
The Garter penuh sesak ketika aku dan Neha masuk keesokan malamnya. Seperti biasa, tempat itu berisi gabungan pengunjung yang aneh: para pesantap malam berduit menikmati hidangan gastro-pub mahal, penduduk setempat berisik menikmati beberapa gelas bir setelah bekerja, dan beberapa kelompok mahasiswa yang menghabiskan bir sambil mengerubungi meja-meja mungil atau bermain lempar anak panah di bagian dalam pub.
"Katakan, apa yang akan kita lakukan di sini?" tanyaku kepada Neha, sementara ia merunduk melalui celah di kerumunan untuk menduduki meja kecil di dekat mesin permainan di salah satu pojok.
Gadis itu menyeringai. "Kita di sini untuk melihat mantanku yang berengsek itu, barangkali dia akan datang ke sini dan memakai jam yang baru kuberikan minggu lalu."
"Ya Tuhan, kau ingin mengambil kembali pemberianmu?"
"Kenapa tidak? Itu jam mewah, edisi terbatas, pula. Harganya sangat mahal."
"Kau benar-benar tidak waras, Teman." Aku menggeleng keheranan karenanya.
Neha menggantung mantelnya di punggung kursi. "Aku lebih baik menjual jam itu dan menyumbangkan uang itu ke panti asuhan daripada membiarkan jam itu di tangan cowok berengsek seperti dirinya. Ayolah, jam semahal itu bisa untuk memberi makan ribuan anak yatim dan para gelandangan. Aku tidak akan merelakan jam semahal itu untuk si berengsek itu."
Terserah. Tapi jujur aku menertawakan keseriusannya. "Bisa jadi dia ke sini, atau bisa jadi dia mengunjungi pub lain di mana pun di kota ini. Apa kau mengusulkan kita mengunjungi semuanya? Hmm?"
Semangat Neha tidak surut oleh kegelianku. "Yah, kalau begitu. Kenapa tidak?"
Aku memandang ke sekeliling pub yang penuh itu. "Kau gila," kataku.
"Seperti kau baru tahu saja." Dia cekikikan.
"Well, menurutku dia tidak ada di sini."
"Kita tunggu dulu saja, oke? Aku akan mengambil minuman, kau mau?"
Aku tersenyum saat dia beranjak ke bar. Dia selalu saja begitu, padahal dia tahu betul aku tidak suka minum alkohol. Kualihkan perhatianku ke e-mail di ponselku dan melihat bahwa aku baru saja menerima satu pesan dari surat lamaran kerjaku. Satu tahun yang lalu aku baru saja menyelesaikan kuliahku, dan selama setahun terakhir aku memokuskan diri dalam kursus memasak, menuruti keinginan Kak Sanjeev yang ingin aku ahli dalam urusan masak-memasak. Aku baru saja hendak membaca pesan di e-mail itu ketika pintu pub terbuka dan masuklah Kak Sanjeev bersama temannya, Mohan.
Tentu saja, mereka langsung melihatku. Ekspresi Kak Sanjeev lebih terkejut dibanding senang, tidak seperti Mohan yang tersenyum cerah lalu menghampiri. Aku tahu dia mencoba mendekatiku sejak lama meski Kak Sanjeev tidak mengizinkan.
"Aku tidak tahu kau akan berada di sini malam ini," katanya sembari mendekat bersama Kak Sanjeev.
"Sama," sahutku. "Aku juga tidak menyangka akan bertemu kalian di sini. Aku bersama Neha."
"Ah, begitu. Tapi tumben kau setuju pergi ke tempat seperti ini?" sahut Mohan, jelas bingung. "Di mana Neha?"
Kak Sanjeev beringsut tidak nyaman sambil menatap ke arah bar. Mohan menaikkan sebelah alis lalu duduk di kursi Neha yang kosong.
"Mau berdansa?"
Eh? Aku terkejut mendengar ajakan Mohan. Aku tidak dapat mengabaikan ketidaknyamanan Kak Sanjeev saat aku menjawab, "Maaf, aku tidak bisa. Aku datang ke sini bukan untuk bersenang-senang. Neha ada kepentingan, dan aku hanya menemaninya."
"Aha! Memata-matai kami, ya?" sela Neha saat dia kembali membawa dua gelas berisi campuran JD dan Coke.
Mohan mengosongkan kursi lalu bergabung kembali dengan Kak Sanjeev. "Singkirkan pikiran itu. Kami hanya ingin melewati malam untuk para cowok, bukan begitu, Bung?"
Kak Sanjeev menggumamkan sesuatu yang tidak jelas, sambil menghindari kontak mata denganku.
Neha dan Mohan bertukar pandang sementara aku menatap lekat-lekat minumanku.
"Semoga malam kalian menyenangkan," kataku memberanikan diri.
Kak Sanjeev mengangkat tatapannya ke arahku sejenak. "Semoga kau juga." Lalu mereka pergi, Mohan mendorong Kak Sanjeev ke dalam kerumunan di dekat bar.
