
Keesokan paginya cerah dan segar saat aku bergabung dengan anggota keluarga yang lain di restoran hotel yang mewah untuk sarapan, aku merasa pagi itu luar biasa baik. Bahkan di pagi hari itu aku sudah sempat tertawa sampai terkekeh-kekeh karena Neha baru saja bercerita kepadaku bahwa dia sudah mendapatkan kembali jam tangannya dari Joshi. Sewaktu Joshi terkapar tidak sadarkan diri setelah dihajar habis-habisan oleh Kak Sanjeev dan HansH, sangat sayang baginya untuk melewatkan kesempatan itu. Dia tidak hanya mengambil kembali jam tangan pemberiannya, tapi dia juga mengambil ponsel dan uang tunai dari dompet Joshi kemudian memberikannya kepada seorang gelandangan. Lebih dari itu, Neha juga mengambil kunci mobil dan sim-nya lalu membuangnya ke tong sampah.
Ya ampun, aku tidak menyangka kalau sahabatku akan berbuat seperti itu, betapa cocoknya kami dengan kelakuan masing-masing. Eh? Hahaha!
"Biar saja. Dia harus diberi pelajaran. Aku kesal sekali pada lelaki berengsek itu."
"Oh, Neha... kau sadis sekali, kasihan pria malang itu," ujarku seraya tertawa. "Yang kau lakukan itu jahat."
"Mengambil sesuatu dari orang jahat itu bukan kejahatan, tahu!" Tawa jahat Neha melengking memenuhi ruang kamarku.
Yeah, cerita Neha membuat pagiku terhibur. Joshi memang pantas mendapatkan pembalasan karena dia pernah menyakiti hati sahabatku.
Sebelum aku dan Neha sampai ke meja untuk bergabung bersama dengan yang lain, aku menyadari ternyata pagi itu Sheveni dan Nandini menyelinap keluar sebelum kami bangun untuk belanja di pagi hari yang membuat geli Vicky dan Vikram yang terpaksa terlibat dalam aktivitas itu, dan kini sederet kantong belanja yang mengesankan memenuhi lantai di bawah meja kami. Dan aku juga menyadari ada seorang gadis cantik duduk di sebelah kekasihku. Dia Violin, temannya Sheveni. Gadis itu yang mengajak HansH berdansa semalam dan HansH menolaknya. Tapi dia gigih juga ternyata. Dia terus berjuang meski mendapatkan penolakan.
Baiklah, pikirku, tempatku ada yang menempati. Kita lihat saja, apakah kekasihku yang tampan itu akan tetap duduk di sana atau pindah duduk di sebelahku? Aku dan Neha pun duduk di sisi -- di deretan kursi-kursi yang kosong.
"Hai, selamat pagi semua," sapaku.
"Oh, Kakak Ipar, kau sudah datang," sambut Nandini.
"Bagaimana kabarmu, Nak? Keadaanmu sudah baik-baik saja, kan?"
"Ya, Bi, aku sudah baik-baik saja. Omong-omong, HansH di mana? Apa ada yang melihatnya?"
O-ow... semua orang tercengang bingung kemudian menatapku dengan tanda tanya yang menggantung di atas kepala lalu menatap ke arah HansH. "Ada apa?" pertanyaan itu tercetus pelan dari beberapa orang.
"Hei, apa maksudmu, Sayang?"
Aku mengangkat bahu. "Mungkin dia tidak mau sarapan. Kalau tidak, kursi di sebelahku tidak akan kosong."
"Oh, oh, oh, oh...," ledek beberapa orang.
HansH malah cengar-cengir. "Maafkan aku. Aku tidak peka," ujarnya. Dia pun berpindah duduk ke sisiku.
Well, kemenangan ini begitu mudah didapatkan. Tidak perlu ribut apalagi bertindak murahan. Kasihan si gadis yang mengejar-ngejar HansH, wajahnya langsung berubah masam dan ia melayangkan tatapan tak suka kepadaku.
"Maaf aku tidak melihatmu tadi," kataku pada HansH yang kini menyunggingkan senyum menawan, dia duduk di sebelahku dengan wajahnya yang berseri-seri. "Kau sih tidak menyediakanku kursi kosong di sampingmu. Jadi kukira kekasihku tidak ada di sini." Kemudian aku berbisik sambil mencondongkan tubuh lebih dekat, "Bahkan aku mengira kau kekasih orang lain."
HansH terkekeh, lalu dia balas berbisik. "Aku suka kecemburuanmu. Kau sangat menggemaskan."
Uuuh... dia pasti sudah menyambarku ke dalam ciuman penuh gairah jika kami hanya berduaan. Aku menyadari benar cara HansH menatapku, matanya selalu dipenuhi cinta yang memancar begitu nyata.
Setelah menghabiskan sarapan dan sebelum melakukan perjalanan pulang kembali ke Birmingham, kami memutuskan untuk memanjakan mata di lahan pertamanan yang menakjubkan, rumah milik Duke dan Duchess of Northumberland. Tempat itu luar biasa besar, lapangan rumput luas yang terpangkas rapi membentang sejauh mata memandang, dengan barisan pepohonan klasik terlihat di kejauhan serta pohon-pohon tua berdiri siaga mengitari taman geometris yang dirawat dengan rapi. Mustahil untuk tidak terkesan oleh keindahan yang mewah dari tempat ini. Ketika kami tiba di istana batu besar bermenara itu, berpendar nyaris putih di bawah matahari pagi, obrolan kami terhenti selagi kami mengamati semuanya. Ini tempat yang sangat tepat untuk seorang putri, benar-benar lokasi idaman, dan aku hampir tidak percaya bahwa sekarang aku berada di sini.
