
Menyadari situasi yang tidak nyaman itu, aku tahu aku mesti mengatasi suasana melow itu agar kami berdua terhindar dari air mata kesedihan. Jadi, ya, aku menggeleng lalu kugenggam erat kedua tangannya untuk menenangkan keresahan yang tengah ia rasakan. "Tidak apa-apa, My HansH," kataku seceria mungkin. "Berpikir positif saja, oke? Sekarang dengarkan aku, aku yakin Kak Sanjeev tidak punya maksud buruk padaku ataupun pada adik-adikmu. Dia memberiku hadiah karena dia menganggapku sebagai adiknya sendiri. Tapi kau, kau tidak bisa menganggapku sebagai adik. Aku calon istrimu dan sebentar lagi akan menjadi istrimu. Setelah itu, apa pun yang ingin kau berikan kepadaku, akan kuterima dengan senang hati. Apa pun. Jangankan sekadar perhiasan, pada saatnya nanti, di saat kau memberikan dirimu seutuhnya kepadaku, aku akan menerimamu dengan segenap jiwa dan raga. Tidak terkecuali pada saat nanti, saat kau... menyatu bersamaku."
Ups! Hahaha!
Terkekeh senang. HansH nyaris tidak bisa menahan tawanya. "Ya ampun, kata-katamu agak menjurus, ya," ujarnya terang-terangan.
Sontak saja aku ikut terkekeh. "Yang penting kau tertawa. Kalau masih kurang, kau bisa memandangiku sepuasnya, sampai suasana hatimu kembali ceria."
"O ya? Apa itu ampuh?"
"Coba saja."
"Sepertinya kurang ampuh. Tapi aku tahu cara yang lebih baik."
Hmm... HansH cengar-cengir. "Aku tahu isi kepalamu," kataku. "Dasar pria nakal!"
"Mau bagaimana lagi, kekasihku sangat cantik. Dan aku kesulitan mengendalikan diri hanya karena menatap wajahnya. Sungguh, kau memabukkan."
Aku tersenyum. "Maka mabuklah. Mabuklah karena aku dan bersamaku."
Gemas. HansH merema* jemariku kuat-kuat. "Kita nikah besok, yuk?"
Iyuuuuuh! Dia membuatku tergelak. "Dasar, ya, kamu. Pria tidak sabaran."
"Semua karenamu," bisiknya mesra. "Hanya, karena dirimu."
Lagi-lagi aku tergelak. "Sudah, ya, bercandanya. Kita menikah bulan depan. Tidak bisa diganggu gugat."
Dia hanya mengangguk, tapi tatapan lekatnya tak mau lepas dariku.
"Jadi, perasaanmu sekarang sudah lebih baik, kan?"
Senyum ceria HansH mengatakan segalanya, dan aku sangat bersyukur untuk itu.
Well, setelah menghabiskan kue kami, HansH pun mengusulkan supaya kami pergi ke South Bank. "Sangat indah di tepi sungai Thames," katanya. "Kau pasti suka."
Yap! Dia tidak salah. Ketika tiba di South Bank, pemandangan yang luar biasa ajaib menyambut mataku. Tiap pohon ditutupi jala berupa lampu-lampu kecil, membuatnya tampak seperti bertatahkan berlian berkilauan, dan lampu-lampu beraneka warna memantul di air sungai yang gelap. Indah sekali.
Kutelan ludah dengan susah payah. Aku mulai merasa tidak nyaman. Dan tidak tahu mesti mengatakan apa, aku hanya bisa terdiam.
"Alisah, ada apa? Kau terlihat tidak nyaman. Apa kau sakit?"
Aku menggeleng. "Tidak, kok. Aku tidak apa-apa." Hanya sedikit tidak nyaman. Andai kau tidak membahas masa lalu.
"Kau yakin?"
"Em."
"Tapi sepertinya kau gelisah. Dan ini selalu terjadi di saat aku membahas masa lalu kita. Aku mengerti kalau kau tidak ingat, tapi reaksimu... kau bahkan tidak pernah antusias. Seakan-akan...."
