
Kutinggalkan buku itu di sana. Mengembalikannya ke tempat semula, dan aku pergi dari ruangan rahasia itu.
Tetapi, karena rasa penasaran yang menggebu, aku tidak tahan. Akhirnya, di keheningan subuh yang lembab, kuputuskan untuk sengaja melewati segala batasan. Aku harus mengambil buku itu. Aku harus membacanya dan mengetahui segalanya. Harus.
Dan, kulakukan.
Aku kembali mengendap-endap ke kamar Kak Sanjeev, kembali ke ruangan rahasia di kamarnya.
Maafkan aku, Ibu. Maaf kalau aku lancang.
Aku membuka buku itu, dan... membacanya.
Oh... betapa aku kembali terkejut. Dari untaian panjang tulisan itu, mendiang ibu angkatku itu memberitahukan kepada Kak Sanjeev rahasia besar yang selama ini ia simpan sendiri. Bahwa, ayah yang membesarkan kami selama ini, dia bukanlah ayah kandung Kak Sanjeev. Dia hanya sosok lelaki yang sangat baik, yang bersedia menikahi wanita yang tengah mengandung janin dari lelaki lain.
Suami pertama ibu, ayah kandungmu, dia adalah Raj Mahesvara. Ibu menikah dengannya saat usia ibu masih sangat muda. Pernikahan kami tidak bahagia lantaran Ibu tidak kunjung hamil, dan itu terlalu lama hingga menginjak usia sepuluh tahun pernikahan. Sehingga, akhirnya, ayahmu memilih jalan yang salah, dia menghamili seorang wanita yang saat itu usianya jauh di bawah Ibu. Ayahmu menikahinya karena kehamilannya itu dan membawanya tinggal seatap bersama Ibu. Di saat itulah keajaiban terjadi, setelah pernikahan mereka, akhirnya Ibu hamil. Ibu sangat bahagia mendapatkan anugerah dari Tuhan, hadiah pernikahan yang terindah. Tetapi, kehamilan itu ternyata justru dianggap ancaman oleh istri muda ayahmu sehingga ia berulang kali berusaha menggugurkan kandungan Ibu.
Ibu terlalu pengecut, Nak. Ibu sangat takut kehilanganmu, anak yang sudah lama Ibu nantikan yang hadir di rahim Ibu. Kehidupan nyata bukanlah sebuah drama seperti yang disuguhkan dalam sinetron, di mana protagonisnya bisa selalu kuat menghadapi penderitaan. Ibu takut akan ada kemungkinan Ibu kalah dan malah kehilanganmu, sebab itulah Ibu memilih untuk mundur dan merelakan semuanya. Ibu pergi dari rumah itu demi menyelamatkan hidup kita. Kemudian, sewaktu di jalan, ada sebuah tragedi kecelakaan besar, sebuah bus jatuh ke sungai dan ada banyak korban jiwa. Ibu ada di lokasi kejadian saat itu. Di sana, ibu membuang dompet dan kartu identitas Ibu di tepi sungai, sehingga orang-orang berpikir bahwa Ibu adalah salah satu korban kecelakaan maut itu dan jasad Ibu terbawa arus yang deras. Sejak itu Ibu dianggap tiada dan kita memiliki kehidupan baru juga identitas yang baru, bersama suami baru dan ayah yang baru untukmu. Dia bersedia memberikan kehidupan baru untuk kita dan membawa Ibu ke India. Tapi kenyataan tidak bisa diubah, kau berhak tahu siapa ayah kandungmu karena dia tidak pernah membuangmu. Dia menyayangimu dan menantikan kelahiranmu. Hanya saja Ibu terlalu pengecut saat itu. Maafkan Ibu karena Ibu tidak pernah memberitahumu tentang kenyataan ini sampai kau membaca pesan ini.
Ibu sangat menyayangimu, Nak. Dan jika mungkin, Ibu juga ingin kau merasakan kasih sayang ayah kandungmu. Dia berhak tahu kalau anaknya masih hidup.
Aku gemetar. Kenyataan ini membuatku sangat shock, dan sekarang aku mengerti alasan di balik kebencian Kak Sanjeev terhadap HansH.
Lalu, apa semua ini juga ada hubungannya dengan Alisah? Apa perannya?
