
Begitu terbangun keesokan paginya, pemandangan indah langsung memanjakan mata. Aku berbaring tak bergerak dan memandangi apa yang ada di hadapanku lekat-lekat. HansH tidur menyamping, terlelap nyaman di sofa dengan satu lengan terangkat menutupi kepala. Kausnya agak tersibak sehingga aku bisa melihat kulit telanjang di atas celana jinsnya. Terpapar mempesona.
Mataku menelusuri rambut hitamnya yang kusut, yang justru membuatnya terlihat lebih tampan secara alami. Kemudian ke hidungnya, ke matanya yang terpejam, lalu ke bibirnya... bibir yang ingin kurasakan lagi betapa manisnya saat kami berciuman.
Ah, ciumannya benar-benar membuatku kecanduan.
Pandanganku menggelincir lebih rendah. Ke kulitnya. Aku tak bisa menahan diri. Betapa aku ingin merasakan bagian dirinya yang begitu kudambakan. Yang kuimpikan....
Mata HansH mengerjap terbuka, dan aku tahu ia merasakan sensasi yang sama.
"Hai," kataku lembut.
Dia hanya menatapku. Kemudian senyum tipis perlahan merekah di wajahnya. "Kau mengamat-amatiku, ya? Apa yang kau pikirkan? Hmm?"
"Apa lagi? Tentu saja ketampananmu," kataku sambil tersenyum nakal.
HansH mengangguk-angguk. Sekarang ia tersenyum lebar hingga matanya agak menyipit. "Jadi kapan kita akan menikah?" tanyanya. Dia bangkit berdiri dan berjalan menghampiriku. "Kalau kau sudah menjadi istriku, tidak sekadar mengamati. Kau bisa melakukan apa pun kepadaku. Apa pun yang kau mau."
Aaah... terlalu dekat. Dia bicara seperti itu di depan wajahku. Keuntungan baginya karena aku memuja ketampanan wajahnya. Jadi, meskipun ia baru bangun dan belum menggosok gigi, tidak jadi masalah kalau embusan napasnya menyapu wajahku. Aku suka. Sungguh memabukkan.
"Memangnya apa saja yang bisa kulakukan? Hmm? Coba contohkan padaku."
Ya ampun, nenek-nenek jompo pun tahu kalau pertanyaanku itu bisa memancing hasrat.
"Apa saja," bisik HansH, mengangkat satu tangannya ke dekat pipiku. "Apa pun yang kau inginkan."
Ugh! Aku menahan napas. Mataku terpejam saat HansH menelusurkan jemarinya di pipiku.
"Sedikit nakal boleh, ya?" bisiknya. Dalam kelebat berikutnya, bibir HansH sudah mendarat di bibirku. Mengecupku. "Kau yang termanis dari semua hal yang pernah kurasakan."
Uuuuuh... aku tersipu. Praktis aku berguling menyamping, menyembunyikan pendar merah yang tak pelak menghias indah di wajahku pagi ini.
"Alisah," HansH kembali berbisik di telinga. "Terima kasih untuk cinta yang masih sama besarnya. Cinta yang sama indahnya. Aku bersyukur memilikimu di dalam hidupku. Kau cinta terbaik, dan cintamu akan selalu menjadi yang terbaik. I love you."
Ah, berdebar-debar jantungku di dalam dada. Kurasakan jemari HansH menyingkap helaian rambut yang menutupi tengkuk leherku, lalu ia mengecupnya. Tepat di sana, wajahnya terbenam, dan kehangatan mulai menjalar di sekujur tubuhku. Aku merinding, dan, tersenyum bahagia. "I love you more, My HansH."
Sekarang tangannya mendekapku erat. Di belakangku, dengan posisi kepala dimiringkan, kepalanya bertumpu di sisi kepalaku.
"Bagaimana keadaanmu? Sudah sehat?"
"Em, aku baik-baik saja. Jangan khawatir."
"Syukurlah. Aku senang kau sudah membaik. Emm... aku hari ini ada meeting penting."
"Oh, jadi kau harus pergi ke kantor?" Kulepaskan tangannya dariku dan aku berbalik menghadapnya.
HansH mengangguk pelan. Tiba-tiba wajahnya terlihat murung. "Yah. Aku lupa kalau hari ini ada meeting penting."
"Lalu, kenapa kau murung?"
"Bisa kau ikut denganku?"
"Eh? Untuk apa?"
"Emm... ikut saja. Aku tidak bisa jauh-jauh darimu."
Hmm... hanya sekadar alasan. Aku tahu dia takut aku akan pergi meninggalkan rumahnya dan hilang dari kehidupannya begitu ia pulang nanti. Kasihan sekali.
"Emm?"
"Aku tidak akan ke mana-mana. Aku akan di sini di saat kau pulang. Percaya kepadaku, ya? Kau tidak akan kehilangan aku. Aku berjanji."
Tersenyum. Dia mengecup pipiku. "Kau bisa membaca isi hatiku?"
"Yeah. Itu terlalu mudah. Sebab kenapa?"
"Kenapa?"
"Karena aku memiliki hatimu."
"Oh, manis sekali. Dan kau benar. Kau satu-satunya kekasih yang memiliki hatiku. Jadi... baiklah, aku akan pergi. Aku akan cepat kembali dan kau sudah berjanji, kau akan tetap berada di sini di saat aku pulang nanti."
