
Satu minggu berselang setelah pernikahanku dan HansH, semua anggota keluarga kami, juga Neha, sudah kembali ke Birmingham dan aku pun sudah kembali bekerja di restoran. Sementara HansH, dia menghabiskan waktunya di apartemen, menyibukkan diri dengan laptop untuk memantau bisnis perhotelannya dan melakukan pekerjaannya dari jauh.
Sebenarnya, HansH lebih suka jika aku menjadi ibu rumah tangga biasa yang mengurusi rumah dan mengurusi dirinya -- lebih tepatnya bersantai-santai saja di rumah menemaninya. Tetapi, karena aku ingin tetap bekerja, jadi HansH pun tidak keberatan untuk itu. Dia mengizinkan. Bukan berarti HansH membiarkan aku mencari uang untuk biaya kehidupan kami. Tidak. Dia mengizinkan aku tetap bekerja asal itu membuatku bahagia dan atas kehendakku sendiri. Dan, ya, walaupun HansH memberikan nafkah yang kurasa jauh -- lebih dari cukup untukku, tapi aku ingin tetap bekerja. Dan tujuan utamaku saat ini bukan lagi semata-mata untuk mencari uang melainkan untuk membantu mengembangkan usaha restoran keluarga Amanda. Jadi sehari-hari, aku bekerja di sana sekaligus untuk mengajari Amanda resep-resep masakan khas India yang menjadi salah satu menu andalan di sana, dan aku terlampau senang menjalaninya. Toh, aku bukanlah seorang pemilik restoran, jadi tidak apa-apa kalau aku berbagi ilmu yang kumiliki. Kenapa harus pelit atau merahasiakan resep yang kukuasai untuk diriku sendiri, ya kan? Aku menjalani semua ini dengan ikhlas.
Hari ini hari pertama aku kembali bekerja. Pagi-pagi HansH mengantarku, dan dia akan menjemputku lagi nanti selepas aku bekerja. Untuk makan siang atau makan malam, kami bisa makan bersama di restoran, atau aku bisa membawa pulang makanan untuk HansH makan malam. Gratis. Kata Amanda hitung-hitung itu sebagai timbal balik ilmu yang kuajarkan kepadanya. Jadi, kenapa tidak? Lagipula sebenarnya aku tahu, kemungkinan kami tidak akan lama tinggal di Korea mengingat pada pertengah bulan Mei mendatang sudah Idulfitri, jadi kemungkinan aku dan HansH akan kembali ke Birmingham. Aku tidak akan tega melihat HansH merayakan Idulfitri-nya dengan perasaan tidak sempurna. Tentu saja sekalipun tidak semua anggota keluarganya merayakan Idulfitri, aku tetap tidak akan tega membiarkan HansH tetap di Korea hanya demi bersamaku. Jadi, aku yang akan mengajaknya pulang, kembali ke Birmingham.
Well, hari-hari yang kami lalui berjalan dengan baik. Mesra, dan tidak ada masalah sedikit pun. Sebagaimana mestinya. Itu juga karena aku tidak lagi membahas perihal memiliki momongan. Sebab, aku khawatir, daripada hal itu nantinya memicu percikan api pertengkaran di antara kami berdua, jadi menurutku lebih baik aku menahan diri saja. Tetapi...
Tidak bisa kuhindari. Topik itu kembali hadir, persis pada minggu pertama pada bulan April, menjelang bulan Ramadhan. Hal itu dilantari karena aku tidak sengaja bertemu dengan seseorang pada suatu malam ketika HansH terlambat menjemputku. Seorang lelaki tua, berkumis lebat berwarna kelabu dengan raut wajah keriput. Jelas kalau ia bukanlah warga asli keturunan Korea. Mungkin ia adalah seorang lelaki dengan garis keturunan Melayu.
Waktu itu aku sedang menunggu HansH di depan restoran, dan awalnya aku ditemani oleh Amanda, dan lelaki tua itu tiba-tiba menghampiri kami. Sialnya, Amanda tidak tahan kepingin ke toilet, sakit perut katanya. Jadi, ia pun kembali masuk ke dalam restoran yang sudah tutup -- tidak menerima pengunjung lagi. Awalnya aku tidak nyaman jika sendirian bersama orang asing itu sekalipun dirinya hanyalah seorang lelaki tua sementara aku walaupun seorang wanita, tapi aku jelas jauh lebih muda dan lagipula aku memiliki senjata api di balik mantelku untuk berjaga-jaga, tapi aku tetap berdiri di sana. Toh jalanan di sekitar sana masih ramai orang berlalu lalang, dan itu juga karena si bapak sudah terlanjur mengajakku bicara. Dia bertanya siapa namaku persis sebelum Amanda pergi ke toilet.
