
Apa yang akan kau lakukan jika kau berada di posisiku? Memberitahu HansH dengan menunjukkan testpack bergaris dua itu meski risikonya kau akan dituduh telah berselingkuh, bahkan mungkin kepalamu akan ditodong dengan pistol? Atau, kau akan tetap bungkam, barangkali kau pikir kau akan mencari waktu yang tepat untuk bicara seperti cerita-cerita di dalam sinetron?
Bermenit-menit kuhabiskan waktu di kamar mandi untuk berpikir, mengambil keputusan. Tapi tetap saja nihil. Aku tidak tahu mesti berbuat apa, sementara debaran di hati semakin jadi. Terlebih...
"Sayang...."
Ya Tuhan... suara HansH membuatku semakin berkeringat dingin.
"Bisa cepat sedikit, Sayang?"
Aku berdeham. "Ya," sahutku. Kufokuskan diri dengan apa yang mesti kulakukan sekarang: kubuang urine yang tertampung dan kusembunyikan testpack yang bergaris dua ke dalam plastiknya. Dan aku bersih-bersih lalu berwudu. Tapi...
Ah, salatku tidak khusu'. Aku tidak bisa mengenyahkan beban pikiranku saat ini. Aku menangis dalam kegelisahan.
"Ada apa?" tanya HansH selepas kami salat dan aku mencium punggung tangannya. "Cerita padaku, apa yang membebani hatimu?"
Menggeleng. Aku tak mampu menjawab.
"Sayang," kata HansH lagi. "Aku tahu kau sedang gelisah. Ada sesuatu yang membebani hatimu, kan? Apa aku benar? Hmm? Jangan tanggung beban itu sendiri. Berbagilah denganku."
Oh, tangisku malah semakin jadi.
"Sekarang ceritakan kepadaku. Wajib! Aku suamimu, dan aku berhak tahu apa pun tentang istriku."
Tapi ini berat....
"Sayang?"
"Aku mencintaimu."
"Lo? Kok malah bilang cinta?"
"Aku sangat mencintaimu."
"Aku tahu. Aku juga sangat mencintaimu."
"Aku sangat mencintaimu, HansH. Sangat."
"Iya. Aku tahu, Sayang. Aku percaya."
"Aku tidak pernah berselingkuh darimu."
Praktis keningnya mengerut. "Kok malah membahas soal selingkuh? Kenapa kau--"
"Apa kau percaya?"
"Tunggu dulu, jawab dulu kenapa kau--"
"Aku setia padamu."
"Sayang--"
"Aku tidak pernah disentuh orang lain."
"Ya, aku percaya."
"Aku tidak pernah berselingkuh, sekali pun tidak pernah."
"Sayang, tenanglah. Kau jangan--"
"Apa kau percaya pada kesetiaanku?"
"Kenapa, sih, kau ini?"
"Jawab aku, apa kau percaya atas kesetiaanku?"
"Iya, aku percaya. Tapi kenapa kau--"
"Kau percaya kalau aku tidak pernah disentuh oleh pria lain?"
"Ssst...," HansH menaruh jemarinya di bibirku. "Tenang, ya? Diam dulu, oke?"
Aku mengangguk dengan derai air mata membasahi pipi.
"Dengar aku, Sayang. Aku percaya padamu. Aku percaya pada kesetiaanmu. Dan aku percaya kalau kau tidak pernah disentuh oleh pria lain. Oke? Aku sangat percaya kepadamu."
Aku mengangguk. "Lalu, tentang... tentang kesehatanmu. Kesuburanmu? Apa kau berbohong padaku?"
"Sayang...?" Lagi-lagi wajah tampan itu menyeringai, mungkin heran sekaligus agak kaget. Tapi suaranya tetap tenang.
Mungkinkah jika sekarang aku mengatakan kalau aku hamil, dia tidak akan menodongkan pistol ke kepalaku?
"Aku tidak bohong padamu."
"Jujur! Aku mohon jujurlah kepadaku."
"Aku sudah jujur."
"Tidak! Kau bohong!"
"Kenapa kau ini?"
"Kau sekadar tidak mau punya anak dariku, kan?"
"Bukan. Bukan begitu. Kau--"
"Jadi kau tidak mandul?"
HansH terdiam sejenak. "Kau kenapa?" tanyanya begitu ia buka suara kembali. "Aku tidak mengerti maksud... maksud pembicaraanmu ini. Apa? Kenapa? Ada apa denganmu?"
"Kau tidak mandul, kan?"
"Sayang...."
"Jawab saja."
"Itu fakta. Perlu kutunjakkan bukti?"
"HansH, bicaralah yang jujur. Aku mohon?"
"Baiklah." HansH berdiri. "Biar kutunjukkan buktinya."
Ya Tuhan... berjuta rasa mengaduk-aduk perutku. Jengkel, sebal, kesal, dan sejenisnya.