Ya Tuhan... kekasihku yang rapuh. Aku tidak sanggup menatap kerapuhan itu dari matanya. Aku mengangguk dan kuberikan ia senyuman terbaik. "Aku akan tetap berada di sini di saat kau pulang. Aku janji, My HansH, apa pun yang terjadi, aku milikmu, dan aku akan selalu bersamamu."
"Baiklah." HansH kembali memelukku. "Aku percaya padamu," katanya, lalu ia mengecup sisi keningku dan melepaskan pelukan. Kemudian ia pun berdiri. "Eh? Bukankah hari ini aku berjanji akan mengajakmu ke pemakaman?"
Oh, aku melupakan bagian itu. Aku berdeham dan berusaha bangun, duduk tegak di tempat tidur. "Lain kali saja, ya? Kalau keadaanku sudah benar-benar sehat. Tidak apa, kan?"
"Baiklah." Dia menyentuh kepalaku. "Aku kembali dulu ke paviliunku, ya. Aku harus bersiap-siap. Kau istirahat saja. Nanti akan kusuruh seseorang membawakan makanan untukmu."
Menolak. Aku tidak selemah itu hingga mesti berdiam diri di tempat tidur. Aku hanya tidak ingin pergi ke pemakaman. Mungkin belum siap, atau karena alasan apa, aku tidak tahu. "Aku ingin mandi. Aku mau sarapan bersamamu dan melihatmu pergi ke kantor. Berdandanlah yang tampan. Oke?"
HansH terkekeh. "Kau sangat memuja ketampananku rupanya. Hmm?"
"Sangat." Aku bangkit, turun dari ranjang dan berdiri di hadapannya, memeluk pinggangnya. "Bisa jadi itulah yang membuatku jatuh cinta padamu sejak pandangan pertama."
HansH meraihku pada saat yang sama, dan kami tenggelam dalam keadaan gairah dan kebutuhan. Ia mengaitkan satu tangannya dengan tanganku, dan aku merasakannya. Aku merasakan segala sesuatu yang ada di sana, segala sesuatu yang merupakan dirinya. Kehangatan yang solid dari jemarinya. Kelembutan tangannya. Bahkan lekukan kecil buku-buku jarinya.
Ia menangkup bagian belakang kepalaku, dan gelombang emosi yang manis dengan cepat menenggelamkanku.
"Kita sudah terpisah begitu lama, dan sekarang kau di sini, bersamaku. Begitu dekat denganku. Haruskah kau menyiksaku lebih lama, Alisah? Aku menginginkanmu. Sungguh aku menginginkanmu."
Aku menengadah, memandangi wajah tampannya. Dia melepaskan tangannya lalu menyentuh pipiku, bibirku, alisku, daguku. Ia menyentuh setiap bagian wajahku yang bisa disentuhnya. Dengan perlahan. Menyiksa. Dan sepanjang waktu itu aku merasa gila, terbakar api dari dalam yang mencabik-cabik diriku.
"I love you." Dia menciumku.
Oh Tuhan... jika tadi kupikir aku terbakar, kali ini kurasa aku tenggelam. Kutekan tubuhku pada dirinya dan kutelusurkan tangan ke punggungnya. Sungguh, aku bahagia karena perasaan ini. Karena dia... milikku. Dia menciumku dengan sepenuh perasaan.
HansH mengeran*, dan menarikku lebih dekat ke dekapannya. Aku dapat merasakan seluruh dirinya. Kami bergerak mundur, sampai punggungku menyentuh dinding dan tak menyadari botol infus bergoyang-goyang di tiang gantungnya. Terbuai, hanyut, dan terbawa arus. Kutelusurkan tanganku ke atas, mengaitkannya ke rambutnya, dan tangannya bergerak ke bawah. Ke tulang leherku.
HansH menghentikan ciuman kami lalu mencium leherku. Membuatku merinding. Ia menyentuh titik sensitif di bagian bawah telingaku, dan, lututku goyah. "Oh...," aku melenguh. "My HansH... sebaiknya... sebaiknya kita berhenti. Aku...."
"Sungguh?" bisik HansH. Ia mengangkat kepalanya sedikit, senyum menawannya kembali mengembang. Ia menautkan kembali jemari kami, lalu mengunci tanganku ke dinding.
Aku mengangguk. Bukannya tidak suka, aku hanya tidak ingin kami berdua kebablasan. Mungkin aku dan sifatku tidak sebaik Alisah, tapi aku ingin diriku tetap mulia di mata HansH. Terlepas dari dendam Kak Sanjeev, aku ingin HansH mencintaiku sesempurna cintanya kepada Alisah. Bukan sekadar karena hasrat dan kerinduannya terhadap sosok Alisah. Lebih dari itu, aku merasa dialah cinta sejatiku.
"Kita belum menikah. Jadi... bersabarlah. Oke?"
Mengedikkan bahu, HansH melepaskan aku, mundur beberapa langkah, lalu menatapku sambil tersenyum. "Baiklah. Jadi aku sudah mendapatkan jawaban ya darimu, kan? Kita tinggal menentukan tanggalnya dan kau tidak boleh mundur. Terima kasih. Aku mencintaimu. Bye, Sayang."
Haha! Dasar tukang paksa.