"Nama saya?" tanyaku, menunjuk diri sendiri. Dia bertanya dengan bahasa Inggris yang fasih, bukan bahasa Korea.
Si Bapak mengangguk.
"Eeeh... nama saya... Alisah, Pak," lanjutku singkat, sarat curiga.
Hati-hati terhadap orang asing, tegurku pada diri sendiri.
"Saya Malik," kata bapak itu memperkenalkan diri dengan sopan. Melihat sosok bapak berkumis lebat itu tersenyum, kecurigaanku langsung runtuh.
Aku balas tersenyum.
"Menunggu jemputan?" tanyanya kemudian.
Aku mengangguk. "Ya," kataku.
"Saya sering melihatmu ada di sini, dijemput oleh seorang pria. Apa dia suamimu?"
Lagi, aku mengangguk. "Ya. Itu suami saya."
"Nama aslimu siapa?"
"Eh? Maksudnya?"
"Nama dari kecil, siapa namamu?"
Kontan saja aku jadi gelisah. Apa maksud bapak ini? Hatiku jadi bertanya-tanya.
Oh...? Menerawang? Lelaki tua ini bisa menerawang?
"Saya seorang cenayang," kata Pak Malik tiba-tiba. Tentu saja aku agak terkejut, karena di dalam benakku tidak tebersit lelaki tua ini akan keluar dari jalur percakapan umum pembicaraan orang yang baru berkenalan. "Ya, semacam peramal, atau yang dikenal orang dengan istilah paranormal," lanjutnya kalem, melihat ekspresi wajahku yang bertanya-tanya.
Aku hanya bengong, tak mampu merespon sepatah kata pun.
"Saya suka memperhatikan orang-orang yang berpapasan dengan saya di jalan. Saya perhatikan satu per satu." Pandangan Pak Malik menyapu seluruh penjuru jalanan di sekitar area restoran. "Lalu, pandangan saya terhenti pada sosokmu. Sudah sejak pertama kali saya melihatmu, tapi tidak enak rasanya untuk menghampirimu dan mengajakmu bicara saat kau sedang bersama suamimu."
Kenapa begitu? Hatiku kembali bertanya-tanya. Aku masih belum mengerti arah pembicaraan Pak Malik. Lelaki tua itu malah mengambil sebatang rokok kretek dari saku bajunya, dan menyulutnya. Isapan pertama membuat lelaki tua itu terbatuk-batuk sendiri. Aku menepis asap rokok yang ia semburkan.
"Jadi benar, kau punya nama lain?"
Deg!
Kegelisahan kembali menjalar, dan akhirnya aku mengangguk.
"Siapa nama aslimu?"
Aku mengawasi sekeliling. Tidak ada siapa pun yang kukenali sejauh mata memandang kecuali orang-orang yang ada di dalam restoran yang tidak mungkin bisa mendengar percakapan kami.
"Namaku Zia."
Si bapak tersenyum.
"Lalu kenapa Anda memperhatikan orang-orang yang sedang berlalu lalang dan berpapasan dengan Anda?" pecah juga rasa penasaranku.
Lagi-lagi Pak Malik tersenyum. "Itu kebiasaan saya saja, melihat orang-orang yang ada di sekeliling, kemudian saya menebak-nebak nasib peruntungan mereka, atau juga masalah-masalah yang sedang mereka hadapi dan masa depan mereka," jelasnya.
"Masa depan? Anda bisa melihat masa depan?" kali ini aku tidak tahan untuk menjadi penanya yang super penasaran.
Pak Malik kembali tersenyum, namun ketika ia bicara, dia menunjukkan keseriusan. "Ya. Dan selain masalah yang saat ini kau pendam sendiri, masalah yang tidak akan mudah untuk kau hadapi, saya juga melihat masa depan yang bahagia ada di sosokmu. Maka itu saya sekarang berbincang denganmu. Kau akan memiliki anak-anak yang akan menjadi penyelamat dalam hidupmu. Asal kau selalu tegar menjalani kehidupan."
Aku terdiam, tercenung dengan ucapan Pak Malik. Kemudian, suara Amanda menyita perhatianku. Persis di saat itu, Pak Malik melangkahkan kakinya tanpa pamit dan tak menoleh saat aku memanggilnya.
Ah, sudahlah. Belum tentu juga ramalannya benar.