Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)

Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)
Terjepit!



"Ada apa denganmu?" tanya HansH dalam bisikan. "Kau terlihat tegang, Sayang."


Aku menggeleng, kucoba menyunggingkan senyuman terbaik yang bisa kutunjukkan kepadanya. "Apa?" tanyaku. "Tidak apa-apa, aku baik-baik saja." Kumasukkan sebutir zaitun ke dalam mulut lalu mengunyah dengan penuh semangat. "Lihat, kan? Aku makan. Jadi tidak perlu khawatir."


"Baiklah. Tapi tolong jangan tunjukkan--"


"Hei, Bung," Kak Sanjeev menyela. "Kudengar kalian akan menikah? Apa itu benar?"


"Oh, ya," HansH menyahut. "Itu benar. Kami akan menikah bulan depan."


"Kalau begitu kuucapkan selamat. Aku bahagia untuk kalian berdua."


"Terima kasih. Tapi tidak cukup dengan ucapan selamat. Kau harus datang ke acara pernikahan kami."


"Tentu saja. Bahkan kalau boleh, aku ingin turut andil dalam persiapan pernikahan kalian. Saudara harus saling membantu. Bukan begitu, Bung?"


Semua orang bersorak setuju. Sedangkan aku, aku mestinya senang. Tapi kenapa rasanya ini begitu menakutkan?


"Aku akan dengan sangat senang hati menerima bantuanmu. Dan yeah, kau harus tinggal di rumah kami selama persiapan berlangsung. Oke?"


Mengacungkan jempol, Kak Sanjeev menyetujui permintaan HansH.


"Bagaimana denganmu, Sayang?" HansH bertanya kepadaku. "Kau sudah membicarakan soal pernikahan kita dengan Neha?"


Dahi Neha mengernyit. "Aku?" tanyanya.


"Yeah, tentu saja kami akan menggunakan jasamu. Kau tidak keberatan, bukan?"


Kikuk. Neha mengangguk tak berdaya di depan HansH.


Aku tahu, Neha, mungkin kau tidak rela karena kau pikir pernikahan HansH dengan Alisah yang akan kau persiapkan. Aku tahu yang kau inginkan berada di posisi ini adalah Zia. Aku tahu.


"Nah, Nandini, kau pun harus berteman baik dengan Neha, supaya kalian bisa kompak dalam mempersiapkan pernikahan kakakmu ini."


Nandini tersenyum ceria. "Pasti, Kakak. Jangan khawatir. Kami pasti bisa berteman baik. Dan, Neha, kau tenang saja. Aku tipe cewek yang bisa berteman dengan siapa pun. Kurasa kita akan cocok. Hmm?"


Lagi. Neha mengangguk kikuk. "Ya," katanya.


"Em, My HansH, kurasa aku bisa bicara dengan Neha sekarang. Apa kau tidak keberatan kalau kami pindah ke meja lain? Kalian bisa mengobrol dengan sesama lelaki."


Setuju, HansH mempersilakan kami untuk pindah ke meja lain. Oh, akhirnya....


"Neha."


"Hm." Sambil fokus menatap piring, Neha menusuki tumpukan salad di piringnya.


"Ada apa?" tanyaku. "Kau terlihat tidak semangat. Apa kau... keberatan kalau kami memakai jasamu?"


Rambut ikalnya berlompatan saat dia menggeleng. "Tidak, kok. Aku hanya sedang... yeah, ini masalah pribadi. Pikiranku sedang tidak bisa fokus di sini."


"Oh, memangnya kenapa?" tanyaku lembut, bersikap kepo selayaknya sikap Zia.


Wajah Neha langsung berubah muram. "Maafkan aku. Sebenarnya aku ke sini untuk menghibur diri karena... aku sedang sedih. Semalam pacarku memutuskan aku."


"Barista itu? Kok bisa?"


Ah sial! Aku keceplosan.


"Bagaimana kau bisa tahu? Tidak ada yang tahu aku berpacaran dengan Stev selain Zia. Bagaimana kau bisa tahu soal ini, Alisah? Kau...?"


"Ada apa? Apa ada masalah?"


Cepat-cepat kugelengkan kepala pada HansH yang menyaksikan keteganganku di meja samping. "Tidak ada. Hanya sedikit urusan perempuan." Kusunggingkan senyum tipis kepadanya lalu kembali berpaling pada Neha. "Aku mengenal Stev," dustaku pelan. "Aku pernah melihat kalian bersama, jadi aku tahu. Aku turut sedih atas kebodohan pemuda itu. Dia pasti akan menyesal."


