Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)

Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)
Kesalahpahaman...?



Tapi faktanya, semakin aku berusaha mengabaikan ramalan itu, semakin aku berharap kalau ramalan itu akan menjadi nyata. Bukan di bagian masalah yang akan kuhadapi, tetapi di bagian bahwa aku akan segera memiliki anak. Diam-diam harapan itu membuatku semakin berusaha untuk mendapatkan momongan, terlebih saat ini aku dalam masa subur. Siklus bulananku baru saja selesai beberapa hari yang lalu. Jadi, aku rutin mengonsumsi susu program hamil-ku, meminum berbagai jus yang mengandung asam folat tinggi, dan menjaga betul asupan gizi yang masuk ke tubuhku. Meski sayangnya aku tidak bisa mencegah HansH yang masih terus mengonsumsi kafein secara berlebihan. Dia penggila kopi.


Kendati demian, itu tidak berarti mudah. Sebab, di sisi lain, di hadapan HansH, aku berusaha menutupi bagaimana perasaanku yang sebenarnya, dan sebisa mungkin aku menahan diriku supaya aku tidak kelepasan untuk bicara tentang memiliki anak, apalagi sampai membahas tentang ramalan itu. Tapi walaupun begitu, HansH jelas menyadari ada sedikit perubahan pada sikapku setelah aku bertemu dengan Pak Malik pada malam itu. Bahkan, dalam perjalanan pulang setelah keterlambatannya menjemputku, HansH bertanya ada apa dan mengapa aku diam saja. Dia menyadari kalau ada sesuatu yang kupikirkan. Tapi untungnya aku berhasil mengelak. Dengan jawaban klise: aku tidak apa-apa, kataku. Bahwa aku hanya mengantuk dan agak lelah karena pada hari itu pengunjung restoran lumayan ramai daripada biasanya.


Tetapi tentu saja, alasan itu tidak berlaku untuk setiap waktu, setiap kali HansH bertanya. Dan bodohnya aku, serapat apa pun aku menyembunyikan perasaanku, tentang apa yang kurasakan sebenarnya, aku tetap tidak bisa menyembunyikan rahasia-ku itu sepenuhnya di hadapan HansH. Atau karena HansH terlalu mengenal diriku? Entahlah, aku tidak tahu. Benar-benar tidak tahu. Mungkin juga karena keduanya: aku yang memang payah, bodoh, dan HansH terlalu mengenalku. Klop!


"Jujur padaku, ada apa?" tanya HansH pada suatu malam, beberapa hari setelah ramalan itu, dan itu persis pada malam di mana besoknya kami sudah wajib menjalankan ibadah puasa. Saat itu, aku dan HansH sudah berbaring di ranjang. "Besok kita sudah mulai puasa. Jadi, jangan berbohong. Itu tidak baik, akan mengurangi keberkahan puasamu. Lagipula kan berbohong itu hal yang tidak baik, terlebih berbohong pada suami. Itu durhaka, Sayang. Berdosa."


Oh, betapa tercubitnya hatiku.


"Hei? Ada apa? Ceritakan kepadaku. Aku suamimu, aku berhak tahu atas apa pun yang terjadi padamu. So, please, beritahu aku, ya? Ada apa?"


Gleg!


Bagaimana aku harus mulai bicara?


"Sayang? Please, ya?"


Aku mengagguk.


"Ini...," kataku ragu. "Ini soal... anak."


"Masih topik yang sama? Kenapa?" tanyanya lembut. "Kan sudah kubilang, jangan dijadikan beban."


"Aku tahu. Tapi...." Aku menggeleng. Keraguan itu jelas masih mencegahku untuk mengutarakan hal yang sekarang ini menjadi beban yang tersimpan di hatiku.


Tapi HansH bersikeras ingin tahu. "Ada apa? Berbagilah denganku. Bagi bebanmu denganku. Jangan menyiksa dirimu sendiri. Please, aku mohon bagi bebanmu denganku."


Aku berdeham. "Aku tahu, sebagai pasangan suami istri, seharusnya kita memang saling berbagi. Tapi aku takut... aku takut akan menyinggung perasaanmu kalau aku bicara yang sebenarnya."


Mata HansH terpejam sejenak. Jelas dia pun merasa terbebani sekarang. Bahkan terdengar jelas olehku, dia menghela napas dengan berat. "Aku janji, aku akan memaklumi segalanya. Jadi, katakanlah. Beritahu aku apa pun itu. Hmm?"


