Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)

Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)
Kesempurnaan Yang Tak Sempurna



Kurasa adalah keputusan yang tepat bagiku menggunakan simcard baru untuk ponsel baruku dan tetap merahasiakannya dari Kak Sanjeev untuk sementara waktu. Aku tidak ingin dia mengocehiku karena aku tidak memberikan kabar apa pun kepadanya sejak kemarin. Terlebih, aku tidak memberikan foto sampel produk bumbu instan dari dapur rumah Mahesvara.


Tidak ingin mendengar ocehan panjangnya saat aku mengaktifkan simcard lamaku, aku hanya menghubungi Kak Sanjeev via pesan whatsapp, dan mengabaikan segala pesan masuk darinya yang berisi amarah, juga rasa khawatir di antaranya. Jadi masa bodoh, hanya sebuah pesan whatsapp yang kukirimkan kepadanya untuk membuat dirinya tidak berpikiran macam-macam tentangku. Yap, saat ini aku seperti mempermainkan dua pihak: Kak Sanjeev dan HansH. Tapi mau bagaimana lagi, aku ingin keduanya bisa saling menerima dan saling menyayangi satu sama lain sebagai saudara, bukan sebagai musuh. Jadi aku harus mengambil langkahku sendiri.


Dan aku mulai menuliskan pesan.


》 Aku masih hidup, bersyukurkah Kakak tentang kabar ini? Aku nyaris saja mati sejak pertama aku bertemu HansH sebagai Alisah. Seseorang sengaja menabrakku dengan motor hingga aku berakhir di rumah sakit. Dan kemarin, aku sengaja didorong oleh Sheveni ke kolam renang. Beruntung HansH sempat menyelamatkan nyawaku, kalau tidak, Kakak bahkan tidak akan bisa mengkremasi jenazahku dengan tangan Kakak sendiri. Sekarang aku ketakutan, hidupku terus dibayang-bayangi kematian. Dan Kakak, Kakak tidak ada di sini. Aku seakan tidak lagi memiliki seorang kakak yang selalu ada dan siaga melindungiku. Tapi kurasa Kakak tidak akan peduli. Aku mati pun mungkin Kakak tidak akan peduli. Kalau tidak, semestinya Kakak sudah membawaku pergi dari sini. Maafkan aku sekalinya memberi kabar tapi bukan kabar baik. Maafkan aku kalau aku mengecewakanmu. Dan yah, ponselku rusak. Ini aku sengaja meminjam ponsel pelayan untuk mengaktifkan nomorku supaya aku bisa memberikan kabar kepada Kakak. Akhir pekan aku akan berusaha keluar dari rumah ini. Bagaimana pun caranya aku akan berada di Cannock Chase. Temui aku jika kau masih peduli padaku dan bawa aku pergi dari lingkaran maut ini. Trims, jika kau masih peduli.


Whatsapp-ku terkirim. Entah apa pun reaksi Kak Sanjeev saat membacanya, aku berharap dia akan percaya akan semua kesulitan dan kesedihanku sehingga kami bisa bertemu tanpa aku harus menerima semua ocehannya. Aku ingin bertemu dengannya dalam keadaan dia mencurahkan rasa sayangnya kepadaku seperti selama ini. Walau bagaimanapun dia adalah kakakku dan aku adiknya. Kami bersaudara.


Semoga kau bersedia datang menemuiku, setidaknya dengan sedikit saja kepedulianmu terhadapku. Aku mohon, Kakak. Aku mohon.


Tok! Tok!


"Alisah?"


HansH?


Buru-buru kulepaskan kembali simcard lamaku dari ponsel baruku, memasukkannya kembali ke ponsel lamaku dan segera menyimpan ponsel itu ke dalam tas tanganku, lalu aku beranjak dan membukakan pintu.


"Hai." Senyum menawan HansH terukir indah di depan wajah. "Kejutan untukmu," ujarnya seraya berjalan masuk ke paviliun yang kutempati.


Keningku mengerut. "Apa itu? Bingkai foto?" tanyaku.


Seketika itu aku pun teringat pada janji HansH kemarin. Itu pasti bingkai foto kedua orang tua Alisah, pikirku. Dan aku mendadak bingung bagaimana aku mesti menyikapi hal ini: menunjukkan keantusiasanku yang mustahil akan keluar secara alami dari dasar hatiku.


"Taraaaaa...." HansH merobek kertas pembungkusnya dan foto itu terpampang di hadapanku. "Ini foto lebaran terakhir kita bisa berkumpul bersama mereka. Foto yang sempurna. Sangat sempurna"


Aku menelan ludah. Mustahil untuk gembira melihatnya, yang ada aku malah cemburu setengah mati.


