
HansH menurunkan gelas yang baru saja diseruputnya, ekspresinya tidak berubah. Tetapi aku sempat melihat beberapa tetes jus jeruk tumpah ke kemeja polo hitamnya.
"Aku akan menggendongmu kalau kau tidak bisa berjalan," ujarnya.
Aku harus tertawa. Dia tahu benar kalau aku super kelelahan pasca bercinta dua kali pagi ini. "Sekalian saja kau beritahu semua orang kalau kau sudah menggempurku habis-habisan. Dasar suami hyper!"
Dia cekikikan. "Mau bagaimana lagi? Istriku sangat cantik dan sangat menggairahkan. Kalau saja kita tidak mesti pergi, sudah kubawa lagi kau ke ranjang."
Memberengut. "Kau membuatku ngeri, tahu! Aku ini perawan, harusnya kau memberiku jeda yang cukup."
"O ya? Begitu? Yuk, ke ranjang lagi?" Dia menyengir lebar.
Kuambil sepatuku dan langsung mengenakannya. Takut kalau-kalau HansH serius akan membawaku ke ranjang lagi dan melucuti pakaianku plus merusak dandananku. Ugh! Tidak boleh!
"Cepatlah," kataku. "Semua orang sudah menunggu kita di bawah."
Yap, kami tidak pergi jauh-jauh. Hanya ke restoran hotel, dan, walaupun begitu, gara-gara HansH kami jadi terlambat. Orang-orang mesti menunggu kami. Bahkan, ketika kami sampai ke meja yang sudah dipesan, kami mesti menahan kuping saat menerima komentar-komentar nyeleneh dari mereka yang menggoda sepasang pengantin baru ini.
Oh... abaikan saja!
"Bersulang!" kata Aliando sambil mendorong kursinya lalu mengangkat gelas, membuat para pengunjung lain di restoran merasa geli. "Untuk Mr. HansH Mahesvara yang hebat. Semoga seluruh impiannya terwujud tahun ini dan semoga segera berhasil mencetak selusin bayi-bayi mungil yang lucu."
"Pidato!" seru Nandini sementara Aliando bersiul.
Tidak ada gunanya menolak, maka HansH berdiri. "Terima kasih, keluargaku dan teman-temanku yang rada gila. Tapi aku tidak tahu apa yang mesti kusampaikan, jadi hanya ucapan terima kasih. Terima kasih banyak atas kehadiran kalian semua dan doa-doa kalian. Hmm, itu saja, sih. Sepertinya kita harus makan sekarang sebelum makanan ini jadi dingin."
"Sebentar!" seru Aliando saat HansH kembali duduk di tengah-tengah tepuk tangan. "Ini dari kami semua," katanya sambil tersenyum, dia mengeluarkan kotak kado besar dari bawah meja lalu menyodorkannya kepada HansH.
Sambil menebarkan lirikan curiga kepada cengiran bersama di sekeliling meja -- kecuali diriku yang tidak tahu apa-apa tentang kado itu, HansH mengurai pita lalu mengangkat penutupnya. Kontan saja aku dan HansH tertawa ketika melihat isinya: sepasang borgol, lilin aroma terapi, parfum, dan barang-barang sejenisnya yang berhubungan dengan *eks, bahkan ada sebuah buku yang berisi tentang variasi posisi dan gaya bercinta. Dan yang paling gila adalah sepasang kostum kucing yang seksi, lengkap dengan bandana, topeng mata, dan sebuah cambuk.
Iyuuuuh...!
"Lucu sekali," kata HansH sambil memasang bandana kucing itu ke kepalaku. "Aku yakin ini akan sangat berguna."
Hah! Geli, kulepas bandana itu dari kepalaku dan memasukkannya kembali ke kotak. "Kau serius memintaku memakai kostum ini? Hah?"
"Kenapa tidak? Ini akan membuat kita tertawa geli sepanjang malam. Dan penampilanmu akan lebih seksi."
Euw...! HansH bergidik geli, pasti dia sedang membayangkan diriku dalam balutan kostum kucing yang seksi itu. Entah ide gila siapa yang membelikan benda menggelikan itu untuk kami berdua. Semua orang terbahak, kegirangan mendapatkan kesempatan untuk menjahili kami. Di sisi lain aku membayangkan, bagaimana reaksi HansH saat tanpa terduga dia melihatku memakai kostum kucing itu? Dia akan tertawa geli bercampur bahagia atau justru akan meledekku?
Ugh!