
"Apa kau percaya pada ramalan?" aku bertanya kepada HansH sewaktu aku menghidangkan menu santap sahur pertama kami sebagai pasangan suami istri, sedangkan HansH duduk santai di meja menikmati kopi panasnya.
Dia menggeleng. "Entahlah," sahutnya. "Kenapa memangnya? Kok tiba-tiba muncul topik soal ramalan?"
"Tidak apa-apa. Hanya bertanya saja."
Tapi HansH malah menatapku curiga. "O ya? Aku tidak percaya. Pasti ada alasannya, ya kan?"
"Kau ini. Ditanya malah balik bertanya," sungutku yang berjibaku dengan penggorengan.
HansH malah nyengir lebar sewaktu aku menoleh ke arahnya. "Kau masih ingat, kan, apa yang kukatakan sebelum kita tidur tadi? Aku suamimu," katanya, langsung menyingggung perihal status. "Jangan menyembunyikan apa pun dariku."
"Kenapa pembahasan kita jadi panjang?"
"Jawab saja kenapa?"
"Apanya?"
"Kenapa kau bertanya soal ramalan? Jangan bilang kau pergi meramal nasib?"
"Tidak. Mana mungkin." Aku kembali menoleh, menggeleng kuat-kuat. "Sungguh, aku tidak akan mengecewakanmu. Aku menghormati keyakinanmu sepenuhnya."
HansH masih menatapku dengan curiga. "Jadi?"
"Seseorang meramalku tanpa kuminta."
"Dan kau percaya?"
"Tidak tahu."
Aku kembali fokus pada ikan gorengku, meraih spatula dan merasa kematangannya sudah cukup lalu menyajikannya ke piring porselen.
HansH berdeham pelan. "Sebenarnya, mungkin di dunia ini memang ada orang yang memiliki kemampuan untuk melihat masa depan. Bisa saja, kan? Dan mungkin saja, bisa jadi apa yang dia lihat itu adalah hal yang benar-benar akan terjadi di masa mendatang. Tetapi, poin pentingnya adalah, apa yang diramalkan oleh seorang peramal itu, itu tidak boleh kita jadikan sebagai patokan bahwa itu pasti terjadi. Dalam artian, kita tidak boleh percaya sepenuhnya kepada si peramal itu. Anggap saja... emm... sebatas kemungkinan. Karena satu-satunya yang boleh kita percayai hanyalah sesuatu yang telah ditetapkan dan ditentukan oleh Sang Pemilik Kehidupan. Seperti kepercayaan kita tentang kiamat. Kita percaya kalau suatu saat itu benar-benar akan terjadi. Sebab, Tuhan yang berfirman. Tapi kalau soal ramalan manusia, jangan dipercayai sepenuhnya, apalagi mempercayainya dengan keimanan. Jangan, ya? Kau paham maksudku?"
Aku mengangguk, meski aku agak malas mendengarkan celotehannya yang terlalu panjang itu. Seperti sedang diceramahi. "Aku tidak bermaksud mempercayai si peramal seperti aku mempercayai Tuhan, yang kau bilang musrik tadi. Bukan seperti itu."
"Tapi...?"
"Tapi...."
"Memangnya apa yang peramal itu katakan?"
Aku tersenyum simpul. Kuletakkan ikan gorengku di depan HansH di meja makan. Lalu menyendokkan nasi ke piringnya. "Peramal itu bilang kalau aku akan segera memiliki anak."
HansH manggut-manggut, ekspresinya datar seolah dia sudah bisa menebak apa ramalan itu. Yang membuatku heran dia tidak tersenyum. Ekspresinya datar.
"Kau percaya pada ramalannya?"
"Ya, mungkin, siapa tahu."
"Musrik, Sayang."
"Ya, sih. Tapi bisa dianggap sebagai doa, kan? Apa kau tidak senang mendengarnya, atau paling tidak ucapkan aamiin?"
Kali ini dia mengangguk pelan. "Aamiin," sahutnya, dengan volume agak keras, kemudian mengambil sepotong ikan goreng, menambahkan perasan jeruk ke atasnya.
Dia mengangguk lagi. "Aamiin," dia mengulang. "Tapi tetap, hanya sebagai harapan baik. Jangan dijadikan sebagai keyakinan karena yakin pada peramal itu sama saja perbuatan musrik, oke?"
Aku balas mengangguk. "Aku tahu," kataku.