"Ini." HansH menunjukkan dokumen dari map yang tadi ia ambil dari dalam tas kerjanya. Ada beberapa lembar kertas, salinan laporan kesehatan HansH dari berbagai rumah sakit baik dari dalam negeri maupun dari rumah sakit luar negeri. Termasuk dari rumah sakit di Singapura dan Amerika. "Kau lihat yang ini, ini laporan terbaru yang kulakukan saat test DNA Malika," katanya sembari menunjukkan selembar berkas terbaru. "Aku sengaja melakukan test lagi karena kuharap hasilnya akan berbeda dari pemeriksaan-pemeriksaan yang sebelumnya. Aku membodohi diriku sendiri. Berharap ada keajaiban. Ada mukjizat. Tapi nyatanya apa? Hasilnya sama saja. Sekarang kau puas? Apa kau masih tetap tidak percaya kepadaku?"
Aku menatap lembar-lembar kertas itu dengan perasaan terluka -- luka lama yang semakin sakit dan semakin dalam. Semakin menganga. Pun efek dari kata-kata HansH yang bagaikan jarum-jarum tajam yang kian menancap lebih dalam. Hatiku perih.
"Sekarang jawab aku, ada apa denganmu?"
Aku menatapnya, kuenyahkah segala rasa takut yang menggelayuti benakku. "Aku hamil," kataku. "Demi Tuhan, anak siapa ini kalau bukan anakmu? Aku tidak pernah sekali pun berhubungan intim dengan pria lain. Tidak pernah."
Untuk sesaat reaksi HansH nampak terkejut, lebih tepatnya tidak percaya -- yang kuyakini ia bukanlah terkejut karena kehamilan itu, tetapi lebih ke: pernyataanku -- seolah ada pernyataan muncul di benaknya, kenapa istrinya mengatakan dirinya hamil?
Itu yang kutangkap dari sirat matanya, dari kebingungan yang jelas tergambar walau hanya sesaat.
Benar. Reaksi keterkejutan HansH atas pernyataanku tidak berlebihan, dan hanya sesaat saja. Reaksi yang membuatku heran. Sebab, di sana, di wajah tampan itu, sama sekali tidak kudapati kecurigaan: jangankan menodongkan pistol, jangankan menuduhku berselingkuh, dia bahkan tidak menunjukkan kepercayaan sedikit pun atas pernyataanku tentang kehamilan ini. HansH hanya mengatupkan bibirnya rapat-rapat, kemudian ia memejamkan mata sesaat sambil menghela napas dalam-dalam. "Kau tidak mungkin hamil, Sayang."
"Hansh!"
"Kau mengujinya dengan testpack?"
"Ya. Hasilnya positif!"
"Bukan hasil USG, kan?"
Aku menggeleng lemah.
"Sekarang dengarkan aku. Bukan berarti testpack itu muncul garis dua kau sudah pasti hamil. Belum tentu. Bukan berarti kau makan rujak berarti kau ngidam. Dan bukan berarti kau mual-mual, muntah dan tidak enak badan, itu bukan berarti kau sedang hamil. Itulah kenapa aku menyuruhmu memeriksakan diri ke dokter, supaya kita tahu kau sakit apa. Jadi kau tidak akan berasumsi seperti ini. Kau tidak akan menguji urine-mu dengan testpack. Dan kau tidak akan berharap seperti ini."
Melesak hatiku mendengar celotehan panjang itu. Air mata berderai kian deras. Namun aku tak bisa membantah sedikit pun. Aku tidak punya bukti konkrit selain testpack-ku yang bergaris dua berwarna merah.
Oh Tuhan....
"Begini saja. Nanti siang kita ke rumah sakit. Nanti kutemani, ya? Siang ini aku mesti ke kantor dulu. Ada meeting penting yang tidak bisa kutinggal. Tidak apa, kan?"
Aku mengangguk. Tapi belum sempat aku menjawab ajakan HansH, ponselku bergetar. Ada miscall dari Bibi Heera. Ternyata ia sudah mengirimkan pesan whatsapp sedari tadi.
》 Alisah, apa kau sudah menguji ulang kehamilanmu? Bagaimana hasilnya? Positif? Segera kabari Bibi bagaimana hasilnya, ya. Oke? Semoga ada kabar baik.
Ya Tuhan. Antusias sekali Bibi Heera. Tapi ini mustahil, kan? Bagaimana mungkin aku bisa hamil kalau HansH...? Tidak mungkin....
《 Hasil uji testpack-nya positif juga, Bi. Sama seperti yang kemarin. Tapi untuk memastikannya, nanti siang aku dan HansH akan ke rumah sakit untuk melakukan USG. Jadi jangan diumumkan dulu, ya, Bi. Tetap rahasiakan ini dulu dari semua orang.
》 Alhamdulillah. Semoga ini benar-benar kabar baik, ya, Sayang. Bibi doakan yang terbaik untuk kalian.
Tapi ini tidak mungkin, Bi. Tidak mungkin....
"Sayang, nanti siang kita jadi ke rumah sakit, kan? Supaya kita tahu kau sakit apa."
Oh... apa benar aku sakit, bukannya hamil...?