"Kalau kau mengerti kenapa kau selalu membahasnya?" tanyaku, emosiku terpancing. "Masa lalu itu kenangan indah bagimu. Tapi bagiku tidak, dan itu justru sangat manyakitkan karena aku bukan Alisah! Aku... aku bukan Alisah yang memiliki kenangan itu dalam ingatanku. Kenangan itu tidak ada dalam ingatanku. Tidak ada. Dan aku sakit untuk kenyataan itu. Kalau kau peduli, jangan selalu membahas masa lalu denganku. Tolong, aku tidak bisa. Aku tidak bisa."
Pergi. Aku melangkah mundur. Aku tidak sanggup melihat HansH yang mematung karena kata-kataku. Aku sudah menyakiti hatinya. Dan ini salah. Kenapa aku bisa lepas kendali seperti ini?
"Alisah!" seru HansH, dia pun mengejarku dan berhasil menarik tanganku. Aku terhentak ke dalam pelukannya. "Aku minta maaf. Aku minta maaf, oke? Maafkan aku. Maafkan aku, tolong? Maafkan aku," kata HansH berulang-ulang dalam deru napas yang tak stabil. "Maafkan aku. Aku mohon jangan pergi, jangan meninggalkan aku lagi, Alisah. Aku tidak ingin kehilanganmu. Tolong."
Aku terisak. "Aku yang harusnya minta maaf. Aku menyakitimu. Kata-kataku keterlaluan. Maafkan aku, My HansH. Maafkan aku."
"Ssst... tidak apa-apa, Sayang. Tidak apa-apa, oke? Aku tidak apa-apa." Dia menangkup wajahku dengan sebelah tangan, sementara tangan lain perlahan-lahan mengangkat tanganku dan menyapukan bibirnya di jemariku. "Aku yang salah. Tapi aku janji, mulai sekarang aku akan lebih mengerti perasaanmu. Aku tidak akan membiarkan kenangan masa lalu kita menyakitimu lagi. Tidak akan pernah. Maafkanlah aku."
Mengulurkan tangan, kupegangi wajahnya dengan tanganku lalu aku menciumnya. Merasakan manis bibirnya dalam luapan emosi. Dalam pelukannya aku merasakan kehangatan dan bahwa aku tahu aku tidak akan sanggup kehilangan pria ini. Tidak akan sanggup, Tuhan....
Saat ciuman itu berakhir, dan kami saling menatap dalam pendar warna-warni taman, kukatakan bahwa aku sangat mencintainya. "I love you so much, My HansH. Aku tidak ingin hidup tanpamu, aku ingin terus hidup bersamamu. Jadi please... bisakah kau menerimaku yang sekarang, tanpa ada hubungannya dengan masa lalu? Bisakah kau menjadikan aku Alisah yang baru, Alisah tanpa kenangan masa lalu? Jika kau bisa, aku ingin kita memulai cinta kita yang baru, cinta kita yang sekarang, aku mohon, please...? Katakan kepadaku kalau kau bisa menerima Alisah yang sekarang ada di hadapanmu. Tolong katakan?"
"Ya, aku bisa." HansH mengangguk tak terkendali, air matanya sama berurainya denganku dan ada senyuman bahagia di wajahnya. "Aku bisa. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu tanpa harus mengingat masa lalu. Aku mencintaimu."
Kuseka air mataku dan aku kembali menatap ke dalam matanya. "Berjanjilah, kau tidak akan mengungkit masa lalu itu dan kau bersedia menata masa depan yang baru bersamaku, tolong?"
"Ya, Alisah. Ya. Aku berjanji padamu. Aku berjanji, hanya ada masa sekarang dan masa depan dalam hubungan ini. Aku janji." HansH mendekapku erat. "Maafkan aku, ya. Tolong jangan menangis lagi."
Terima kasih, My HansH. Aku harap kau tidak akan pernah lupa pada kata-katamu ini. Di saat nanti kau mengetahui segala kebenarannya, aku harap kau tetap akan mencintaiku sedalam ini.