Lagi. Aku mengangguk. "Baiklah kalau... kau bersikeras. Akan kuberitahu. Emm... entah kenapa aku merasa... kalau kau... kau sebenarnya menutupi sesuatu dariku."


"Maksudnya? Aku tidak mengerti. Soal apa yang kau bahas ini?"


Sekarang giliran aku yang menghela napas dalam-dalam, dan berdeham pelan. "Langsung ke intinya saja, aku merasa kalau kau tidak antusias setiap kali aku membahas soal anak denganmu. Tidak pernah sekali pun? Kenapa?"


"Sayang...."


"Apa alasannya?"


"Kau hanya--"


"Pasti ada sebabnya, kan?" potongku. "Apa kau...? Kau tidak ingin kita memiliki anak?"


HansH menggeleng. "Bukan begitu, Sayang. Kau hanya salah paham."


"Salah paham?"


"Bukan. Lebih tepatnya...."


"Apa?"


"Maksudku... itu hanya perasaanmu saja. Menurutmu aku ini tidak antusias, kan? Nah, itu hanya karena pemikiranmu saja. Itu tidak benar."


"Kau yakin? Jadi aku hanya salah paham?"


"Em."


"Jadi?"


"Apa?"


"Kau mau kita memiliki anak?"


"Iya. Tentu. Tentu saja aku mau."


"Tapi?" Kutatap HansH dengan penuh selidik, jelas aku melihat ketidakjujuran dari matanya.


"Tidak ada tapi. Hanya saja, tolong jangan jadikan hal ini sebagai beban. Itu saja."


Tidak. Ini tidak clear. "Maksudku begini, My HansH, aku sama sekali tidak menjadikan soal anak itu sebagai beban. Aku enjoy. Tapi justru ketidakantusiasan-mu itu yang menjadi beban bagiku. Caramu menghindar. Caramu merespons yang biasa saja, pokoknya sama sekali tidak antusias menurutku, justru itu yang menjadi beban. Aku jadi merasa kalau kau menutupi sesuatu dariku."


Oh, tenggorokanku terasa perih.


"Apa yang kau rahasiakan dariku?"


Lagi-lagi HansH menggeleng. "Kau hanya salah paham? Oke? Buang jauh-jauh pikiran negatif itu."


"Kau yakin?"


"Yakin."


"Serius?"


"Serius, Sayang."


"Baiklah. Akan kucoba untuk percaya kalau pemikiranku selama ini salah. Jadi," kataku tercekat, dengan ragu, aku meraih tangan HansH, menariknya dan menempatkannya ke atas kulit perutku. "Katakan kalau kau menginginkan anak dariku. Tanpa tapi, tanpa pertimbangan apa pun. Sungguh aku tidak akan terbeban. Tolong, aku mohon katakan kalau kau menginginkan anak terlahir dari rahimku. Ucapkan itu sebagai doa dan harapanmu. Kau bersedia?"


HansH menyanggupi. Mengiyakan. Tapi sayangnya aku masih saja merasakan seakan ada beban berat, seperti rasa enggan ketika HansH menuruti keinginanku.


"Aku menginginkan anak darimu, Sayang. Anak-anakku, buah hati yang terlahir dari cinta kita yang suci," ucap HansH takzim seraya mengeluskan telapak tangannya di perut dan sekitar pinggangku dengan lembut.


Air mataku menggenang. "Cium perutku," pintaku. "Anggaplah ada benih yang berhasil tumbuh di rahimku. Andaikan kenyataannya belum, ataupun sudah, barangkali, perhatianmu itu akan membuat calon anak kita semangat untuk berjuang."


HansH tersenyum. Kusadari matanya sama berkacanya denganku. Dielusnya kulit perutku sekali lagi, lalu dia mencium perutku dengan sepenuh perasaan.


"Terima kasih, My HansH. Aku percaya padamu. Sekarang peluk aku, please...."


Terpenuhi. Kami berdua saling berpelukan dengan erat. "Sayang?"


"Emm?"


Dia menunjukkan senyum terbaiknya, tepatnya cengiran konyol. "Kau tahu, daripada kita banyak membahas soal ini itu, ini itu-nya, lebih baik yang banyak itu prosesnya, ya kan? Yuk, proses sekarang?"


Aaaah... dasar. Dia paling bisa mengalihkan pikiranku.


Terima kasih, Tuhan. Sekarang aku percaya jika pikiranku selama ini salah. Aku percaya bahwa HansH juga menginginkan seorang anak untuk menyempurnakan cinta kami. Terima kasih. Aku mencintaimu, My HansH. Aku mencintaimu....