adik-adiknya. Hal yang cukup hanya kita berdua yang tahu. Kalau Bibi ingin tahu kebenarannya, Bibi harus merahasiakannya dari siapa pun. Bagaimana, Bi?"
Bibi Heera mengangguk. "Baiklah. Bibi berjanji."
Kutatap Bibi Heera lekat, berusaha meyakinkannya atas kata-kata yang hendak kusampaikan. "Bibi tolong dengarkan aku dan jangan menyela, oke? Sebelumnya aku minta maaf kalau aku ini terlihat sok ataupun bertele-tele. Tapi ini penting. Dan karena aku mempercayai Bibi, makanya aku mengatakan hal ini pada Bibi. Aku yakin Bibi bisa bersikap bijak untuk mengatasi masalah ini, karena bagaimanapun juga, Kak Sanjeev adalah keponakan Bibi. Sungguh, aku harap Bibi akan membantuku dalam hal ini, dan tolong jangan terkejut mendengar soal ini. Ya, Bi?"
"Ada apa, Alisah?"
Aku menghela napas dalam-dalam. Dengan berat hati dan pertimbangan matang, aku memutuskan untuk memberitahukan kepada Bibi Heera tentang misi Kak Sanjeev. "Baiklah, yang bisa kuberitahukan kepada Bibi tentang baik buruknya lagi hanya satu hal, aku merasa bahwa Kak Sanjeev benar-benar menyayangi adik-adiknya, dia juga menyayangi Bibi, aku sangat yakin. Tapi, Kak Sanjeev sangat membenci HansH."
"Kenapa?"
"Ya Tuhan." Bibi Heera terkejut.
Jelas saja, mana mungkin tidak?
"Yeah, Bi, begitulah kenyataannya. Tapi tolong Bibi jangan membencinya. Dia butuh arahan. Sungguh, Bi, aku sudah berulang kali memintanya untuk berdamai dengan kenyataan, tapi dia tidak mau mendengarkan aku. Tapi percayalah, Bi, Kak Sanjeev bukan orang jahat, dia hanya khilaf. Dia hanya salah mengambil langkah. Hanya itu. Dan ini tugas kita untuk mendamaikan hatinya, ya kan, Bi? Aku benar, kan?"
Bibi Heera mengangguk lagi. "Sekarang Bibi paham. Bibi tidak akan bertanya kenapa dia merahasiakan identitasnya bahkan dari bibinya sendiri. Ya Tuhan...," ia *endesah. "Keponakanku yang malang. Kasihan sekali dia."
"Bi, sekarang Bibi sudah tahu rahasia ini, tapi tolong, jangan katakan pada Kak Sanjeev kalau aku yang memberitahu Bibi. Bisa, kan, Bi?"
Menggeleng. Jelas Bibi Heera kembali bingung. "Bagaimana mungkin, Alisah? Sanjeev pasti bisa menebaknya, kan, kalau Bibi mengetahui hal ini darimu? Dia pasti bertanya kalau Bibi membahas soal identitasnya. Dan Bibi jelas tidak akan merahasiakan kalau Bibi sudah tahu siapa dia sebenarnya. Bibi menemukan keponakan Bibi, mana mungkin kami terus jadi orang asing terhadap satu sama lain. Bibi tidak bisa, Alisah."
"Aku mengerti, Bibi. Kita pikirkan caranya, bagaimana Bibi bisa bicara dengan Kak Sanjeev tanpa dia curiga bahwa aku yang sudah memberitahukan tentang hal ini kepada Bibi. Barangkali dengan cara Bibi lebih banyak berkomunikasi dengan Kak Sanjeev? Lebih dekat? Atau apa pun. Intinya jangan sampai aku terseret, atau kalau tidak, Kak Sanjeev pasti akan sangat membenciku. Aku bukan adik kandungnya yang bisa ia maafkan kalau aku berbuat salah. Aku takut padanya, Bi. Tolonglah?"
Oh syukurlah. Bibi Heera mengangguk. Dia memahami posisiku. "Baiklah, Alisah. Bibi akan memancingnya seperti Bibi memancingmu tadi. Sampai dia tidak bisa mengelak lagi. Dia harus mengakui siapa dia di hadapan bibinya ini."
Ya Tuhan... terima kasih. Tolong selalu selamatkan aku dari posisi terjepit seperti ini. Jangan sampai Kak Sanjeev tahu kalau aku yang memberitahukan kebenaran ini pada Bibi Heera, atau kalau tidak, aku tidak akan sanggup menanggung luapan emosinya. Bisa saja dia membuka kedokku, dia akan memberitahukan siapa sebenarnya aku, dalam cara yang buruk. Aku tidak ingin kehilangan HansH, Tuhan... aku tidak ingin kehilangan cintanya.