
Persis ketika aku hendak meninggalkan rumah menuju pesta Natal tahunan Kak Sanjeev dan teman-temannya di mana aku dan Neha selalu terlibat di dalamnya karena ajakan Kak Sanjeev, Neha menelepon.
"Aku hanya ingin memastikan kau akan datang untuk Hari Natal," katanya. Aku dapat mendengar musik tema The Great Escape mengalun di latar belakang tempat di mana Neha berada saat itu. "Hubunganmu dan Kak Sanjeev sudah membaik, bukan?"
Ugh! Berbaikan, ya. Tapi aku sekarang terlibat dalam hal yang lebih besar.
"Ya, hubunganku dan Kak Sanjeev sudah baik-baik saja. Aku juga tidak sabar untuk pesta ini," kataku berbohong, memakai sepatu sambil menempelkan ponsel ke telinga dengan bahuku.
Neha mengucap syukur dengan bahagia. "Bagus," katanya. "Aku turut senang. Aku sudah siap dan kau jangan sampai terlambat. Malam ini kita akan mencoba peruntungan baru."
"Eh? Peruntungan baru apa?" sahutku. Aku memeriksa kembali pantulanku di cermin kamarku.
Neha terkekeh di seberang sana. "Mencari pacar barulah. Ingat, dua puluh tiga tahun itu masih angka yang cemerlang. Harus kita manfaatkan dengan baik."
"Huh! Dasar gadis tidak waras." Aku tersenyum sendiri.
Setelah mendengar celotehan Neha si angin ribut, akhirnya sambungan telepon itu terputus. Kak Sanjeev memanggilku seiring ketukan pintu di kamarku. Kami berdua siap berangkat.
Setiap tahun, Kak Sanjeev selalu menyertakan aku dalam setiap acara yang ia datangi. Baik dulu sewaktu kami masih di India, ataupun sekarang setelah kami pindah ke Inggris -- yang ternyata latar belakang kepindahan kami ke sini adalah untuk ia membalaskan dendamnya kepada HansH dan keluarganya.
Aku tahu, balas dendam itu tidak baik. Tapi apa dayaku, aku bukanlah sebuah remote control yang bisa mengendalikan Kak Sanjeev untuk tidak membalaskan dendamnya. Aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk mencegah semua ini. Bodohnya, aku malah menurut ketika ia memintaku bersumpah untuk membantunya. Tapi, yeah, aku tidak akan sanggup melihat Kak Sanjeev terus melukai dirinya sendiri. Seperti aku yang terpaksa menjalankan kehidupan sebagai seorang anak yatim piatu, aku juga terpaksa menjalankan kehidupanku sebagai anak yang membalaskan penderitaan ibunya.
Well, seperti biasa, Kak Sanjeev bersama teman-temannya dan pasangan masing-masing bertemu untuk jamuan Natal. Dan tahun ini, acara jamuan ini dirayakan di rumah Pete dan Sarah. Mereka berdua adalah dua sejoli yang sudah berpacaran selama bertahun-tahun dan tinggal seatap selama bertahun-tahun. Bukan orang India, tapi mereka orang Amerika, tepatnya dari New York yang tinggal di Inggris sejak mereka masih kecil.
Kami sampai di pesta itu tepat saat si Ronnie, koki andalan Sarah sudah selesai mempersiapkan semuanya. Keseluruhan pekarangan berbau seperti daging panggang berminyak. Kak Sanjeev langsung sibuk dengan Ronnie begitu kami sampai. Sementara di sisi lain, suara melengking Neha memanggilku dari ambang pintu, disusul Sarah di belakangnya. Mereka berdua memelukku erat dan mengucapkan selamat Natal. Meski Sarah berusia dua tahun di atasku dan Neha, kami berdua bisa berteman baik dengan Sarah, pun dengan teman-teman Kak Sanjeev yang lain yang notabene usia mereka tujuh tahun di atas kami.