Di depanku, foto dua orang perempuan dan dua orang lelaki berpakaian serba putih tersenyum manis dan sangat bahagia. Dua orang perempuan, Alisah dan ibunya, duduk di kursi berkaki empat tanpa sandaran yang biasa digunakan oleh seorang photographer di studio foto, sementara di belakang mereka ayahnya Alisah dan kekasihnya, HansH, nampak serasi di tempat yang memang semestinya: ayahnya berdiri di belakang ibunya, dan HansH berdiri di belakang Alisah. Sempurna sekali. Alisah terlihat sangat bahagia di dalam foto itu.


Tapi dia bukan aku. Itu bukan fotoku. Bukan aku yang berada di dalam foto itu bersama HansH.


Hiks! Menyedihkan. Aku mesti melihat foto itu setiap kali aku berada di dalam ruangan paviliun ini. Apalagi setiap pagi, di saat aku membuka kedua mataku, foto lelaki yang kucintai akan ada di depan mataku, bersama dengan gadis lain.


"Hei, jangan menangis," kata HansH lembut. "Mereka sudah bahagia di atas sana. Kau tidak perlu bersedih. Cukup doakan mereka setiap kali kau merindukan mereka. Oke, Sayang?"


Hufth... kutundukkan pandangan dan mati-matian kukontrol perasaanku. HansH mengira aku menangis karena merindukan kedua orang tua Alisah, atau karena melihat foto mereka, yang sebenarnya sama sekali bukan karena itu. Melainkan, karena kenyataannya aku mesti menguatkan hatiku sebab... kau mengerti maksudku. Bagaimanapun juga bukan aku yang ada di dalam foto itu bersama HansH.


"Sayang."


"Emm?"


Aku mengangguk. "Aamiin...," sahutku. "Semoga kita akan hidup bahagia dan menua bersama. Seperti mereka."


"Aamiin, Sayang." HansH memelukku dan mencium keningku.


Eh? Aku tersadar. "Kau? Kau mengambil kesempatan, ya?" protesku seraya melepaskan diri darinya yang memelukku.


HansH terkekeh. "Sori, aku lupa."


Euw... enteng sekali.


"Well, Sayangku, jadi sekarang kau sudah punya foto kedua orang tuamu. Ini ayahmu dan ini ibumu." HansH menunjuk ke foto yang masih bersandar pada sandaran sofa.


Ayah Alisah, pria gemuk, agak pendek, berkulit hitam dan berkumis tebal. Dia memiliki tipe senyum yang ramah meski kumisnya menunjukkan kegarangan. Sementara ibunya, dia wanita bertubuh gemuk dan berkulit putih. Mirip sekali dengan Alisah. Dan kerudung putih yang menutupi kepala mereka dalam foto itu, mempermanis dan memperjelas status keimanan mereka.


"Kau cantik sekali, persis seperti ibumu," HansH memuji.


Aku tersenyum. Yeah, mungkin saja, pikirku. Mungkin seperti itulah ibuku. Mungkin saja aku memiliki darah seorang Pakistan di dalam diriku. Entah siapa orang tuaku, tapi mungkin benar aku mirip dengannya. Wanita cantik berkulit putih.


"Sekarang mari kita taruh foto ini di dinding."


HansH mengeluarkan palu kecil dari saku celananya dan sebuah paku lalu memasangnya ke dinding. Persis di sisi di mana aku akan menghadap ketika aku turun dari tempat tidurku. Foto yang akan selalu menemaniku menyambut pagi. Sempurna.


"Kemari, Sayang." HansH menarikku ke hadapan foto itu, kemudian ia berdiri di sampingku dan merangkulkan tangan di pundakku. "Hai, Ayah. Hai, Ibu," sapanya. "Aku pernah berjanji kepada kalian, aku akan selalu membahagiakan Alisah, putri kalian, dan aku akan selalu menjaganya. Maafkan aku karena... aku baru menemukannya kembali. Tapi kalian jangan khawatir, aku akan tetap memegang teguh janjiku, dan akan selalu kutepati. Aku janji."


Lalu dia berpaling kepadaku, tersenyum dengan mata berkaca.


"Terima kasih," ucapku.


"Aku mencintaimu, Alisah."


"Aku juga. Boleh aku meminta sesuatu?"


"Apa pun." HansH memutar menghadapku, menatap mataku dengan intens. "Katakan, apa yang kau inginkan?"


Aku menunduk, kupejamkan mataku sejenak dan aku berkata, "Aku ingin kita mengambil foto terbaru. Kau dan aku. Hanya kita berdua. Mr. and Mrs. HansH Mahesvara. Dan aku ingin menaruhnya di sini. Di samping foto ini. Apa boleh?"


"Tentu saja, Sayang. Keinginan Nyonya adalah perintah bagiku."


Oh, manis sekali. I love you, Mr. HansH. Kurelakan hidupku untuk menjadi Alisah-mu. Milikmu... selamanya....