"Dan satu hal lagi," katanya hati-hati. Dia berdeham. "Semisal kau menjadikan ramalan itu sebagai harapan, namun takdir tidak seindah harapanmu itu, maka jangan menyalahkan siapa pun, termasuk menyalahkan dirimu sendiri, menyalahkan orang lain, peramal itu, apalagi menyalahkan Tuhan. Karena kau harus memiliki kesabaran yang luas, yang tidak terbatas. Jangan sampai kekecewaan membuatmu kehilangan iman. Kau memahami itu?"
Aku menyodorkan sesendok makaroni dan keju ke depan wajahnya dan dia memakannya. Dan, senyumanku sudah menjadi jawaban. "Menunya enak, kan?"
"Tentu saja. Kau selalu bisa memuaskan aku."
Eh? Aku mendelik sementara HansH tersenyum konyol.
"Aku serius. Aku puas."
"My HansH...," protesku.
"Sungguh, Sayang. Tapi...."
"Tapi apa?"
"Tidak ada yang seenak dan senikmat dirimu. Kau satu-satunya, yang ternikmat yang pernah kurasakan."
Hmm... kuhela napas dalam-dalam dan menurunkan ritsleting gaunku. "Mumpung masih ada waktu. Kau mau?"
"Tentu saja. Tapi nanti, setelah kita selesai makan."
Oh, kurasa aku dan dia sama-sama bercanda, tapi ternyata tidak. Sesudah piring-piring disingkirkan, HansH benar-benar menyambarku.
"Lupakan dulu cucian piringmu," bisiknya di telinga, lalu menarikku menyingkir dari wastafel. Dia memelukku, menciumi bibir, pipi, dan leherku, lalu memulai lagi dari awal. "Kita butuh ke kamar dan bisa langsung mandi setelahnya."
Well, kenapa tidak. Kami terus berciuman dan saling menggoda sambil berjalan hingga memasuki kamar tidur utama. Dengan pakaian bertebaran di lantai dan tubuh berkeringat, kami bercinta di pagi yang lembab itu.
Di kamar, HansH langsung menarikku ke tempat tidur, menindih dan menghimpit tubuhku di bawah tubuhnya yang kekar. Dan menatapku dalam-dalam. "Aku sangat mencintaimu," ucapnya, sepenuh hati, begitu dalam seolah itu bukanlah ucapan cinta yang biasa ia utarakan dan yang biasa kedengar. "Jadilah bidadari surgaku dalam setiap kehidupan."
Aku mengangguk. "Seperti yang pernah kau ucapkan kepadaku, aku juga menjanjikanmu selamanya. Bersamamu dalam setiap kehidupan."
Dengan satu gerakan penuh gaya, HansH menangkap tanganku dan mengangkatnya ke bibirnya. "Dan tidak hanya itu, aku menginginkan kehangatan cintamu di setiap waktu, dan kehangatanmu di setiap kali aku membutuhkanmu," jawabnya dramatis, menatap buku jariku lalu ke dalam mataku.
Aku menarik tanganku kembali, menekankannya di dada HansH dan seakan merasakan rasa takut yang ia rasakan, yang samar-samar kulihat dari kedua matanya. Tapi ada apa, dan kenapa? Aku tidak tahu apa sebabnya.
Tak dapat menahan diri, HansH kembali mengusap pipiku dengan tangannya. "Jadi... masih ada waktu sebelum subuh berkumandang. Mari, merasakan sensasi saat berkejaran dengan waktu."
Ah, konyol. Sekarang dia bermaksud mengajakku bermain-main di ranjang ini. Aku terkekeh.
Tiba-tiba, ia meluncur turun di tubuhku dan menguburkan wajahnya dalam lekukan merah jambu di antara tungkaiku. Kuat dan berat, mengisa* dalam-dalam melampaui batas. Tak pelak, dia membuatku mengeran* kuat dengan pinggul melengkung di atas ranjang.
"Aku bahagia sekali bercanda denganmu seperti ini," HansH berkata setelah kembali naik dan mensejajarkan diri denganku. Menindihku kembali dengan keseluruhan bobotnya. "Dan kau tahu," katanya pelan, nyaris berbisik di depan wajahku, "rasanya tidak akan mungkin sama jika bukan denganmu. Kau tak akan pernah terganti. Dalam seumur hidupku, aku ingin selalu sehangat ini denganmu. Sehangat... ini." HansH mengangkat sedikit tubuhnya, mengarahkan diri, dan... memasukiku perlahan. Menyatu... dan sempurna. "Sehangat ini," bisiknya kembali. "Kenang momen ini untuk seumur hidup kita, Alisah. Aku sangat mencintaimu."
Deg!
Ini terlalu dalam, dan aku sama sekali tak mampu mengartikannya.
Apa yang sebenarnya yang ingin HansH aku pahami? Sungguh aku tidak paham....