Neha mengangguk, lalu suasana di antara kami kembali hening. Aku tidak tahu apa yang ia pikirkan, tentang dia dan mantan pacarnya, atau justru kecurigaannya terhadapku? Namun di sisi lain, konsentrasiku terpecah saat mendengar pertanyaan HansH pada Kak Sanjeev, "Apa kau dan Alisah sudah lama saling mengenal? Nampaknya kalian punya hubungan yang cukup baik. Dia juga memanggilmu kakak, ya kan?"


Praktis aku menoleh ke meja mereka. Kak Sanjeev melirikku sesaat, dia tersenyum lalu mengedikkan bahu. "Cukup lama," ujarnya. "Pertama kali kami bertemu saat aku melihatnya menangis sendirian di tepi danau. Kau tahu, Cannon Hill Park, tempat sebagian besar orang-orang putus asa menghabiskan waktu. Dia ada di sana waktu itu."


Ya Tuhan, apa-apaan itu?


HansH menoleh kepadaku, dia menyadari kalau aku menyimak obrolan mereka.


"Kau menangis? Kenapa?"


"Em, itu, aku...."


"Karena dia mendengar gosip buruk tentangmu dan si gadis pirang itu," kata Kak Sanjeev, lagi-lagi ia menyela dengan cepat.


Apa yang dia katakan? Dia ingin mengarang bebas atau ingin menceritakan cerita pertemuan antara dia dan Alisah yang asli? Gadis pirang yang mana, pula? Apa si Kereena?


Kak Sanjeev kembali menoleh kepadaku, alisnya terangkat seolah memintaku membenarkan ceritanya, namun aku membeku, aku tidak tahu mesti mengatakan apa.


"Kau tahu, Bung, waktu itu dia seperti gadis putus asa yang menatap foto di cincinnya. Untung saja aku mengenali fotomu, dan kukatakan kepadanya kalau itu hanya gosip. Mr. HansH sama sekali tidak mencintai gadis pirang itu. Benar, kan, Bung?"


HansH mengangguk. Dia bangkit dari kursinya dan menghampiriku.


Ugh! Tidak perlu bersikap seperti ini juga, My HansH....


Sumpah aku mendadak jadi salah tingkah menyadari keramaian di sekelilingku yang menatap ke arah kami saat HansH berjongkok lutut di hadapanku. Dengan mata menatap lekat kepadaku dan kedua tangan menggenggam lembut tanganku, dia berkata, "Aku minta maaf atas ketidaknyamanan itu. Gosip itu pasti sangat menyakiti hatimu sampai kau menangis sendirian di sana. Maafkan aku, Alisah?" Satu tangannya berpindah ke lekuk tulang pipiku. "Maafkan aku?"


Oh... napasku tercekat. Penyesalannya memang hal yang umum dirasakan oleh setiap manusia, tapi cara HansH menunjukkannya kepadaku di depan keramaian dan seluruh anggota keluarga, sungguh itu membuatku salah tingkah. "Bangunlah," pintaku. "Jangan seperti ini. Aku malu."


"Maafkan aku?"


"Iya, tapi cepat bangun."


"Terima kasih, Sayang."


HansH pun berdiri, tetapi ia malah langsung merangkulku ke dalam hangat pelukannya, didekapnya sisi kepalaku hingga bersandar di perutnya yang rata. Fix! Aku malah semakin gugup.


"Kau percaya padaku, kan? Sungguh, aku tidak akan sanggup menyakitimu dengan cara apa pun."


Aku mengangguk. "Aku percaya padamu," kataku. "Amat sangat percaya."


"Terima kasih." Dia mencium sisi keningku.


Aaaaah... pingin aku memekik keras-keras. Perlakuan manis pria ini membuatku merasa terbang hingga ke surga. Dia manis sekali.


"Baiklah, Kakakku Sayang," goda Nandini sambil tersenyum-senyum. "Kembalilah duduk di tempatmu atau kau akan merasakan akibatnya. Bibi akan menjewermu saat kita pulang nanti."


Pecah. Semua orang tergelak sementara aku mesti menahan semburat merah yang seakan membuat pipiku terasa kebas. "Sana," pintaku. "Sudah cukup membuatku salah tingkah."


"Baiklah." HansH tersenyum bahagia dan sempat-sempatnya mengelus lembut sisi kepalaku.


Ugh! Sikapnya memang sangat manis, sehingga Kak Sanjeev melayangkan tatapan tajam kepadaku. Dan sekarang rasanya nano-nano. Posisiku terjepit!