"Ingin mengadakan pernikahan di sini?" tanya HansH tiba-tiba.
Ah, andai saja itu terjadi, betapa bahagianya aku. Tapi tidak, itu bukan tempat yang pantas bagi diriku: si gadis penipu. Pernikahanku dan HansH tidak sesuci itu hingga pantas diselenggarakan di taman surga seperti ini.
"Tidak. Pernikahan kita sederhana saja. Aku bukan seorang putri walau kau seorang pangeran. Lagipula aku tahu adikmu pasti tidak akan suka, dan dia malah akan semakin mengecapku sebagai Cinderella, si upik abu."
HansH *endesah. "Kenapa harus kau pikirkan? Kenapa tidak kau abaikan saja? Toh, suka tidak suka, itu pernikahan kita."
"Kau ini cerewet, ya. Kau ingin menikahiku atau tidak? Kalau mau, kita menikahnya sederhana saja, oke? No debat!"
Menyerah. Dia mengedikkan bahu dan berkata, "Terserah padamu saja. Aku akan menurut."
"Bagus. Tapi, My HansH...."
"Tapi apa?"
"Walau pernikahan kita sederhana," kataku, kulingkarkan tanganku dan aku memeluknya dari belakang, "kau tetap harus mempersiapkan kamar pengantin yang super indah untukku. Buat malam pengantin kita indah dan berkesan. Apa kau akan melakukannya untukku? Hmm?"
HansH tertawa. "Parah," komentarnya. "Kau sudah sangat tidak sabar rupanya. Apa kau sering membayangkan momen itu bersamaku? Hmm?"
Dia melangkah mendekat, dengan cepat menghentakku ke dalam pelukannya. "Apa kau keberatan, Nyonya? Aku bahkan memimpikanmu di setiap malam. Dan momen yang indah itu... selalu berputar di benakku sepanjang malam. Hanya ada kau... aku... dan cinta kita yang seindah surga."
Ya ampun, aku mendongak memandanginya, menangkap tatapan cinta di matanya dan kurasakan jantungku berdetak tak karuan. Di saat itulah ia menyambarku ke dalam ciuman penuh gairah sementara penonton bersorak.
Aku terkejut.
"Indah sekali...!" pekik Parvani dengan kamera di tangannya.
Ugh!
"Kau merekam kami? Hah? Dasar nakal!" HansH mencubit kedua pipi adik bungsunya dengan gemas.
Oh, syukurlah. Aku melihat ke sekeliling, tidak ada Bibi Heera di sekitar kami.
Sembari cengar-cengir seperti remaja nakal, HansH menarikku kembali ke tempat parkir minibus kami. Sungguh, tadi itu kejadian yang menyenangkan, sekaligus memalukan.
"Apa?" tanyaku saat kami berada di sisi lain minibus, bebas dari pandangan orang lain. "Kenapa kau menatapku seperti itu? Hmm?"
Seulas senyum lebar melintasi wajahnya saat dia menggenggam tanganku. "Mau mengulanginya? One more, please...?"
"Aku tidak akan melakukannya kalau jadi kau!"
Terhentak, aku dan HansH menoleh ke sumber suara. Kareena, si gadis pirang itu berdiri di hadapan kami sambil menyingkirkan rambut dari matanya yang tertiup angin.
"Kau ingin merusak kehidupan gadis lain? Hmm? Kau mau mencari mangsa lagi? Sudah cukup, Pria Brengsek! Kau sudah melakukan cukup banyak kerusakan. Kau sudah merenggut keperawananku tapi kau tidak mau bertanggung jawab. Dasar pecundang! Semoga Tuhan segera menghukummu!"
Ah, sadis! Aku mengawasi dengan pasrah saat dia mencangklongkan tas ke bahu dan berlenggak-lenggok hendak pergi.
"Aku tidak pernah melakukan itu," kata HansH menarik kembali perhatianku. Dia menaruh kedua belah tangan di bahuku. "Please, percayalah padaku, aku mohon?"
Aku menghela napas dalam-dalam dan baru hendak bicara ketika Kareena memotong, "Omong-omong," katanya sambil menoleh, "dia pecundang, tapi goyangannya fantastis di atas ranjang."
"Kareena!" HansH berang. "Hentikan omong kosongmu!"
Tapi gadis itu tidak mengindahkannya dan malah langsung pergi.
HansH gelisah. "Alisah," katanya, "kau percaya padaku, kan? Jangan percaya dengan apa yang dikatakan oleh gadis itu. Itu semua tidak benar."
"Bagian yang mana?"
"Semuanya. Semua itu bohong."
"Bohong? Apa kau yakin?"
"Sungguh. Percayalah padaku. Semua itu bohong. Aku berani sumpah."
"Oke, My HansH, sekarang tatap mataku." Aku mengangguk-angguk, kutatap matanya seakan-akan sedang mencari kejujuran. "Jadi, semua itu bohong? Berarti... kau...? Kau tidak hebat di ranjang?"
Ups!
Hahaha! Aku terbahak-bahak menyaksikan HansH mengeran* keras. "Kau serius sekali, sih. Aku selalu percaya padamu."
"Itu tidak lucu!"
"Tapi kau lucu. Kau selalu menggemaskan!"
"Sumpah! Kau tidak waras, Sayang!"
"Biarlah, yang penting kau selalu mencintaiku. I love you so much!"