Entahlah, aku belum mendapatkan jawabannya. Yang pasti, pagi ini, aku berusaha bersikap sebiasa mungkin, aku pun menyiapkan sarapan untuk Kak Sanjeev, maksudku untuk kami berdua. Setelah mengetahui semua cerita tentang peristiwa di masa lalu itu, aku belum memutuskan bagaimana aku harus mengambil sikap tentang hal ini. Dan, tentang apa yang hendak ia lakukan kepadaku semalam, aku tidak ingin mempermasalahkan hal itu. Aku percaya pada Kak Sanjeev, dia tidak bermaksud memaksakan dirinya kepadaku. Dia hanya kehilangan kendali akibat pengaruh alkohol yang menguasai dirinya. Tapi satu hal yang pasti, aku berjanji pada diriku sendiri, demi lelaki yang menyayangiku itu, demi dia yang rela berbagi cinta dan kasih sayang ibunya denganku, aku berjanji aku akan menuruti permintaannya utuk menjauhi HansH, tanpa tapi dan tanpa alasan apa pun.
Pagi ini, dengan rambut kusut dan tampang yang juga sama kusutnya, Kak Sanjeev keluar dari kamarnya dan masuk ke dapur. Dia agak kaget melihatku ada di sana.
"Kau sudah pulang?" tanyanya.
Senyum bahagia terbit di wajahnya. Bukan karena telur gulung isi sosisnya, tapi karena paksaanku. Dia memang tidak pernah menolak apa pun yang kuinginkan, apa pun. Setidaknya kecuali pernyataan cintaku kemarin. Hiks!
"Adikku yang termanis. Terima kasih atas paksaannya."
Aaaaah... perasaan senang dan sedih, lega juga sesak melebur jadi satu. Aku senang dan lega karena setidaknya kecanggungan di antara kami sedikit terurai. Tapi hatiku juga sedih, sesak, lagi-lagi harus menyadari plus menerima kenyataan bahwa aku, dan posisiku, hanya sebagai adik dan tidak akan pernah lebih.
"Nah, aku sudah memasak dalam porsi banyak dan Kakak harus makan sampai kenyang. Dan ini... espresso spesial untukmu." Kutaruh semua itu di meja makan lalu aku menarik tangannya dan memaksanya duduk, aku duduk di sebelahnya. Kami sarapan bersama.
Selang beberapa detik keheningan, Kak Sanjeev yang tengah menambahkan saus ke piringnya berkata, "Kau tidak akan pergi lagi, kan? Kau tahu kalau aku tidak bisa mengurusi diriku sendiri."
"Jangan berlebihan. Kakak bisa mengurusi semua bisnis Kakak dengan baik, masa tidak bisa mengurusi diri sendiri?"
Kak Sanjeev tersenyum, dengan hati-hati memilih kata-katanya sebelum bicara. "Bagaimana dengan... kita?"
Aku menatapnya sambil berusaha tersenyum. Aku tidak ingin melihat kepedihan di matanya, tidak ingin menghadapi konsekuensi atas pengakuanku, tapi kami perlu kembali seperti semula. "Tidak ada yang perlu dikatakan tentang kita. Aku tahu, pasti akan canggung selama beberapa waktu, tapi aku bersedia bersikap seperti biasanya, kalau kakakku tersayang ini juga bersedia, hmm?"
Praktis, raut aneh melintasi wajahnya. "Tentu."
"Aku janji aku akan menuruti semua kata-kata Kakak. Aku tidak akan jadi adik yang pembangkang. Demi Kakak, aku akan menjauhi HansH. Adikmu ini akan selalu menjadi adik yang termanis. Aku janji."
Kak Sanjeev terdiam.
"Lagipula HansH belum mengenalku sepenuhnya, kok. Maksudku... dia saja belum pernah melihat wajahku. Jadi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Anggap saja kalau dia tidak pernah mengenalku. Maka semuanya baik-baik saja."
Kali ini Kak Sanjeev mengangguk-angguk pelan. "Kalau begitu jangan membahas ini, ya?" pintanya lembut. "Kita fokus sarapan saja sampai kenyang. Oke?" Dia menyodorkan telur gulung ke depan mulutku. "Untuk adikku tersayang yang ingin selalu dimanja dan ingin selalu diperhatikan. Buka mulutmu."
"Terima kasih." Aku pun menerima suapan dari tangan Kak Sanjeev dengan senang hati, dan sebuah senyum bahagia kembali terukir indah di wajahnya. Makanlah sampai kenyang, setelah ini aku ingin bicara serius denganmu....