Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)

Mr. HansH (Ishq Mein Marjawan)
Seandainya....



Tok! Tok!


"Permisi...." Seorang suster muda muncul di ambang pintu. "Maaf mengganggu."


Aku dan HansH yang baru saja saling melepaskan pelukan karena ketukan itu hanya tersenyum kepadanya.


"Selamat pagi."


"Pagi, Suster."


"Kita periksa tensi darah, ya, Nona."


Aku mengangguk, kuberikan tanganku dan membiarkan suster melakukan pekerjaannya. Sementara, di sampingku, HansH menggenggam tanganku yang terpasang infus dengan satu tangannya sementara tangan yang lain mengelus-elus sisi kepalaku dengan sayang.


Aku tahu, aku menikmati momen yang tidak semestinya. Aku membiarkan diriku larut dalam kehangatan cinta sang pangeran impian yang terus terbayang sejak Natal yang lalu.


"My HansH," bisikku. "Infusnya tinggal sedikit. Tolong minta suster untuk melepasnya. Ini tidak nyaman."


Awalnya HansH seperti ingin menolak, tetapi melihat tatapanku yang mengiba, dia pun memilih untuk menuruti keinginanku. Lagipula aku merasa diriku sudah baik-baik saja. Dia pun meminta suster untuk melepaskan slang infus dari tanganku. Aku memalingkan pandangan dengan ngeri ketika suster melepaskan jarum kecil yang mengerikan itu dari punggung tanganku. Aku takut pada jarum suntik.


"Hei, kenapa? Hmm? Alisah-ku tidak pernah takut pada jarum suntik."


Oh? Aku terdiam kaku. Kak Sanjeev tidak memberitahuku tentang hal ini, padahal dia sangat tahu kalau aku takut pada jarum suntik. Apa dia tidak tahu kalau Alisah tidak takut pada jarum suntik? Tidak. Tidak. Jangan terlalu banyak berpikir, Zia. Ini hanya hal sepele. Tidak heran kalau Kak Sanjeev tidak tahu soal ini, atau mungkin saja dia lupa memberitahuku. Ini sama sekali bukan masalah. "Aku tidak tahu," kataku pada HansH. "Tapi sekarang rasanya...."


"Rileks, oke?"


"Em."


"Apa rasanya sakit?"


"Tidak. Ini hanya...."


Aku kembali terdiam. HansH, dia meraih tanganku, kemudian ia mengangkat tanganku dan menyapukan bibirnya di kulitku, persis di atas bekas jarum yang baru saja terlepas. Membuatku terpaku dan waktu seakan berhenti sesaat hanya untuk momen singkat yang manis ini. Jantungku kembali berdebar tak karuan.


"Jangan takut, ada aku yang akan selalu menjadi penawar rasa sakitmu."


Aaaaah... dia selalu tahu bagaimana cara membuat senyumku mengembang sempurna. "Terima kasih," bisikku lagi. "Kamu kekasih terbaik."


"Selalu. Dan hanya untukmu."


"Kau manis sekali."


"Maaf," suster menyela. "Saya permisi."


Oh, maafkanlah. Perhatian kami saling tersita oleh satu sama lain. Asmara ini sungguh memabukkan.


"Sekarang aku lapar."


"Mau makan? Biar kusuapi."


"Tidak usah. Aku bisa sendiri."


"Jangan menolak, Sayang."


"Hmm... baiklah jika kau memaksa."


HansH berdiri, dia mengambil nampan makananku dan membawakannya ke ranjang. Manis sekali. Dia duduk di hadapanku dan menyuapiku makan dengan sayang.


"Kau sudah sarapan?"


Aku manggut-manggut. Meski aku belum tahu wajah dan nama-nama anggota keluarga Mahesvara, tapi Kak Sanjeev sudah menjelaskan kepadaku bahwa HansH memiliki tiga orang adik perempuan. Adik pertama dan adik keduanya sudah menikah beberapa bulan yang lalu, dan adik bungsunya masih gadis dan dia masih kuliah. Adiknya yang pertama lebih tua dua tahun dariku, yang kedua seumuran denganku, dan yang ketiga lebih muda tiga tahun dariku. Adik keduanya menikah dengan orang kepercayaan HansH. Mereka semua tinggal bersama karena HansH tidak ingin adik-adiknya tinggal jauh darinya. Di rumah itu juga ada bibinya, adik kandung dari ayahnya. Dia seorang janda tanpa anak. Suaminya meninggal bersama ayah dan ibunya HansH dalam kecelakaan pesawat beberapa tahun yang lalu. Sejak itu bibinya yang mengambil alih untuk mengurus keempat keponakannya seperti anak kandungnya sendiri. Ah, andai dia tahu dia memiliki satu orang keponakan lagi, mungkin dia juga akan sama sayangnya kepada Kak Sanjeev seperti rasa sayangnya kepada HansH dan adik-adiknya.