Neha terkekeh lalu mencondongkan tubuhnya ke arahku. "Ya ampun, itu baru canggung. Tapi tenang saja, cobalah minum ini maka perasaanmu akan jadi lebih baik."
Dengan murung, kuputar-putar gelasku di atas genangan air di permukaan meja yang gelap dan mengilat. "Aku tahu."
"Persetan dengan dia, Zia. Dia pengecut. Biar saja dia rasakan nanti ketika kau menemukan pasangan sejatimu dan hidup bahagia selamanya."
Aku balas tersenyum. Aku tidak menceritakan pertemuanku dengan Kak Sanjeev kemarin kepada Neha. Jelas sekarang kemarahan Kak Sanjeev karena aku tidak menuruti perintahnya untuk menjauhi HansH.
Sementara malam semakin larut, terbukti Neha tidak mendapatkan tujuannya. Tetapi, setidaknya, dia berhasil mendapatkan nomor telepon pelayan bar yang lumayan menggemaskan sebagai pelarian. Jadi mungkin dia tidak rugi sepenuhnya. Sedangkan aku, pikiranku terus kembali ke raut wajah Kak Sanjeev. Jujur aku berharap situasinya semakin jelas di antara kami, hubungan persaudaraan yang akan kembali seperti semula, tetapi reaksi Kak Sanjeev malam ini mengingatkan kembali kekacauan di Pasar Natal hari itu. Aku jadi bertanya-tanya apakah situasi di antara kami berdua akan terus begini sejak saat ini?
Tapi kau terikat janji pada ibunya, Zia. Ibu kalian. Kau akan selalu ada untuk Kak Sanjeev, mencintai dan menyayanginya tanpa akhir.
Hmm... dalam perjalanan naik bus ke apartemen Neha, sementara lampu-lampu kota yang terang-benderang melesat dalam cahaya buram, aku melesak ke bangku belakang dan pikiranku kembali melayang ke sosok HansH. Tiga kali pertemuan singkat itu membuatku begitu percaya bahwa dia adalah sosok pria yang baik meski mungkin sikapnya terkesan arogan kepada orang lain. Mungkin terjadi kesalahpahaman antara dia dan Kak Sanjeev? Itu mungkin saja, bukan?
Merogoh ke dalam tas, kuambil ponselku dan terkejut menemukan whatsapp dari Kak Sanjeev.
》Aku menunggumu di rumah. Datang, atau tidak usah menemuiku lagi sama sekali.
Apa-apaan ini? Kenapa dia berpikiran seperti itu? Ingin memutuskan hubungan persaudaraan kami?
"Ada apa?" Neha bertanya.
"Kak Sanjeev memintaku pulang."
"Jadi?"
"Aku harus pulang."
"Baiklah. Mungkin dia sudah menyadari kesalahannya."
Tapi firasatku mengatakan lain. Semoga saja kali ini instingku keliru, sekeliru aku yang mengira kalau Kak Sanjeev akan menerima cintaku tempo hari. Semoga.
Setelah naik bus ke apartemen Neha, aku mengucapkan selamat malam lalu naik taksi untuk pulang. Sesampainya aku di rumah, rumah kami dalam keadaan gelap gulita. Aku menyalakan lampu-lampu lalu masuk ke kamarku. Aku duduk di tempat tidur, dan berpikir-pikir apa yang mesti kulakukan. Aku menimbang-nimbang untuk keluar mencari Kak Sanjeev, tetapi aku ingin ada di sini kalau dia pulang nanti. Maka aku tetap di kamar selama mungkin. Entah berapa lama sesudahnya, aku mendengar namaku dipanggil-panggil. Mulanya kupikir ada orang yang datang. Begitu aku berdiri, kusadari suara itu datangnya dari luar jendela. Kusibakkan tirai-tirai dan melongok ke pekarangan belakang.
Kak Sanjeev ada di kolam renang. Dia bertelanjang dada, tetapi masih memakai celana jins dan sepatu botnya. Kulihat jaket dan T-shirt-nya ditaruh di kursi panjang di dekat bagian kolam yang dangkal.
"Zia! Kau di sana, ya? Aku sudah menunggu-nunggumu, Zia!"
Dari tempatku berada, dia kelihatan sangat kecil. Dan, dari suaranya, aku tahu dia dalam keadaan mabuk berat.
"Kemari, Zia!" teriaknya. "Aku ingin bicara denganmu! Adikku yang manis... kemari! Kenapa kau membangkang kepadaku? Kenapa? Kau bilang kau mencintaiku, tapi apa yang kau lakukan padaku sekarang, hah? Kau bohong! Kau menyakitiku, Zia! Kau menyakiti aku! Aku terluka karenamu!"
Ya Tuhan, aku tidak pernah melihat Kak Sanjeev serapuh itu. Ada apa dengannya?