Tidak lama setelah Kak Sanjeev dan aku tiba, orang-orang lainnya pun mulai berdatangan. Teman-teman Kak Sanjeev adalah orang-orang yang unik, sebagian besarnya adalah para pembisnis, dan sisanya adalah orang-orang dengan profesi dengan seragam kebanggaan, tapi jelas semuanya adalah orang-orang sukses dan memiliki kekayaan yang cukup dari kerja keras mereka sendiri. Entah siapa yang akan diincar oleh Neha kali ini.
Setelah semua tamu undangan datang, Gary, sang bartender dadakan yang malam itu mengambil posisi untuk mengurus minuman, yang pertama-tama dia lakukan adalah mencampur minuman kamikaze yang kemudian dibagikannya di atas nampan plastik.
Seperti biasa, aku tidak akan minum. Aku anti alkohol.
"Untuk memulai pesta dengan semestinya," katanya.
Tidak heran, kedua orang kesayanganku, Kak Sanjeev dan Neha langsung menenggak habis isi gelas mereka, tepat setelah itu aku memohon kepada keduanya untuk tidak minum terlalu banyak malam itu, kalau tidak, aku yang akan dibuat repot oleh keduanya.
"Tenang saja. Ini malam yang membahagiakan. Aku tidak akan membuatmu mengkhawatirkan diriku. Percayalah," kata Kak Sanjeev.
Yeah, harusnya itu memang malam yang sangat membahagiakan. Harusnya. Tapi tidak. Itu malam Natal yang sangat menyedihkan bagiku ketika Kak Sanjeev menggenggam tanganku dan mengajakku ke pekarangan.
Aku bahkan sempat salah mengira, kupikir dia akan membicarakan sesuatu tentang kami, tentang masa lalu kami, kenangan kami, walaupun sebatas hubungan adik dan kakak. Tapi nyatanya aku salah besar. Sangat salah.
"Ada apa, Kak?" tanyaku.
"Kau benar-benar yakin ingin membantuku?"
Kak Sanjeev mengangguk pelan, dia menunduk sejenak, lalu memintaku untuk menoleh ke samping. Aku pun menurut.
"Pria berkaca mata itu. Dia dokter ahli bedah."
Deg!
Dokter ahli bedah? Aku mulai khawatir. Firasatku tidak enak. "Maksud Kakak?"
"Untuk mencari informasi dari musuh, kita harus berada dekat dengannya. Sedekat mungkin."
Aku menelan ludah. Rasanya aku sudah tahu ke mana arah pembicaraan ini.
"Untuk bisa menjangkau HansH dan keluarganya, kau harus menjadi bagian dari mereka. Untuk itulah... kau membutuhkan wajah Alisah."
Aku tidak percaya! Kak Sanjeev meminta hal sebesar itu dariku? Detik itu juga, mataku berkaca dan lelehan panas mengalir membasahi pipi.
"Aku tahu ini berat bagimu, Zia. Aku mengerti. Tapi kau tidak bisa menjangkau HansH dengan identitas aslimu."
Aku menggeleng. Menyangkal semua yang sudah kudengar dan kuharap aku sudah salah dengar. Tapi itulah kenyataannya. Kak Sanjeev ingin Zia menjadi Alisah demi mencapai tujuannya.
"Hei, jangan menangis." Dia memegangi bahuku. "Dengarkan aku, HansH sudah banyak menolak gadis yang kecantikannya tidak kurang darimu. Kau lihat, Kareena yang tempo hari di danau bersama HansH, dia sangat cantik, bukan? Tapi HansH menolaknya. HansH hanya menginginkan Alisah."
Ya Tuhan, kegilaan macam apa ini?
"Kakak...."
"Hanya Alisah yang bisa."
"Aku bukan Alisah...."
"Tapi kau bisa menjadi Alisah."
"Kak...."
"Jadilah Alisah-ku, untukku. Bukan untuk HansH."
Sakit sekali hatiku. Apa maksud Kak Sanjeev? Aku merasa ucapannya tidak hanya dengan satu makna.
"Aku mencintai Alisah. Aku menginginkan Alisah-ku kembali walau itu dari dirimu. Kau bersedia? Kau bisa menjadi Alisah untukku? Alisah-ku?"
Kau menempatkan aku di posisi yang sangat sulit, Kak. Apa harus sebesar ini aku mengorbankan hidupku untukmu?