"Dia pasti sangat menyayangimu," aku berkata.


"Ya, tentu saja. Dia sangat menyayangi kami semua."


"Apa dia juga mengenal Alisah? Maksudku... emm... apa...?"


"Tentu saja, Sayang. Itu pasti. Bibi juga sangat menyayangimu."


"Em, syukurlah. Sekarang aku tidak khawatir lagi. Keluargamu pasti akan menerimaku dengan baik, bukan?"


HansH mengangguk. "Pasti. Semua orang menyukaimu. Kita pasti sudah menikah kalau saja kecelakaan itu tidak pernah terjadi. Dan kita akan hidup bahagia bersama keluargaku."


"Kuharap kau tidak menyesali masa lalu."


"Tentu. Tidak akan lagi. Kau sudah kembali. Itu yang terpenting."


"Em, tapi... aku bukan Alisah yang dulu. Kau... akan menerimaku tanpa bayang-bayang masa lalu, kan?"


HansH menatapku, senyum menawan kembali terukir indah di wajahnya. "Aku tidak akan mempermasalahkan apa pun, kau tidak ingat dengan masa lalumu, masa lalu kita, itu tidak jadi masalah. Yang terpenting hatimu tetap sama, ada aku, dan ada cinta untukku."


Andai selamanya akan seperti itu. Andai selamanya kau tidak akan mempermasalahkan apa pun yang ada di dalam hubungan ini....


"Alisah?"


"Emm?"


"Tatap mataku," pintanya. "Apa aku masih ada di hatimu? Masih ada cinta untukku?"


Aku mengangguk. "Kau ada di hatiku. Dan bukan sekadar masih, tapi cinta ini akan selalu ada untukmu. Pria paling tampan yang pernah hadir dalam hidupku."


Nyaris tergelak, HansH mengusap-usap hidungnya dengan tangan. "Sangat manis," ujarnya. "Kata-kata itu mengingatkanku pada masa lalu. Kau dulu juga pernah mengatakan kalimat itu padaku."


"O ya?"


"Emm, sering sekali."


"Karena faktanya memang begitu. Kau memang yang paling tampan bagiku."


"Terima kasih. Aku tersanjung. Kau tahu, bahkan yang terjadi sekarang juga mirip dengan kisah kita yang dulu. Kita bersama setelah pertemuan kita yang ke-tujuh."


Keningku mengerut.


"Jangan kau pikir aku tidak tahu."


"Emm? Tentang apa?"


"Aku melihatmu di jembatan dekat pelabuhan permanen, hanya selintas. Itu ke-empat kalinya aku melihatmu setelah tiga kali pertemuan sebelumnya. Yang pertama di Pasar Natal, lalu pertemuan yang ke-dua di tepi danau, yang membawa kita ke pertemuan ke-tiga di Harry's, berkat sandwich yang kau berikan kepadaku di danau itu. Lalu, pertemuan ke-lima kita di George. Sama seperti di jembatan dekat pelabuhan permanen, kau kabur begitu kau tahu aku ada di sana. Jangan katakan kalau aku telah salah melihat. Aku tahu kalau itu dirimu, ya kan?"


Aku mengangguk. "Maafkan aku."


"Tidak masalah. Aku mengerti. Sama seperti di malam tahun baru, pertemuan kita yang ke-enam, kau juga tiba-tiba kabur dariku. Dan kau coba kabur lagi di pertemuan kita yang ke-tujuh. Lihat, siapa yang tahu takdir menahanmu di sini? Kau tidak akan bisa kabur lagi dariku. Tidak akan pernah bisa walau kau ingin melakukannya."


Yeah, aku tidak ingin pergi lagi dari hidupmu. Seandainya bisa, sekalipun kau menjadikanku tawanan cintamu, aku akan bersedia selalu berada di sisimu. Seandainya, My HansH.


Hanya seandainya....